Kamis, 29 Februari 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniTajukResesi = Resep Selesaikan Sendiri

    Resesi = Resep Selesaikan Sendiri

    Oleh : Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi  WartaTransparansi

    (Pengalaman PSBB Kaku, Ubah dengan Kebijakan Lentur)

    Resesi secara makro karena pertumbuhan ekonomi mengalami minus, tinggal menunggu waktu. Itu setelah sejumlah negara maju dan negara berkembang menyatakan resesi.

    Sinyal resesi di Indonesia diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Panjaitan, dan Menkopolhukam Mahfud MD.

    Namun, walaupun Indonesia dilanda resesi ekonomi tidak akan membuat krisis ekonomi. Bahkan
    meminta masyarakat tidak cemas dengan ancaman resesi ekonomi.

    Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun berharap pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV bisa mulai pulih. Paling tidak mendekati 0%. Sehingga pertumbuhan ekonomi nasional ada keseimbangan, setelah terpuruk akibat terdampak pandemi virus Corona.

    Isu resesi ekonomi pada 2020 melanda negara maju maupun negara dalam proses menuju maju dan modern, sama-sama mengalami krisis akibat pandemi Covid-19.

    Inggris mengonfirmasi masuk dalam jurang resesi dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 negatif hingga 20,4 persen. Sementara itu, negara yang selamat dari ancaman resesi adalah China. China sempat terkontraksi 6,8 persen pada kuartal I 2020 sejak pandemi Covid-19 menyerangnya di akhir 2019.

    Namun pertumbuhan ekonomi kembali menyentuh angka positif 3,2 persen pada kuartal II 2020, meski Negeri Tirai Bambu ini tak berani menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020.

    Amerika Serikat, Jerman, Hong Kong, Korea Selatan, dan
    Filipina mengalami Pertumbuhan Ekonomi Minus 16,5 Persen

    Di Indonesia dalam catatan pernah mengalami resesi ekonomi pada tahun 1998 terjadi pada masa pemerintahan Soeharto. Bahkan, peristiwa ini juga disebut-sebut menjadi penyebab utama tumbangnya masa Orde Baru setelah berkuasa selama 32 tahun.

    Baca juga :  Hak Angket, Hak Angka, Hak Angkat 

    Tercatat sebagai krisis ekonomi terparah di Asia Tenggara, resesi ekonomi Indonesia menimbulkan sejumlah dampak negatif bagi bangsa. Berawal dari krisis nilai tukar mata uang Thailand (Baht) kemudian melesat menjadi krisis di Asia Tenggara.

    Membengkaknya utang negara dalam bentuk valuta asing menjadi salah satu pemicu yang memperparah resesi ekonomi Indonesia. Mulai dari utang pemerintah, BUMN hingga perusahaan swasta.

    Utang negara per Maret 1998 mencapai 138 miliar dollar AS, di mana 72,5 miliar dollar di antaranya adalah utang swasta. Dua pertiga dari 72,5 dollar berjangka pendek. Dan 20 miliar dollar AS harus dibayar di tahun 1998.

    Hal ini menyebabkan nilai Rupiah turun menjadi Rp 4.850/dollar AS pada tahun 1997. Sementara itu, lebih dari 70 persen perusahaan yang tercatat di pasar modal, bangkrut. Akibatnya, jumlah pengangguran bertambah dan garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk.

    Resesi tahun ini, Amerika Serikat sebagai negara
    adidaya, tidak berdaya melawan dampak pandemi virus Corona, setelah perekonomiannya terkontraksi atau minus 32,9 persen pada kuartal II 2020. Dengan kondisi itu Negeri Paman Sam resmi masuk ke jurang resesi karena kuartal I 2020 pun tercatat tumbuh minus 5 persen.

    Kondisi ini menempatkan AS ke ekonomi terburuk sejak 1947. Penurunan ekonomi ini disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang turun 34,6 persen secara tahunan.

    Baca juga :  Hak Angket, Hak Angka, Hak Angkat 

    Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi. Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).

    Kolumnis Sidney J. Harris membedakan istilah-istilah atas dengan cara ini. Dimana sebuah resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.

    Luhut ketika menjadi Keynote Speaker dalam Kickoff Program Bank Indonesia dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, Ahad 30 Agustus 2020, menyatakan,
    dibandingkan dengan negara-negara maju dan berteknologi tinggi, Indonesia akan lebih cepat dalam melakukan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 (virus Corona).

    Dalam obrolan dengan Bank Dunia (World Bank) pada Sabtu 29 Agustus 2020, Luhut mengatakan Indonesia kecepatan pemulihan itu terjadi karena pertumbuhan ekonominya bergantung dengan konsumsi yang kontribusinya mencapai 58 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

    Sementara itu, Mahfud mengatakan, imbauan Pemerintah untuk hidup normal kembali dengan menyadari COVID-19 kurang efektif karena saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengenakan masker, berkerumun seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Padahal virus Corona ini sangat nyata sebagai musuh atau dapat membahayakan kehidupan sehari-hari.

    Baca juga :  Hak Angket, Hak Angka, Hak Angkat 

    Mahfud menegaskan, kehidupan ekonomi turun terus. Bahkan awal September disebut dipastikan babak baru resesi ekonomi di Indonesia.

    Dalam acara temu seniman dan budayawan Yogya di Warung Bu Ageng, Jalan Tirtodipuran, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/8/2020), Mahfud
    meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir. Mengingat resesi bukanlah krisis ekonomi.

    Indonesia insyAllah terkendali, mengingat kekuatan ekonomi kerakyatan masih kokoh dan masih menjanjikan. Kecuali ada kebijakan kaku dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

    Mengapa? Ketika kwartal kedua, dengan pengetatan PSBB maupun PSBB Transisi atau kebijakan sejenis, dengan menyasar pedagang mikro dan menengah, maka dalam hitungan jari, pertumbuhan ekonomi langsung jungkir balik.

    Dan, alhamdulillah Indonesia memiliki ekonomi kerakyatan yang mampu menanggulangi resesi. Sebab ekonomi berbasis kerakyatan membuktikan mampu mengatasi resesi maupun krisis model apa saja.

    Pengalaman PSBB masa pendemi Covid-19 awal, dengan pengetatan kebijakan sangat kaku, berakibat melumpuhkan ekonomi kerakyatan, terbukti mengoncangkan ekonomi nasional.

    Oleh karena itu, acara administrasi biarkan resesi terjadi. Tetapi dengan protokol kesehatan, jaga jarak, dan jaga kebesihan lingkungan maupun penguatan imun atau ketahanan tubuh, sebaiknya pemerintah dari pusat sampai pelosok membiarkan roda ekonomi kerakyatan tetap berjalan, dengan kebijakan lentur dan memberi nafas berinteraksi secara terukur. InsyaAllah ekonomi Indonesia tetap aman.

    Resesi dampak dari pandemi Covid-19, ialah keguncangan dunia secara masiv, sebaiknya Indonesia menyelesaikan dengan resesi (resep selesaikan sendiri) dengan memutar roda ekonomi rakyat secara mandiri. (@)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan