MADIUN (WartaTransparansi.com) – Bagaimana jadinya manakala seni bela diri pencak silat diimplementasikan secara pointilisme, menjadi lembaran kain bermotif batik nan indah menawan hati. Kian mempesona saja kiranya, jika seni musik tradisional ‘Dongkrek’ turut mewarnai mozaik batik tersebut.

Kedua jenis kultur kesenian tersebut, pencak silat dengan sebutan lengkap Pencak Silat Setia Hati dan seni musik Dongkrek, merupakan aset budaya khas yang lahir di bumi Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Dengan berbagai cara dan upaya, pemerintah daerah setempat berusaha mempertahankan kekayaan olah karsa dan budaya moyangnya itu. Hingga, belum lama ini, tercetuslah sebuah media yang dianggap paling tepat guna melestarikan kedua kebudayaan tersebut.

Sementara tangan tangan lembut puluhan pengrajin batik lokal, menyambut gagasan pemerintah daerah setempat. Sentuhan canting pun segera menggores hamparan kain, hingga terwujud lembaran batik Madiun dengan motif khas Pendekar dan Dongkrek.

“Soal kegiatan pengrajin batik memang sudah lama. Namun saat itu belum memiliki kekhasan, sehingga sulit berkembang. Baru setelah memasukkan unsur pendekar dan alat musik dongkrek sebagai motifnya, kini mulai bergairah,” ungkap Drs. Indra Setyawan, Kepala Dinas Perdagkop dan UM Kabupaten Madiun, kepada jurnalis, Senin (16/ 11).

Indra Setyawan mengungkapkan hal itu saat menyempatkan diri meninjau Pelatihan Keterampilan Desain Batik, yang diselenggarakan dinas yang dipimpinnya, berlangsung di aula rumah makan Caruban.

Tak kurang 30 pengrajin dari berbagai kecamatan di Madiun antusias mengikutinya. Dipandu pemateri praktisi batik asal Jogjakarta, Nur Ahmadi, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti Rizky, peserta termuda usia 19 tahun, asal Kecamatan Pilang Kenceng.

“Tentu saya tak menyia nyiakan kesempatan ini. Terlebih orientasinya adalah menyelamatkan dan mempertahankan kebudayaan lokal, tempat saya lahir dan besar. Selain itu, program ini juga memiliki aspek ekonomis yaitu mengembangkan kemampuan membatik. Yang jika hebat dan digemari konsumen maka dagangan laris,” ungkap Rizky.

Sementara Nur Ahmadi memberikan ulasan teori dan praktek, meliputi pembuatan pola baju dan desain minimalis, sampai membatik, pewarnaan dan penghilangan lilin dalam proses membatik.

Sebagai out put produksi batik, yakni menyangkut pemasaran, Indra Setyawan merencanakan berdirinya koperasi. Lembaga itu, menurutnya, akan menampung anggota dari berbagai macam pengrajin lokal, guna memasarkan hasil produksinya.

“Sehingga konsumen nantinya tidak lagi kesulitan mencari batik khas Madiun. Meskipun, terkait pemasaran sebenarnya kami juga sudah membuka portal online,” cetus Indra Setyawan.

Sementara menurut Bagas, konsumen lokal, yang mengaku gandrung akan motif batik khas Madiun, menilai batik Madiun berciri khas motif pesilat dan alat musik Dongkrek itu bisa diadu dengan bermacam batik yang lahir jauh lebih dulu dari kota lain.

Kombinasi warna, lanjutnya, juga menawan hati dengan goresan Pesilat dan Dongkrek yang tidak mungkin ditemulan pada motif batik dari kota manapun.

Kombinasi warna dengan muatan budaya khas Madiun, dinilai Ahmad Supriyanto, warga Madiun yang juga pengagum batik, sebagai daya pesonanya.

Dari pengakuan berbagai konsumen terungkapkan, perpaduan psikologis warna dengan unsur kebudayaan lokal membuktikan batik khas Madiun ‘pandai mencuri hati’ konsumen.

Konsep itu yang akhirnya menginspirasi Sri Lestari, salah satu pengrajin batik, asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Sawahan, untuk terus mengoptimalkan usahanya.

Tujuh tahun silam, hanya dengan modal Rp. 500 ribu, Sri Lestari memulai usahanya bidang membatik. Awalnya timbul tenggelam lantaran belum menemukan ciri khas pada batik buatannya.

Namun setelah terpaten konsep batik dengan ciri khas ke Madiun an, usahanya mulai dirasakan meningkat. “Alhamdulilah saat ini saya sudah mempunyai 12 karyawan. Kami menjual per lembar batik seharga maksimal Rp 300 ribu. Cukup banyak yang memesan,” ucapnya. (fin)