Jumat, 26 Juli 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniTajukJatim Totalitas Tangani Covid-19 Masa Mutasi

    Jatim Totalitas Tangani Covid-19 Masa Mutasi

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Pemerintah Provinsi Jawa Timur, benar-benar totalitas menyiapkan berbagai kemungkinan berkaitan dengan percepatan penanganan dan pengendalian, Corona
    Virus Disease 2019 (Covid-19). Berbagai langkah strategis terus dilakukan semaksimal mungkin.

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sabtu (26/12/2020) memperkuat penanganan pasien lebih bermutu dan profesional, mengubah kantor BPSDM Pemprov Jawa Tinur kembali digunakan untuk pasien Covid-19 menyusul naiknya kasus Covid di Jawa Timur.

    Beberapa waktu lalu, kantor BPSDM Jatim telah digunakan sebagai tempat isolasi dan ruang tunggu bagi masyarakat yang tengah menunggu hasil tes PCR hingga pasien Covid-19 yang berkategori ringan. Kali ini, gedung BPSDM Jatim, akan digunakan juga bagi pasien Covid-19 tanpa gejala klinis dan telah menjalani perawatan selama 10 hari.

    Dimana saat ini, pedoman Kemenkes RI menyebutkan bahwa pasien tanpa gejala cukup di isolasi 10 hari saja karena virus sudah tidak menular lagi setelah 10 hari.

    Sehari sebelumnya, Gubernur Khofifah bergerak cepat bersama Gugus Tugas Kuratif COVID-19 dan Dinkes Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kapasitas bed isolasi. Salah satunya, dengan menyiapkan 18 rumah sakit rujukan baru dan RS Darurat di Surabaya, Malang dan Jember. Dengan penambahan RS ini diharapkan akan mampu merelaksasi beban RS di Jawa Timur.

    Dengan adanya penambahan RS tersebut, Gubernur Khofifah, menambah RS Rujukan COVID-19 di Jatim menjadi 145 RS. Angka ini lebih dari 3x lipat jumlah RS Rujukan COVID-19 di Bulan Maret yang waktu itu hanya ada 44 RS rujukan.

    Dijelaskan, kapasitas dalam 145 RS Rujukan COVID-19 ini terdapat isolasi tekanan negatif dengan ventilator sebanyak 311 bed, isolasi tekanan negatif biasa sebanyak 2.416 bed isolasi biasa sebanyak 2.966 bed dan pengembangan 753 bed.

    National Centre for Infectious Disease, disebutkan bahwa beberapa pasien COVID-19 masih bisa memiliki hasil swab yang positif meski telah melewati 10 hari isolasi dan sudah tidak menular. NCID menyebutkan bahwa pada 5% pasien COVID-19, hasil swabnya masih bisa positif sampai lebih dari 33 hari dan 32% masih bisa positif sampai lebih dari 21 hari.

    Diketahui, kenaikan kasus positif, per 25 Desember 2020 sore, kasus positif konfirmasi di Jatim naik mencapai 79.207 dengan total kasus aktif yang masih dirawat sebanyak 6.002 pasien.

    Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kasus aktif yang masih dirawat di Jawa Barat yang mencapai 12. 470 pasien, DKI Jakarta mencapai 14.572 pasien, dan Jawa Tengah sebanyak 22.006 pasien.

    Adanya kenaikan kasus ini mengakibatkan BOR Rumah sakit di Jawa Timur mengalami peningkatan dari yang sebelumnya 35-45% di Bulan Oktober menjadi 60-70% di Bulan Desember.

    Diketahui, Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dan tim telah mengidentifikasi Whole Genome Sequencing (WGS) empat isolat dari Yogyakarta dan Jawa Tengah (Jateng) dan telah dipublikasikan di GISAID. Tiga di antaranya disebut mengandung mutasi D614G.

    Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr Gunadi, SpBA, PhD, mengatakan saat ini mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2 yang mempunyai daya infeksius 10 kali lebih tinggi telah tersebar hampir di seluruh pelosok dunia, sebanyak 77,5 persen dari total 92.090 isolat mengandung mutasi D614G. Sementara di Indonesia sendiri sudah dilaporkan sebanyak 9 dari 24 isolat yang dipublikasi di GISAID mengandung mutasi D614G.

    Terkait sebaran mutasi virus tersebut, Gunadi menyebut sampai hari ini varian VUI 202012/01 telah ditemukan pada 1.2 persen virus pada database GISAID, di mana 99 persen varian tersebut dideteksi di Inggris. Selain di Inggris, varian ini telah ditemukan di Irlandia, Perancis, Belanda, Denmark, Australia. Sedangkan di Asia baru ditemukan pada 3 kasus yaitu Singapura, Hong Kong dan Israel.

    “Mutasi ini diduga meningkatkan transmisi antar manusia sampai dengan 70 persen. Namun, mutasi ini belum terbukti lebih berbahaya/ganas. Demikian juga, mutasi ini belum terbukti mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang ada,” ucapnya.

    Sementara itu, untuk mengatasi kasus COVID-19 tanpa gejala dan gejala ringan, Gubernur Khofifah juga mempersiapkan format RS Darurat Lapangan yang telah terbukti sangat efektif menangani ribuan COVID-19 dengan nol angka kematian.

    Untuk di Malang, RS Darurat Lapangan ditempatkan Polkesma yang terletak di Jalan Ijen Boulevard. Sedangkan untuk di Jember, RS Paru Jember disiapkan sebagai RS khusus melayani pasien covid
    Sehingga total tambahan bed di RS Darurat mencapai 555 bed, yakni 150 di RS Darurat Lapangan Indrapura, 306 bed di RS Darurat Lapangan Idjen Boulevard dan 99 bed di RS Paru Jember. Dengan demikian, maka jumlah bed isolasi di Jawa Timur mencapai 7.001 bed baik di RS Darurat Lapangan maupun di RS Rujukan COVID-19.

    Meskipun kapasitas bed isolasi di RS Rujukan telah ditambah, Khofifah berharap supaya masyarakat semakin meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Mengingat penerapan protokol kesehatan yang ketat terbukti sangat efektif, termasuk pengendalian Covid-19 di Jatim.

    Upaya maksimal Pemprov Jatim, menujukkan kesungguhan bersama-sama memerangi Covid-19, dengan menggerakkan budaya baru di masyarakat 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer dan jaga jarak). Juga persiapan RS Rujukan dan RS Lapangan. “Man jadda Wajada” (barang siapa bersungguh-sungguh, maka akan berhasil)..(jt)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan