“Kalau sekarang sudah banyak yang sadar fungsi bozem. Malah sekarang ada warga yang meminta untuk dibuatkan jembatan dan gazebo di tengah-tengah bozem itu, sehingga bisa dijadikan tempat untuk memancing,” imbuhnya.
Erna juga menjelaskan bahwa pembangunan bozem-bozem itu dilakukan secara swakelola. Artinya, tidak dilelangkan seperti biasanya. Sebab, ia menilai apabila dilelang seperti biasanya akan memakan waktu panjang dan biayanya juga lumayan besar. “Jadi, temen-temen garap sendiri. Alat beratnya pun kita bagi,” imbuhnya.
Melalui cara ini, maka proses pengerjaan bozem itu bisa dipercepat. Bahkan, ia memperkirakan proses pengerjaannya hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan. “Apalagi, teman-teman garapnya hampir setiap hari, jadi bisa cepat diselesaikan,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa pembangunan bozem di sejumlah titik di Kota Surabaya ini untuk mengantisipasi terjadinya global warming yang sudah mulai dirasakan di belahan dunia, mulai dari banjir di mana-mana hingga bencana kekeringan.
Adapun tujuh bozem yang dibangun tahun 2019, yakni bozem bundaran PTC di Kelurahan Prada Kali Kendal, Kecamatan Dukuh Pakis, bozem Kosagra di Kelurahan Medoakan Ayu, Kecamatan Rungkut, bozem Sumber Rejo Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Pakal, bozem Rejosari Kelurahan Pakal, Kecamatan Pakal, bozem Bandar Rejo Sememi Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, bozem Waru Gunung Kelurahan Waru Gunung, Kecamatan Karangpilang, dan mini bozem Tambakwedi Kelurahan Tambakwedi, Kecamatan Kenjeran. (wt)





