Sabtu, 22 Juni 2024
27 C
Surabaya
More
    OpiniPojok TransparansiMenandai Musibah Merawati Hati

    Menandai Musibah Merawati Hati

    Oleh Dr. H. M. Mudjib Musta’in, S.H.,M.Si

    Entah bosan atawa tidak kita mendengar berita tentang Covid. Faktanya tanpa kita minta ternyata Covid kerasan pelesiran di Indoensia. Ada yang takut, stress, galau bahkan egois ingin aman dan selamat. Ada juga yang tenang, tawakal dan santai. Apapun keadaan masyarakat Pemerintah tetap membuat himbauan agar masyarakat taat protokoler tetap bermasker, tetap jaga jarak fisik, tetap sering cuci tangan.

    Dan, sekarang sudah tidak diperlukan lagi rapid test buat perjalanan laut darat dan udara. Sudah ada pelonggaran menuju kenormalan meski agak terasa setengah hati. Apakah himbauan pemerintah cespleng dan andai kita taat melaksanakan kita akan lepas bebas dari wabah yang telah membersamai ketakutan kita selama ini?

    Sampai saat ini, musibah ini belum ada yang mengatakan selesai. Saya yakin jika Allah berkehendak musibah ini selesai maka yakin selesai. Namun selesai apa tidak tetap saja ada banyak hikmah dan pembelajaran dari musibah ini. Bagi saya hikmah yang saya rasakan adalah semakin harus bisa olah rasa hati lebih mendalam, bukan hanya olah otak semata.

    Dalam perjalanan hidup kita menuju Allah meluber kejadian di dunia ini yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hikmah, sebagai tanda agar kita cepat sadar diri dan luluh hati. Akhirnya menjadi dekat dengan Allah.
    Umpamane?

    Mantapkan Hati
    Ada yang krenteg dalam hati dan bertanya mengapa ada wabah, mengapa Tuhan membuat susah, membuat sengsara bahkan membuat manusia tambah suntuk? Kita jangan lupa bahwa sesungguhnya semua musibah yang terjadi di bumi ini Allah pasti pirso.

    Artinya: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. 64:11)
    Gustialah tidak butuh apapun. Kita yang butuh pada-Nya. Sebisanya kita selalu berusaha dengan cara yang baik dan benar agar bisa sampai pada-Nya. Untuk bisa sampai pada-Nya harus lebih melatih menggunakan rasa, menggunakan hati.

    Kutipan ayat ada kata artinya adalah hati (Hatta, Ahmad. 2010). Hati ini memiliki peran penting sebagia sub penghubung dengan organ-organ tubuh manusia. Hati adalah pengendali terdepan yang setiap anggota tubuh berada di bawah kekuasaannya.
    Nabi saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).

    Pengelompokan Hati Manusia
    Hawwa Said (2006:118) Hati manusia yang sederhana terbagi menjadi tiga:
    Pertama. Qalbun Shahih.
    Hati yang sehat dan bersih dari setiap nafsu, hati yang taat, hati yang tidak pernah menentang perintah Allah.
    Ciri-ciri Qalbun Shahih.
    Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju alam akhirat.
    Jika tidak berwirid atau melakukan peribadatan lain, hati berasa sakit nyeri dan gundah gulana. Melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangan.
    Hati senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah. Yahya bin Mu’adz berkata: “Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah, maka segalasesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tenteram dan puas dengan Allah maka orang lain tenteram pula ketika melihat dirinya”.
    Tujuan hidup hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bila sedang sholat sirnalah semua kegundahan dan kesusahan.
    Menghargai waktu melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga harta.
    Tidak pernah lelah mengingat Allah. Di saat susah maupun bahagia.

    Kedua. Qalbun Mayyit
    Hati mati merupakan hati yang tidak pernah mau mengenal Allah. Hati jenis ini jika diseru, dinasehati agar ingat kepada Allah selalu menolak, melawan bahkan berontak. Penolakan bisa terlihat dari ucapan, mimik wajah dan gerakan tubuh sehingga pemilik hati ini ketika diajak pada kebaikan tidak pernah mau. Allah akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman (baca al- Baqarah:17-18). Ciri-ciri hati mati adalah kebalikan dari 7 ciri pada hati yang sehat.

