SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat pada Mei 2020, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,18 persen yaitu dari 103,90 pada bulan April 2020 menjadi 104,09 pada bulan Mei 2020.

Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Dadang Hardiwan, dalam konferensi per via online, Selasa (2/6/2020) mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) dari delapan kota di Jawa Timur, enam kota mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi di Malang sebesar 0,27 persen diikuti Surabaya 0,21 persen, Probolinggo 0,05 persen, Sumenep dan Banyuwangi 0,02 persen, dan Madiun sebesar 0,01 persen. Kota yang mengalami deflasi yaitu Jember sebesar 0,03 persen dan Kediri sebesar 0,19 persen.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu pakaian dan alas kaki sebesar 0,14 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen. Kemudian disusul kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen, kesehatan sebesar 0,18 persen, kelompok transportasi sebesar 1,50 persen, dan penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen.

Kelompok yang mengalami deflasi yaitu makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,13 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,05 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,24 persen. “Untuk kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan,” ujar Dadang, Selasa (02/06).

Beberapa komoditas yang naik harga pada Mei 2020, antara lain angkutan udara, daging ayam ras, bawang merah, apel, melon, cumi-cumi, tempe, ikan bandeng/ikan bolu, udang basah, dan susu bubuk untuk balita.

Pada Mei 2020 dari sebelas kelompok pengeluaran, lima kelompok memberikan andil/ sumbangan inflasi, dua kelompok memberikan andil/sumbangan deflasi, dan empat kelompok memberikan andil terhadap inflasi/deflasi yang sangat kecil.

Bagi kelompok pengeluaran yang memberikan andil terhadap inflasi, yaitu pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen, kesehatan sebesar 0,01, transportasi sebesar 0,20 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,01 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan sumbangan deflasi, yaitu makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,03 persen dan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,02 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang memberikan andil terhadap inflasi/deflasi yang sangat kecil yaitu perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya; dan kelompok pendidikan.

Sementara tingkat inflasi tahun kalender Mei 2020 sebesar 0,86 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2020 terhadap Mei 2019) sebesar 1,83 persen. Jika dibandingkan tingkat inflasi tahun kalender (Januari – Mei) 2020 di 8 kota IHK Jawa Timur, sampai dengan bulan Mei 2020 Sumenep merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi, yaitu mencapai 1,26 persen, sedangkan kota yang mengalami inflasi tahun kalender terendah adalah Malang yang mengalami inflasi sebesar 0,44 persen.

Selama Mei 2020, dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, empat kota mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Yogyakarta sebesar 0,22 persen, kemudian diikuti Surabaya 0,21 persen, Semarang 0,10 persen, dan Serang sebesar 0,05 persen. Sedangkan ibukota yang mengalami deflasi yaitu DKI Jakarta sebesar 0,02 persen dan Bandung sebesar 0,25 persen.

Inflasi tahun kalender (Januari – Mei) 2020 menunjukkan seluruh ibukota provinsi di Pulau Jawa mengalami inflasi. Inflasi tahun kalender ibukota provinsi di Pulau Jawa tertinggi terjadi di Serang sebesar 1,30 persen, diikuti DKI Jakarta 1,12 persen, Bandung 0,90 persen, Surabaya 0,89 persen, Yogyakarta 0,72 persen, dan Semarang sebesar 0,58 persen.(kom/guh)