Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung Sigit Setyawan, didampingi Kepala Desa Winong Agus Satoto, dan Ketua LPM Heru Saifuddin, memukul gong menandai dibukanya Agrowisata edukasi sayur di Desa Winong,Kec. Kedungwaru, Tulungagung, Sabtu (5/12/2020) 

Agrowisata Edukasi Sayur Winong ini berada di kawasan Permukiman, pinggir kota, kabupaten Tulungagung. Tempat wisata baru tersebut  dikelola oleh Pemdes dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), lounching agro wisata dilakukan Kepala Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Kab.Tulungagung Sabtu (5/12/2020). Berikut laporan WartaTransparansi.com  Amin Istighfarin

Terpuruk lantaran kondisi Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat masyarakat Desa Winong Kec. Kedungwaru Tulungagung, untuk bangkit memperbaiki ekonomi rumah tangga dengan menciptakan usaha baru yakni Agro Wisata Edukasi Sayur.

Agrowisata Edukasi secara resmi dibuka untuk masyarakat umum oleh Kadis Pertanian & Ketahanan Pangan Pemkab Tulungagung Ir.Sigit Setyawan mewakili Bupati, dihadiri pejabat Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur dan perwakilan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) DPD Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (5/12/2020).

Tempat wisata sayur tersebut berdiri diatas pekarangan seluas 1,5 hektar. Semula adalah lahan kosong dan tandus. Namun setelah pekarangan mulai disentuh tangan tangan terampil LPM desa Winong, telah berubah menjadi sebuah kawasan hijau royo royo, sangat indah dan asri, serta menjadi lahan produktif yang menghasilkan ratusan ribu rupiah setiap harinya. Ekonomi wargapun berhasil didongkrak melalui agrowisata edukasi petik sayur ini.

Pekarangan milik warga sebelumnya adalah rawa rawa, telah tertanami puluhan jenis sayur kualitas bagus. Diantaranya seledri, selada, daun bawang dan sawi, kangkung, bunga kol, kobis, bayam, siomak, sawi pagoda, sawi dakota, bawang merah, terong, cabai, kacang panjang. labu madu, golden mama dan bayam batik. Lalu ada budidaya Lele dan Gurame.

“Bayam Merah yang siap panen dan gambar bawah kelompok wanita tani (KWT) desa Winong

Ditengah lahan sayur ada bunga seperti bunga mary gold dan bunga cengger ayam. Ini menambah indahnya Agrowisata Winong.

Ichwal pembangunan Agro wisata ini, sebagaimana diungkapkan penggagas dan pengelola, Heru Saifuddin, Ketua LPM Winong, bermula dari gagasan warungan (obrolan di warung) dengan beberapa orang, lalu ditingkatkan ke rembuk RT/RW, sampai akhirnya tercium oleh Pak Kades (Kepala Desa) Winong Agus Satoto, MSi.

Oleh Pak Agus Satoto, ditangkap sebagai peluang peningkatan ekonomi desa, kemudian rembukan diformalkan melalui rapat Pemdes dengan melibatkan semua unsur yang ada di Desa.  Rapat juga tidak cukup sekali, namun berkali kali.

Tanah itu statusnya menyewa kepada pemilik tanah, yang di fasilitasi oleh Pemdes dengan harga yang murah. Karena semangatnya bukan bisnis melainkan pemberdayaan masyarakat desa. Mungkin berbeda kalau itu dilakukan oleh pengembang yang orientasinya binis.

Pembangunan lahan diawali dengan meratakan tanah dengan mendatangkan bego, mendatangkan tanah uruk dengan melibatkan pekerja secara gotong royong. Ini memerlukan waktu sekitar dua bulan.

Sedangkan pembiayaanya mulai pengolahan tanahnya, sewa tanah, pekerja dan lain lain, “LPM menggandeng Perbankan. Kebetulan Bank Rakyat Indonesia (BRI) mau diajak kerjasama. Ini setelah ada campur tangan beberapa instansi pemerintah termasuk Komisi B DPRD Kab.Tulungagung.

Semangat Pak Kades ini sangat luar biasa. “Jadi antara LPM dan Pak Kades sudah se freqwensi,” ungkap Heru Saifuddin kepada wartatransparansi.com, saat peresmian.

“Hutang bank itu kan biasanya harus ada anggunannya, tapi disini tidak ada jaminan. Jaminannya ya Pak Kades dan LPM. Jadi Agro Wisata edukasi sayur ini benar benar usaha mandiri dan berjalan atas dasar kepercayaan saja.

Selain menggadeng Pemdes, LPM juga membentuk KWT (Kelompok Wanita Tani) desa Winong. KWT ini yang membudidayakan mulai mencari bibit sayur sampai menanam sayur dan sekaligus menjadi marketingnya.

Posisi LPM ini, sesuai semangat pendiriannya, sebagai pendampingan. tegas Heru, Kepala Sekolah SMP Swasta di Tulungagung bercerita.

Pembangunan agrowista dimulai pada 2 Oktober 2019. Nama awalnya adalah kebun sayur. Setelah pengurus LPM bertemu Pak Sigit, Kadis Pertanian Ketahanan Pangan Pemkab Tulungagung, oleh Pak Sigit namanya dirubah lebih mentereng  menjadi “Agrowisata Edukasi Sayur Mandiri Asri”.

Sejak itu Dinas Pertanian & Ketahan Pangan Pemkab, mulai terlibat di Agro Wisata dengan memberikan bantuan seperti benih dan bantuan teknis dan anggaran yang di kucurkan dalam beberapa tahap.

Agrowisata edukasi sayur desa Winong saat ini sudah menjadi jujukan masyarakat setiap hari, bukan hanya masyarakat Tulungagung sebagai tempat wisata, namun juga menjadi pasar sayur langsung petik Kebun. Bahkan menjadi wisata edukasi.

Lokasinya tak jauh dari kota Tulungagung, hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit saja.  Ketika masuk areal agrowisata, pemandangan pertama tertuju pada buah Labu yang bergelantungan. Tanaman Labu berada di mulut pintu masuk. Lalu. 50 meter melangkah kedepan, maka disitulah tanaman sayur sayuran siap dipetik.

Jadi, ini adalah kerja bareng lembaga lembaga di Desa seperti BPD, LPM, Kelompok Wanita Tani, PKK yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat Desa Winong.

Wasek DPD LPM Jatim Fatchurahman (atas) dan istri Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tulungagung ketika petik labu

Konsep Wisata Petik Sayur

Heru Saifuddin, menjelaskan semua sayur yang ada di area Demplot boleh di petik dan di beli langsung oleh pengunjung di lokasi. Dengan standar penanaman Organik. Kita kembangkan juga pola penananam yang memanfaatkan bahan bahan bekas rumah tangga.

Seperti pot serabut kelapa,  pot botol minuman mineral,  media tanam sterefoam bekas dll. Konsepnya adalah Wisata petik sayur.

Karena komitmen dan ‘Motto’ Agrowisata Edukasi Sayur Winong Asri adalah “menanam mudah, murah dan menghasilkan”.

Saat ini Agrowisata sayur mandiri asri sudah menghasilkan sayur siap jual. Setiap harinya KWT sudah bisa menjual sayur minimal 50 kg ke restourant di Kota Tulungagung. Resto itu menampung hasil sayur kita. Tapi masyarakat desa juga bisa membeli disini.

LPM juga membina petani rumahan. Ini untuk mendukung agro wisata manakala terjadi kekurangan pasokan ke Resto.

Lalu berapa tiket masuknya, Heru Saifuddin menjelaskan sangat murah yakni cukup Rp2000/orang. Biarlah segitu, yang penting masyarakaat mau datang dan bisa petik sayurnya.

Hal senada juga diungkapkan Kades Winoing Agus Satoto. Menurutnya, agrowisata ini harapannya menjadi media pembelajaran langsung bagi warga desa Winong.

Prosesnya memang berliku liku. Tapi alhamdulillah akhirnya bisa diresmikan. Pembangunannya dimulai pada tanggal 2 Oktober 2019 dan hari ini Sabtu (5/12/2020) resmi dibuka untuk pengunjung sebagai tempat wisata petik sayur.

“LPM sebagai penggeraknya dan Pemdes medukung penuh dengan berbagai fasilitas yang diberikan,” ujar Kepala Desa Winong Agus Satoto.

Agrowosata ini merupakan pengembangan dari Program Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Pekarangan Pangan Lestari(P2L) Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan. Tujuan utamanaya adalah meningkatkan ekonomi dan edukasi warga warga Winong.

Bak gayung bersambut ternyata gagasan ini mendapat sambutan positif dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung maupun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, kata Pak Kades.

Dengan proses kerjasama harmonis yang di kawal LPM dengan dukungan penuh dari pemdes Winong, BPD, PKK, Karang Taruna, RT dan RW dan semua pihak dan pelaku di desa, desa ini menjadi sangat hidup. Paling tidak sekitar areal kebun ini, kebiasaan warga menjadi berubah. Warga menjadi hidup lebih bersih, mau menata lingkungannya menjadi ramah lingkungan.

Agus Satoto menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu terutama Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Pemkab Tulungagung serta Komisi B DPRD Kab Tulungagung sehingga perbankan ikut mensuppport..

Sigit Setyawan, Kepala Dinas Ketahanan  Pangan Kabupaten Tulungagung, berharap taman Agrowisata ini bisa terus bertahan dan berkembang makin luas.

“Biasanya, kalau membangun, membuat atau mengawali itu mudah. Tetapi yang sulit itu menpertahankan dan mengembangkan,” kata Sigit Setyawan.

Pemkab melalui Dinas memberikan perhatian besar terhadap Agrowisata Winong. Tempat semacam ini di Tulungagung jumlahnya sangat banyak. Tapi Agro Wisata Winong menjadi urutan ketiga prioritas Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Kabupaten.

Bantuan yang diberikan berupa bantuan program yang sudah di salurkan pada tahun 2019 yaitu Program KRPL APBD 2, lalu pada tahun 2020 berupa program P2L APBN, Program P2L APBD, bantuan permodalan sembako APBD.

Progessing

Setelah peresmian hari ini, LPM segera melakukan penambahan pengerjaan fisik pengembangan lahan “Agrowisata dan edukasi Mina Padi” dengan kolam pemancingan ikan lele, nila dan Gurami. Lokasinya tetap berada di areal agro wisata edukasi sayur. Ini agar pengunjung bisa berlama lama disini.

Penyiapan wahana wisata Kuliner menjadi terintegrasi yang bisa menambah ketrampilan SDM dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

Dan di pengembangan tahun berikutnya Insyaallah akan kita set plan pengembangan di sepanjang bantaran Sungai Ngrowo dengan konsep Fasilitas olah raga publik berupa jogging track,  alat olah raga ringan, digital library dll

Dengan konsep Desa sehat dan berdaya dengan program Griya Sehat dan konsultasi kesehatan kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kab Tulungagung. (*)