Kamis, 18 April 2024
31 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaRisma: Penertiban PKL untuk Keadilan

    Risma: Penertiban PKL untuk Keadilan

    Surabaya – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memastikan, penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Kapasari atau Gembong, hanya untuk keadilan. Sebab, sudah sejak beberapa tahun silam, pemilik rumah di sepanjang jalan itu tidak bisa leluasa keluar masuk rumahnya, karena ditutup oleh PKL. Bahkan, mereka juga banyak yang menutup usahanya.

    “Itu sudah beberapa tahun, sampai kasihan aku sama pemilik rumah. Pemilik rumah ini sudah bayar pajak, bayar PBB, tapi kemudian tidak bisa membuka usahanya. Bahkan banyak yang meninggalkan rumahnya dan tidak bisa membuka usahanya. Saya mohon lah, ini untuk keadilan. Saya mohon pengertiannya, itu banyak usahanya yang mati,” kata Risma, Selasa (13/11/2018).

    Baca juga :  Khofifah IP : Unair Makin Tunjukkan Eksistensinya Sebagai Kampus Kelas Dunia

    Menurut Risma, Pemkot Surabaya tidak hanya mengusir mereka, namun juga sudah menyiapkan sentra PKL di Gembong Asih. Ia juga menjelaskan, apabila saat ini masih sepi, itu hal yang biasa, tapi ke depannya ia yakin sentra PKL itu akan ramai.

    “Kalau sekarang masih sepi, ya biasalah. Dulu di Keputran juga awalnya begitu, tapi sekarang sudah puluhan juta penghasilannya. Pasar ikan di Gunungsari juga begitu, tapi coba sekarang dilihat,” ujarnya.

    Risma juga memastikan, yang boleh masuk ke sentra PKL itu hanya PKL warga Kota Surabaya. Ia juga mengaku tidak bisa memasukkan PKL warga luar Surabaya ke sentra PKL itu. Alasannya, di sentra PKL itu gratis dan merupakan asset Pemkot Surabaya.

    Baca juga :  PT Pegadaian Area Surabaya 1 Bagikan Bingkisan Lebaran Kepada Pengurus Bank Sampah Binaan

    “Jadi, itu masalahnya. Tidak bisa aku memasukkan. Itu untuk warga Surabaya dan sudah dihitung semuanya. Saya mohon lah sekali lagi pengertiannya,” kata dia.

    Ke depannya, kata Risma, masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) dalam menertibkan para PKL, dan mengembalikan fungsi jalan. Ia mengaku masih berusaha untuk mengatur PKL di sekitar Tugu Pahlawan, dan juga Pasar di Wonokromo yang berjualan malam hari.

    “Kalau yang PT Iglas menang (dari kasasi), maka Pasar Wonokromo yang malam itu bisa dimasukkan ke situ, pabrik karung juga bisa. Kalau sudah masuk, maka tidak akan lagi diusir oleh Satpol PP dan tidak akan diobrak-obrak lagi,” imbuhnya.

    Sentra PKL Gembong Asih, telah dilengkapi beberapa fasilitas seperti musala dan toilet. Juga ada sambungan listrik dan air. Termasuk lahan parkir dan bangunan gedung utama dan gedung pendukung untuk para pedagang. (wt)

    Editor : Sabarudin

    Redaktur : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan