Senin, 12 April 2021
26 C
Surabaya
More
    Tak Berkategori dan Haruna Terseret Pemerasan Penyelenggaraan Piala Soeratin 2009

    Iwan Budianto dan Haruna Terseret Pemerasan Penyelenggaraan Piala Soeratin 2009

    – Dua tokoh sepak bola asal Jawa Timur dan terseret dalam dunia sepak bola Indonesia. Bahkan, Satgas antimafia bola yang dibentuk Polri sudah menemukan aliran dana yang mengarah ke keduanya. Sehingga meningkatkan status keduanya menjadi penyidikan.

    Iwan yang saat ini menjabat Kepala Staf Umum dilaporkan ke Satgas Antimafia Bolai terkait penyelenggaraan Piala Soeratin 2009.  Dalam penyelidikannya, Polri menemukan adanya aliran dana senilai Rp 140 juta kepada CEO Arema FC tersebut.

    “Sudah ada bukti transfer dengan pelapor H Imron Abdul Fattah, terlapornya yakni IB dan kawan-kawan,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (16/1/2019).

    Dedi menjelaskan, peristiwa bermula saat Piala Soeratin (liga remaja) memasuki babak delapan besar pada Oktober 2009. Saat itu, pelapor meminta PSSI melalui Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) yang ketika itu diketuai Iwan Budianto, untuk menjadi tuan rumah.

    Pelapor kemudian menemui Ketua Pengda PSSI , Haruna Soemitro dan dimintai dana Rp 140 juta untuk menjadi tuan rumah. Pelapor menyanggupi dan mengirimkan uang Rp 115 juta ke Haruna dan Rp 25 juta ke Iwan Budianto. “Ternyata setelah disadari, setelah satgas terbentuk, H. Imron merasa tertipu, padahal untuk menjadi tuan rumah tidak perlu mengeluarkan uang,” ucapnya.

    Keseriusan polisi melakukan penyelidikan ditandai dengan kehadiran petugas ke Asprov PSSI Jatim, Selasa (15/1/2019). Mereka mencari tahu data tentang penyelenggaraan Piala Soeratin 2009. Namun, dalam kunjungan itu, menurut Humas PSSI Jatim Rahmad Adi Kurniawan, petugas dari kepolisian tak bisa mendapatkan informasi terkait pelaporan Piala Soeratin 2009.

    Karena saat ini Asprov PSSI Jatim dipegang oleh . Sedangkan kejadiannya saat PSSI Jatim dipegang oleh Haruna. Kemudian berlanjut ke sebagai caretacer, Setelah itu La Nyalla Mattalitti dan Bambang Pramukantoro. “Mereka kemudian hanya membawa salinan statuta PSSI,” jelasnya.

    Sebelumnya, Iwan sendiri menyebut bahwa kejadian yang dilaporkan sudah lama, hampir 10 tahun berselang. Karenanya, pria berusia 44 tahun ini menilai susah untuk merekonstruksi detail kejadian seperti yang dituduhkan padanya tersebut. “Kejadian yang disampaikan itu sudah terlalu lama,” ujarnya seperti dilansir dari Bola.net, Selasa (8/1/2019) malam.

    Sementara itu, Haruna Soemitro yang kini menjabat manajer tim United tak mau ambil pusing mendengar namanya disebut terlibat dalam pungutan liar yang diungkap oleh manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fatah.

    “Jarno ae, jarno ae (biarkan saja). Nanti waktu akan menjawab, akan kebalik itu,” kata Haruna seperti dikutip dari Bola.com, Kamis malam (10/1/2019). Pria asal Surabaya itu akan melakukan klarifikasi untuk persoalan ini. “Belum. Saya berinisiatif untuk mengklarifikasi itu. Kalau tidak dipanggil, saya berinisiatif untuk mengklarifikasi secara langsung,” imbuh Haruna. (*/nov)

    Reporter : WartaTransparansi.com
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Komentar

    guest
    0 Komentar
    Inline Feedbacks
    View all comments

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan