Kamis, 22 Februari 2024
26 C
Surabaya
More
    Jawa TimurProbolinggoUji Coba Pembelajaran Tatap Muka Jatim Terapkan Ketat Protokol Kesehatan

    Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka Jatim Terapkan Ketat Protokol Kesehatan

    PROBOLINGGO (WartaTransparansi.com) – Uji coba pembelajaran tatap muka di Jawa Timur resmi diberlakukan hari ini, Selasa (18/8). Dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau dua sekolah di Kota Probolinggo.

    Dua sekolah yang ditinjau yaitu SMKN 2 dan SMAN 2. Sekolah itu berada di zona oranye resiko penularan covid-19 dengan jumlah siswa 9 orang perkelas (25 persen dari jumlah normal).

    Setiap siswa yang datang diwajibkan untuk melewati check point. Di titik ini, siswa dicek suhu tubuhnya dan diminta cuci tangan dengan menggunakan sabun. Siswa yang suhu badannya lebih dari 37 derajat diminta untuk tidak masuk kelas dan kembali ke rumah.

    Selain itu setiap siswa juga wajib mengenakan masker dan juga face shield selama mengikuti kegiatan belajar di kelas. Lalu jarak bangku antar siswa di dalam kelas juga dipastikan aman,  minimal satu meter.

    “Hari ini hari pertama uji coba pembelajaran tatap muka secara bertahap. Kita bisa lihat bahwa di sekolah ini semua protokol kesehatan terjaga. Anak-anak yang datang dicek dulu di check point, protokol kesehatan ditegakkan betul. Dan kapasitasnya ini hanya sembilan orang per kelas,” kata Khofifah usai peninjauan.

    Siswa yang datang ke sekolah mengikuti pembelajaran tatap muka harus atas seizin orang tuanya. Dan mereka yang sekolah tatap muka juga bergantian.

    Dalam uji coba dua pekan ke depan, siswa hanya akan dapat giliran sebanyak dua kali masuk sekolah. Saat tidak dapat giliran sekolah tatap muka mereka tetap melaksanakan pembelajaran daring di rumah.

    Dalam kunjungan itu Gubernur Khofifah banyak menyerap pendapat siswa bagaimana yang dirasakan selama pembelajaran daring di rumah. Ternyata siswa di sekolah kejuruan cukup terkendala jika hanya belajar di rumah. Padahal mereka membutuhkan banyak praktek di sekolah.

    Seperti mereka yang jurusan kelistrikan. Selama belajar daring di rumah, mereka menyampaikan ke Gubernur Khofifah bahwa mereka hanya belajar materi saja tidak bisa praktek langsung. Padahal itu sangat dibutuhkan.

    “Selama lima bulan pandemi, mereka memang mengeluhkan belajar daring karena di bagian materi tertentu dibutuhkan praktek secata langsung. Seandainya materi online sudah disampaikan namun tetap saja di bagian bagian tertentu dibutuhkan praktek. Saya rasa semua SMK lebih banyak menerapkan keterampilan,” tegasnya.

    Dalam kesempatan itu Gubernur Khofifah secara khusus mendampingi siswa untuk praktek di laboratorium kelistrikan. Ia sempat memuji bahwa sekolah ini meski di tengah pandemi tetap berinovasi mengajak siswa adaptif menuju era industri 4.0.

    Hal serupa juga ia lakukan di SMAN 2 Kota Probolinggo. Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, siswa tampak antusias bisa belajar dengan tatap muka dan mendengarkan penjelasan guru secara langsung.

    “Setelah uji coba selama dua pekan kita akan evaluasi. Namun intinya kita mencari format terbaik bagaimana anak-anak kita bisa belajar dengan optimal dengan tetap aman dari penularan covid-19,” pungkas Khofifah.

    Sebagaimana dijelaskan kepala dinas pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi bahwa jumlah SMA, SMK dan SLB saat ini di Jawa Timur tercatat 3.703 lembaga dengan 1.326.921 siswa. Sementara yang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka bertahap sebanyak 70 lembaga (1,89%) setara dengan 18.621 siswa (1,49 %). (hen/min)

    Reporter : Amin Istighfarin

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan