Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan lebat tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.
Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada masa pancaroba, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun akan diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.
Karakteristik puting beliung/angin kencang berdurasi singkat:
Sangat lokal, luasannya berkisar 5-10 km.
Waktunya singkat, umumnya sekitar atau kurang dari 10 menit lamanya. Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari.
Kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama.
Sangat sulit diprediksikan karena sifat kejadian fenomenanya sangat lokal.
Proses terjadinya puting beliung memiliki kaitan yang erat dengan fase tumbuh awan cumulonimbus (CB).
Imbauan mengantisipasi puting beliung:
Jika terdapat pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh agar segera ditebang untuk mengurangi beban berat pada pohon tersebut.
Memperkuat bagian atap rumah yang rapuh karena sangat mudah sekali terhempas oleh puting beliung, sedangkan atap rumah yang permanen, kemungkinannya kecil untuk terhempas.
Apabila melihat awan yang tiba-tiba gelap, padahal sebelumnya cerah, sebaiknya untuk tidak mendekati daerah awan gelap tersebut.
Cepat berlindung dalam ruangan yang kokoh, hindari berdiri di dekat pepohonan yang berpotensi roboh, atau menjauh dari lokasi kejadian karena fenomena tersebut sangat cepat terjadi.
Untuk jangka panjang pohon di pinggir jalan diganti dengan pohon akar berjenis serabut seperti pohon asem, pohon beringin, dan lainnya.
Bagaimana prakiraan cuaca seminggu ke depan, dan apa yang perlu disiapkan?
Potensi hujan sedang-lebat untuk periode 1 – 3 November 2019 diprediksi akan terjadi di beberapa wilayah, seperti, Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah bagian barat, sebagian Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua.
Sedangkan untuk periode 4 – 6 November 2019 potensi hujan lebat diprediksi akan terjadi di wilayah: Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua.
Sesuai prakiraan BMKG, kata Dwikorita, musim hujan 2019/2020 sebentar lagi akan dimulai. Saat ini sebagian daerah telah memulai masa peralihan dari musim kemarau ke hujan bahkan beberapa daerah (sebanyak 15%) yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumbar, Palembang, Riau, Kaltim, sebagian Sulawesi dan Sebagian Papua bagian Barat sudah memasuki musim hujan.
Di masa peralihan atau pancaroba, kondisi cuaca biasanya ditandai dengan perubahan arah angin dan peningkatan kecepatan. Kondisi seperti ini sering menimbulkan cuaca ekstrim seperti angin kencang dan puting beliung. Hal ini yang perlu diwaspadai. Hujan dapat turun sesaat namun pada sektor pertanian tetap memperhatikan prakiraan yang dikeluarkan BMKG saat akan memulai musim tanam.
Untuk prospek musim kemarau 2020, hasil prediksi menunjukkan prospek curah hujan yang cenderung normal sesuai klimatologisnya dan kecil peluang terjadinya gangguan anomali iklim global. Kiranya pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolom retensi, dan sistem polder dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian.
Masyarakat diimbau agar terus memperoleh dan memanfaatkan informasi terkini dari BMKG. Layanan informasi tersebut dapat diakses melalui: follow @infobmkg; atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat. (wt)