    Ketiga, Qalbun Maridl
    Qalbun Maridl merupakan hati yang sakit. Hati sakit ini sebenarnya memiliki kehidupan, namun didalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa hasud, sirik, iri, congkak, dan dengki. Hati yang sedang sakit akan mudah menjadi lebih parah apabila tidak diobati dengan hikmah. Allah berfirman: “Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya.” (baca al-Hajj 49:53).
    Ciri-ciri Qalbun Maridl. Bisa saja saat hati manusia yang sedang sakit tanpa disadari pemilik hati sebenarnya telah mati. Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah tidak merasa empati sedih, dan menyesal oleh goresan kemaksiatan, Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi:

    Artinya: Dalam hati mereka terdapat penyakit ada keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran. Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendak. Kebenaran di lihat dari sisi lain yang terasa akan selalu merugikan dirinya. sehingga dalam kondisi seperti ini pemilik hati lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.

    E. Penyebab Hati Sakit
    Penyebab timbulnya penyakit di hati cenderung dikarenakan banyak fitnah yang selalu dibidikkan pada hati. Fitnah-fitnah tersebut salah satunya berupa: fitnah syahwat, reaksinya amat keras sampai dapat memburamrancukan niat dan iradat (kehendak) seseorang juga fitnah syubhat (keragu-raguan) yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan)

    Racun Hati
    Setiap syahwat kemaksiatan adalah racun perusak kesucian hati. Racun-racun hati yang paling banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi kelangsungan hidup hati setidakmya ada empat macam yaitu:
    1. Berlebihan Dalam Berbicara
    Banyak berbicara yang tidak penting tidak baik apalagi tidak benar adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda Rasulullah : ”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar). Umar bin Khattab ra pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”
    Ketika Rasullulah mengatakan sebaiknya jangan banyak bicara atau berbicaralah yang baik dan benar tentunya kalau tidak bisa maka diam lebih baik. Mencermati kelakuan manusia abad 20 dapat saya merasai yang terjadi saat ini betapa telah banyak manusia berbicara bermodal lidah tenggorokan dan tidak ahlinya.
    Marilah kita melakukan hal remeh dalam hidup kita dengan memulai sedikit bicara selain yang diperlukan. Mulai lebih banyak berdikir ingat Allah. Setidaknya dilatih agar bisa berpikir dahulu, cermat ketika akan bicara. Bukan hanya bicara dengan lisan tapi komentar di Sosmed juga semiotik dengan bicara.
    Jangan bicara kebohongan hanya demi menyenangkan orang lain atau agar diri sendiri selamat. Jangan bicara kalau tidak faham, jangan suka membicarakan orang lain, jangan suka membicarakan atau mengeluhkan takdir pada orang yang tidak berilmu. Sehingga diri tanpa sadar bicara menyalahkan Allah. Maka tanda yang terjadi saat Allah memberikan tanda bagi orang yang mau melihat mencermati jangan banyak bicara maka BERMASKERLAH!

    2. Berlebihan Dalam Makan
    Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah. Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan berakibat sebaliknya.
    Dari Miqdam bin Ma’di Karib bahwa ia mendengar rasulullah saw bersabda: “Anak Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”(HR. Ahmad dan Tirmidzi).
    Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada Sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.
    Ibrahim bin Adham berkata: ”Barangsiapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu pula mengendalikan agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak makan berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak- akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar (yang mampu menahan syahwat perutnya)”. (Ahyar, Thowil. 1992)
    Manusia dengan jiwa yang serakah dan tamak apa saja dapat dimakan. Memakan harta yang bukan haknya, memakan uang milik orang lain, memakan harga diri sendiri bahkan memakann agama demi menggapai kehebatan. Menjadi hebat dan terpandang memiliki banyak pengagum betapa membanggakan bagi sebagian manusia. Tanpa terasa darah telah berwarna hitam karena banyak dosa, jiwa tergadai maksiat. Mari kita muhasabah, kita kurangi kekotoran jiwa ini dengan memakai sabun taubat dan CUCI TANGANLAH

