Andi juga mengatakan, kegiatan majelis taklim dan Yasin-tahlil, sekaligus sebagai langah antisipasi berbagai paham radikal, termasuk teror bom yang masih sering menjadi ancaman.
Andi memberi contoh teror bom Sibolga, Sumatera Utara beberapa waktu lalu. Ini menjadi alarm pengingat bahwa penganut radikalisme di Indonesia belum sepenuhnya bisa diatasi.
“Kita bisa mengantisipasinya dengan cara berkumpul dalam majelis taklim atau yasin tahlil. Masyarakat ikut berperan dalam menjaga lingkungan sosialnya agar tetap kondusif. Karena itu, masyarakat harus peka terhadap tetangga, jangan dimusuhi, diajak bicara. Kegiatan ini positif yang bisa diikuti oleh siapa saja, dibudayakan dan ditradisikan serta dikembangkan,” ujarnya.
Ajakan memerangi radikalisme, lanjutnya, sejalan dengan nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) an-nahdliyah yang memiliki empat prinsip dasar. Yakni, tawasuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), ta’adul (tegak lurus atau adil), dan tasamuh (toleransi).
Nilai tawasuth mengajarkan masyarakat agar tidak terjebak kepada paham yang esktrem. “Sementara, tawazun itu berimbang. Kita punya pedoman Quran dan hadits, ijma’ dan qiyas, kita juga harus pakai akal sehat,” katanya.
“Menghardik orang tua tidak boleh, lebih dari itu akal sehat kita tidak boleh, misal membunuh orang tua. Akal sehat ini bisa mengimbangi dalam hidup dan bernegara,” jelasnya.
Dikatakan, nilai toleransi dan adil dalam berbangsa dan bernegara juga tidak kalah pentingnya. Apalagi Indonesia menjadi Negara yang dipenuhi dengan berbagai suku, agama, ras dan bahasa yang berbeda. “Maka tasamuh ini penting,” katanya. (wt)





