Pedagang Hi-Tech Mall Bergejolak

Pedagang Hi-Tech Mall Bergejolak

“Kami akan terus berdemo, menuntut agar pengosongan dibatalkan. Kami tidak akan berhenti berjuang. Ini kehidupan kami, keluarga kami, kami harus pertahankan. Karena hanya ini usaha kami untuk menafkahi keluarga dan bertahan hidup. Kami akan terus berjuang,” tegasnya.

Sementara Pemkot Surabaya meminta pedagang untuk tetap tenang. Meskpin pada Maret 2019 kontrak dengan PT Sasana Boga sudah berakhir, para pedagang akan selalu berada di Hi-Tech Mall.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi, ikon Hi-Tech Mall akan tetap ada, meski nantinya bangunan gedungnya berpindah. “Untuk pedagang, pemkot akan tetap memperhatikan nasib mereka,” ujarnya.

Terkait proyek pembangunan Gedung Kesenian, kata Eri,  masih tahap perencanaan di anggaran tahun 2019. Gedung Kesenian itu dibangun di bagian tengah dari Hi-Tech Mall. Karena itu,  stand-stand milik pedagang tetap bisa berada di samping dan belakang.

“Yang dipakai kan hanya bagian tengah saja sebagai Gedung Kesenian. Masih butuh pendiskusian tentang tahapan pembangunannya. Tahun ini masih fokus perencanaan dulu, belum menyentuh pelaksanaan pembengunan,” katanya.

Menjawab kemungkinan PT Sasana Boga akan memperbarui kerja sama dengan Pemkot Surabaya, Eri mengatakan, bawah wewenang masih pada pihak pengembang.

Dijelaskan, perencanaan pembangunan Gedung Kesenian akan diintegrasikan dengan pusat perdagangan IT di Hi-Tech Mall. Pembangunan bisa dilakukan bertahap dengan dua alternatif. Bisa dengan dirobohkan kemudian dibangun, atau pedagangnya tetap berada di situ sambil dibangun. Kemudian kalau selesai, para pedagang baru dipindahkan sementara, sambil menunggu pembangunan stand baru.

“Tapi, rencana ini belum matang. Karena itu, kami meminta agar pedagang tidak resah. Selama masih ada ikatakan kontrak dengan PT Sasana Boga, pemkot tak boleh mengundang  investor,” katanya. (wt)