Festival Kitab Kuning Koleksi Ulama PBNU Kiai Saleh

Festival Kitab Kuning Koleksi Ulama PBNU Kiai Saleh
Festival Kitab Kuning berlangsung di Banyuwangi dan berakhir Selasa depan

BANYUWANGI (Wartatransparansi.com) – Festival Kitab Kuning kini tengah berlangsung di Banyuwangi dan dibuka Sabtu (10/6/2023) malam. Festival tersebut  mengangkat khazanah kitab kuning Kiai Saleh Lateng dalam merekonstruksi sejarah literasi Islam di Asia Tenggara.

“Ada banyak koleksi dari Kiai Saleh ini, yang kemudian memiliki signifikansi luar biasa dalam membaca sejarah literasi keislaman. Tidak hanya dalam tingkat lokal, tapi di Asia Tenggara,” ujar Dr. Ginanjar Sya’ban ulama sekaligus Dosen Universitas Nahdlatul Ulama, PBNU.

Ginanjar mencontohkan di antaranya adalah dengan ditemukannya manuskrip KHR Asnawi Kudus yang membantah fatwa seorang mufti Mekkah, Sayyid Abdullah bin Sayyid Shalih Zawawi al-Makki. “Manuskrip ini satu-satunya ditemukan di koleksi Kiai Saleh,” tegasnya.

Selain itu, ada banyak pula deretan kitab karya ulama Nusantara lainnya yang ditemukan di Kiai Saleh. Kitab-kitab tersebut rerata sudah langka dan tak tercetak lagi. “Berkat dibukanya koleksi Kiai Saleh ini, bisa menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu jujukan penelitian Islam Nusantara,” imbuhnya.

Selain kitab-kitab ulama Nusantara yang terbit pada paruh pertama abad 20 (1900-1930-an), juga ada sejumlah manuskrip kuno. Di antaranya Al-Quran yg ditulis di Banyuwangi pada 1866, Maulid Nabi, Manaqib Syekh Abdul Qadir, karya Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan karya-karya lainnya yang rerata dibuat pada abad 19.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang membuka acara, berharap kegiatan Festival Kitab Kuning ini menjadi bagian dari transfer knowledge (pengetahuan) sekaligus menginspirasi anak-anak muda Banyuwangi lebih getol belajar kitab kuning.

“Festival kitab kuning adalah upaya untuk lebih menggaungkan belajar kitab kuning kepada generasi muda khususnya, sehingga warisan keilmuan ulama nusantara dapat terus hidup dan berkembang di tengah-tengah mereka,” katanya.

Ipuk juga mendorong preservasi dan digitalisasi dari koleksi Kiai Saleh tersebut. Sehingga dapat diakses dan dipelajari secara luas. “Kami akan bekerjasama dengan Perpusnas ataupun ANRI untuk membantu melakukan preservasi ataupun pengelolaan lebih lanjut,” ungkapnya.