Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh : Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi Transparansi

Alhamdulillah Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lebih fokus pada pengawasan perkantoran dan tetap membuka Pasar dan Mal, dengan protokol kesehatan.

Gubernur Anies dengan didampingi Satuan Tugas Pengendalian dan Penanganan Covid-19, serta Forpimda DKI Jakarta, Minggu (13/9/2020) siang, di Balai Kota Jakarta, dalam jumpa pers memberi penjelasan secara detail perubahan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 tahun 2020 menjadi Pergub Nomor 88 tahun 2020 tentang PSBB, dengan memberikan kelonggaran untuk kegiatan esensial, seperti kegiatan logistik, perhotelan, perbankan dan pembayaran keuangan, perkantoran dengan menyesuaikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penekanan Gubernur Anies, agar warga Jakarta lebih memilih tinggal di rumah selama PSBB (dari 14-28 September 2020), jika tidak ada kepentingan mendesak dan sangat esensial. Sehingga diminta tetap tinggal di rumah atau berada di rumah; belajar di rumah, aktifitas di rumah, bekerja di rumah, dan ibadah di rumah.

PSBB Jakarta kali ini lebih “Kompromoni”, lebih menghargai Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2020. Dimana dalam pembatasan berkaitan dengan roda ekonomi dan kegiatan berbau aktifitas ekonomi, tetap diberi kelonggaran. Sementara berkaitan dengan pendidikan, peribadatan, wisata, restaurant dan hiburan, aktifitas olahraga prestasi dan maupun olahraga masyarkat, sangat ketat dibatasi.

Hal ini sebagaimana penjelasan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Drs Nana Sudjana dalam konferensi pers bahwa menindaklanjuti PSBB di wilayah Jakarta, akan melakukan “Operasi Yustisi”.

Kapolda menyatakan sesuai dengan perintah Kapolri dan melanjutkan instruksi Presiden, maka selain melakukan edukasi dan sosialisasi terkait PSBB, lebih tegas akan melaksanakan Operasi Yustisi.

Operasi Yustisi, akan dilakukan bersama-sama Pemda, Kehakiman, TNI, dalam rangka penertiban kembali, agar masyarakat lebih disiplin untuk mematuhi protokol kesehatan. Hal itu sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Salah satu pertimbangan PSBB dilaksanakan, tetapi lebih kompromi di Jakarta, mengingat perkembangan penyebaran Covid-19 khususnya di wilayah Jakarta, masih mengkhawatirkan, sehingga perlu pendisiplinan. Operasi Yustisi mulai dilakukan besok, Senin (14/9/2020), tetap secara humanis, persuasif, sarta tetap tegas.

Sebab, langkah-langkah itu, Operasi Yustisi, semata-mata untuk mencegah masyarakat tertular atau terinfeksi virus Corona. Oleh karena itu, jajaran Polda Metro akan memaksimalkan.

PSBB lebih kompromi ini, juga didukung
Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurrahman, saat konferensi pers bahwa pada dasarnya TNI siap membantu Polri dan Pemerintah Daerah, dalam rangka mengeterapkan PSBB mulai Senin, 11 September 2020.

Pihak TNI akan melibatkan komunitas masyarakat, bersama-sama bertanggung jawab, agar penyebar Covid-19 di Jakarta, setiap hari akan menurun. Dan ketegasan tetap diutamakan, tetapi persuasif dan humanis.

Jumpa pers seluruh kekuatan ini, Kajati DKI Jakarta, Asri Agung Putra, mendukung penegakan hukum bagi yang melanggar dalam PSBB, terutama berkaitan dengan kejahatan nyata, termasuk mengambil paksa jenazah Covid-19

Sebagaimana prinsip PSBB, harus bisa berjalan efektif, bahwa untuk itu harus melaksnakan ketentuan Pergub 88 itu apa adanya. Tentu langkah pertama persuasif, dan meyakini warga Jakarta waspada.

Wiku Adisasmito, Jubir Satgas Covid-19 Pusat,
bahwa PSBB Jakarta sudah melalui proses sesuai ketentuan; prakondisi, waktu, prioritas, koordinasi pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan Satgas Covid-19 pusat dan daerah, serta monitoring dan evaluasi.

Jubir Wiku Adisasmito, mempertegas bahwa PSBB Jakarta dengan harapan kasus positif Corona bisa terkendali, penularan virus Corona bisa dicegah, ekonomi dan budaya tetap berjalan dengan disiplin tinggi dan protokol kesehatan Sehingga terjadi keseimbangan dan masyarakat bisa menjalankan kebiasaan baru. Juga menjaga keselamatan petugas kesehatan terjaga dengan baik.

PSBB “Kompromi” di Jakarta, sebagai Gubernur Anies menutup bahwa InsyaAllah sama-sama dijalani dengan disiplin. Bahwa terkait kerukunan masyarakat ditetapkan ada pembatasan tidak boleh lebih dari 5 orang.

PSBB “Kompromi” tidak totalitas seperti, periode pertama dimana semua aktifitas “berhenti total”, tetapi pembatasan sekarang lebih kompromi hanya pada perkantoran dan aktifitas non-ekonomi budaya. Itupun masih bisa kompromi sepanjang disiplin dan mengeterapkan 3M (memakai masker, mencicipi tangan dan menjaga jarak). Apalagi menambah dengan menjaga kebesihan lingkungan, perkantoran dan rumah.

Pasar, Mal, kendaraan umum, kendaraan pribadi juga sama tetap jaga protokol kesehatan, hanya mengisi kapasitas dengan 50 %, bahkan begitu yakin Gubernur Anies menyatakan,
InsyaAllah melewati masa menantang ini, dijalani dengan keteguhan dan kedisiplinan. Mengingat Allah SWT menugaskan menghadapi wabah dan pandemi ini sesuai kemampuan.

Gubernur Anies mengajak warga berdoa menambah doa untuk keselamatan.
Doa agar wabah ini segera diangkat, hal itu dengan Ikhtiyar semua dengan arah yang sama. Memotong mata rantai Covid-19

Prinsip PSBB sebagaimana penegasan Gubernur Anies, “Berada di rumah mengurangi kepergian, belajar di rumah, beribadah di rumah, bekerja di rumah aktifitas di rumah”.

Semua penjelasan saat Jumpa pers di Balai Kota Jakarta, ialah menjalankan PSBB dengan sungguh-sungguh. Tetapi tidak seperti dulu, tidak menutup semua aktifitas, seperti “Jakarta Gang Buntu”, tidak menutup aktifitas roda ekonomi dan budaya, tidak menghentikan kendaraan bermotor, dan masih membolehkan berbagai aktifitas sesuai Pergub. Itulah PSBB “Kompromi”.

Lebih hebat supaya tetap menjalankan Inpres 6 tahun 2020, juga Pergub 79 tahun 2020, menindaklanjuti Inpres di atas, maka Kepolisian bersama TNI, Kehakiman, Pemda dan masyarakat melakukan “Operasi Yustisi”. Inilah PSBB bernafas Inpres. Luar Biasa!!!. Jakarta PSBB, tetapi Jakarta bukan Gang Buntu. Jakarta tetap ibukota negara. Jakarta tetap bergerak bersahaja. (@)