BMKG : Tahun 2020 Tidak Ada Potensi Gangguan Anomali Iklim

BMKG : Tahun 2020 Tidak Ada Potensi Gangguan Anomali Iklim
Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

SURABAYA – Wilayah Indonesia mengalami musim kemarau panjang di tahun 2019. Kondisi ini mengakibatkan kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta suhu panas.

Untuk tahun 2019, El – Nino lemah telah berakhir pada bulan Juli lalu, dan kondisi netral ini masih berlanjut hingga di penghujung tahun 2019.

Seperti disampaikan Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi iklim di Indonesia sangat dikontrol oleh kondisi suhu muka air laut di Samudera Hindia sebelah Barat – Barat Daya Pulau Sumatera dan di Samudera Pasifik, serta di perairan laut Indonesia.

Fenomena yang saat ini sedang terjadi karena rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26 – 27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemuduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada bulan November, kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang dimulai sejak pertengahan Oktober 2019.

Berdasarkan hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer, BMKG memprediksi bahwa pada tahun 2020 tidak terindikasi akan terjadi El- Nino kuat. NOAA dan NASA (Amerika) serta JAMSTEC (Jepang) pun memprediksi hasil yang serupa.

Hal ini menandai tahun 2020 nanti diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia. Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya). Musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April – Mei hingga Oktober 2020. Sedangkan wilayah di dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari – Maret 2020, sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering, yang dapat berdampak karhutla di awal tahun pada wilayah dekat ekuator tersebut.

BMKG, kata Dwikorita,  mengimbau agar perlu mengoptimalkan usaha “menjaga cadangan air” melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan. Teknologi Modifikasi Cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla.

Musim hujan dan kemarau tahun 2020 normal, tetapi waspada peluang bencana hidrometeorologi.

Prediksi hujan untuk sepanjang tahun 2020 cenderung mempunyai pola yang sama dengan normal (klimatologisnya). Awal musim hujan akhir 2019 telah diperkirakan akan lebih mundur dari normalnya dan pada tahun 2018. Periode musim hujan (November 2019 – Maret 2020) masih sesuai dengan normalnya (klimatologi 1981-2010), namun dapat lebih basah dibandingkan tahun 2019, khususnya Sumatera dan Kalimantan bagian utara. Puncak musim hujan diprediksikan pada Januari-Februari 2020. Demikian halnya awal musim kemarau, diprakirakan mirip dengan normalnya, yaitu sekitar April – Mei 2020, dan berlangsung hingga Oktober.

Peluang terjadinya bencana hidrometeorologis (siklon tropis, hujan ekstrem, puting beliung, angin kencang, gelombang ekstrem, dan kekeringan iklim) tetap perlu diwaspadai meskipun diprediksi berkurang jumlah kejadian maupun kekuatannya pada kondisi iklim yang normal.

Memperhatikan pemutakhiran prediksi saat ini terkait prospek curah hujan yang cenderung normal sesuai klimatologisnya, serta tidak adanya ancaman potensi anomali iklim global, multi pihak mitra kerja BMKG dan juga masyarakat umum secara luas hendaknya dapat memanfaatkan informasi iklim ini untuk perencanaan jangka pendek tahun 2020.

Pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolam retensi, sistem polder dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian.

Apa yang harus diwaspadai saat pancaroba ?

Pada periode peralihan musim saat ini yang perlu diwaspadai antara lain adanya potensi hujan lebat dalam waktu singkat dan angin kencang atau puting beliung.

Bagaimana tanda-tanda akan terjadi puting beliung, dan apa yang harus disiapkan?

Puting beliung adalah fenomena angin kencang yang bentuknya berputar menyerupai belalai, keluar dari awan Cumulonimbus (CB), dan terjadi di daratan (jika terjadi diperairan dinamakan Water Spout). Namu tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena puting beliung, ada kondisi tertentu seperti ketika kondisi labilitas atmosfer yang melebihi ambang batas tertentu yang mengindikasikan udara sangat tidak stabil.

Tanda tanda akan terjadinya puting beliung:

Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Udara mulai pagi hari sudah terasa panas serta cukup terik dan gerah. Umumnya mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus (CB).

Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri, ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat karena hembusan angin. Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.