    3. Berlebihan Dalam Bergaul
    Berlebihan dalam pergaulan dapat mendatangkan kerugian di dunia dan di akhirat. Seyogyanya bagi kita dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan. Usahakan untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter manusia dalam pergaulan. Karakter sederhana manusia ada empat golongan:
    Orang hebat. Terhadap orang yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya, laksana kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman, kita tidak dapat lepas darinya dalam sehari semalam dunia akhirat. Teman karib penggembira saat susah, santun dalam berujar, berahlak karimah dalam ucapan dan Tindakan. Andai baru saja berpisah maka akan muncul kangen, karena bertemu teman karib dapat mengingati kita pada Allah. Mereka itu adalah orang hebat yang memiliki cakrawala pengetahuan luas tentang ilmu iman islam ihsan, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit hati.
    Orang penting. Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya seperti kebutuhan kita akan obat, Kita mengharapkannya dikala kita sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat maka mereka tidak kita butuhkan lagi. mereka ini adalah dari orang yang kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan kehidupan dunia, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.
    Orang berpenyakit. Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya seperti penyakit. Golongan ini terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan, bergantung pada intesitasnya terhadap jiwa kita. Di antara mereka ada yang bersifat individualis, materialistis dan egoistis. Jika bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak dalam menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mau bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai diri kita terbawa oleh pengaruh kepribadiannya, karena akan merugikan kita dalam hal dunia dan akhirat. Oleh karena itu sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah didekati seperlunya saat tertentu dengan niat agar bisa diberi nasehat menjadi sembuh baik dan benar.
    Orang bahaya. Terhadap orang yang bila kita bergaul dengannya akan membawa kefatalan, sebab ia laksana ular berbisa. Dan kita bukan penjinak ular berbisa. Andaikan kita sampai terkena patuknya, kemudian kita berhasil menemukan penawarnya maka selamatlah kita, tetapi jika tidak, inilah bencana bagi kita. Golongan ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah orang yang suka melihat orang susah, sedih melihat orang senang. Yang dibicarakan hanya urusan maksiat, syahwat duniawi, males diajak beribadah, pembawaannya pelit diajak mencari pahala. Bagi orang yang berakal dan punya hati sebaiknya agak menjauh dan seolah acuh. Tapi dalam hati harus selalu berdoa semoga orang bahaya itu diberi hidayah Allah menjadi baik (Haddad. 1986:227). Hati kita sekali-sekali jangan pernah dilatih untuk berbusuk sangka kepada mahluk apapun. Segera ingat Allah beristigfar dan jaga jarak dengan kejahatan maka segera lakukan PHYSICAL DISTANCING…..
    Hati merupakan barang amanah dari Allah yang luar biasa. Hanya bisa dilatih oleh hikmah kebiasaan yang luar biasa. Lahir batin tidak kenal lelah, malas dalam meraih hasil agar dekat dengan Allah. Hati pemberian Allah ini harus selalu dilatih agar sensitif memiiliki sifat yang lembut karena betapa Allah maha lembut.

    Khotimah
    Allah mengingatkan mahluknya melalui hal remeh tapi sebenarnya luar biasa. Jikahanya mengandalkan akal lumayan sulit membaca suatu isyarat dari Allah yang penuh
    kelembutan. Maka mulailah meraba hati dengan kelembutan bahwa sesugguhnya Allah memberi isyarat jangan banyak bicara selain dikir pada Allah maka BERMASKERLAH
    Allah memberi isyarat jangan banyak makan barang haram maka segera bertaubat dan mulai CUCI TANGAN .
    Allah memberi isyarat jangan berkumpul orang yang membahayakan karena gemar maksiat maka cepat PHYSICAL DISTANCING.
    Segera lakukan hal baik, benar dan disukai Allah. Karena Allah punya utusan yang tidak pernah kita undang dan bisa datang kapanpun. Pertama, tamu bernama Mati. Kedua, tamu bernama Rejeki dan ketiga tamu bernama Berkah. Maka bersiaplah lahir batin wahai
    Sarjana dan Pasca Sarjana Undar !!! Semoga Allah selalu memberkahi kita. Amiin YRA. (*)

    (Oleh Dr. H. M. Mudjib Musta’in, S.H.,M.Si – Dosen Tasawuf Pascasarjana Magister Ilmu Agama Universitas Darul ‘Ulum Jombang)

     

    Penulis : Dr. H. M. Mudjib Musta’in, S.H.,M.Si

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan