Tenang di Tengah Tak Ideal

Ramadhan 1447H/2026M, hari ke 15

Tenang di Tengah Tak Ideal
Muhammad Ajid Husain

Oleh: Muhammad Ajid Husain (Dosen Univ. Darul Ulum – UNDAR – Jombang)

Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar ideal. Kalimat itu mungkin terasa getir. Sejak kecil kita tumbuh dengan gambaran tentang hidup yang rapi: hubungan yang sempurna, ibadah yang khusyuk tanpa cela, karier yang lurus tanpa hambatan.

Kita membayangkan kebahagiaan akan datang ketika semuanya tersusun sesuai harapan. Namun semakin jauh kita melangkah, semakin kita menyadari bahwa hidup justru bergerak dalam ketidakteraturan.

Rencana berubah. Harapan bergeser. Jawaban yang kita kira sudah final ternyata melahirkan pertanyaan baru. Sebagaimana ungkapan Paulo Coelho, “Ketika saya sudah mendapatkan semua jawabannya, pertanyaannya berubah.” Hidup bukan ruang yang selesai oleh satu kepastian. Ia adalah perjalanan yang terus menyingkap keterbatasan kita.
Di sanalah kita diuji: apakah kita akan terus memaksakan idealisme, atau belajar tenang dalam ketidakteraturan?

Sering kali yang membuat hati gelisah bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan benturan antara kenyataan dan bayangan ideal yang kita ciptakan. Kita ingin diri kita selalu baik. Kita ingin orang lain selalu memahami. Kita ingin hasil sebanding dengan usaha. Kita ingin doa terkabul sesuai waktu yang kita tentukan.

Padahal dunia bukan tempat idealitas. Dunia adalah tempat pendidikan.

Dalam jalan tarekat, ketidakteraturan bukan musuh yang harus ditaklukkan, melainkan ruang latihan untuk menundukkan ego. Semakin keras kita memaksakan citra ideal tentang diri dan hidup, semakin mudah hati retak ketika realitas tak sejalan.
Guru tarekat kami, Gus Mudjib Musta’in, pernah menyampaikan nasihat sederhana namun menggetarkan: “Sabar, ikhlas, bahagia menerima takdir.”
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi memerlukan kedalaman untuk mengamalkannya.

Sabar bukan sekadar menahan keluhan, melainkan menahan ego yang ingin semuanya ideal.
Ikhlas bukan sekadar menerima secara pasif, melainkan melepas tuntutan tersembunyi agar hidup berjalan sesuai skenario kita.

Bahagia menerima takdir bukan berarti menyukai semua kejadian, tetapi berdamai dengan kenyataan bahwa Allah lebih mengetahui daripada kita.

Bahkan dalam ibadah pun kita menemukan ketidaksempurnaan. Khusyuk datang dan pergi. Niat kadang bercampur riya. Hati kadang hangat, kadang hampa. Jika kita memaksakan idealisme spiritual—bahwa kita harus selalu sempurna—kita justru mudah putus asa.

Dalam salah satu dawuh yang mengutip Sufyan al-Thawri, disebutkan bahwa kesabaran itu ada tiga: pertama, jangan ceritakan dosamu; kedua, jangan keluhkan musibahmu; ketiga, jangan sok sucikan dirimu. Tiga nasihat ini menjadi pagar agar hati tidak terseret oleh idealisme egois.

Jangan ceritakan dosamu. Dalam ketidaksempurnaan, kita memang jatuh dan salah. Namun menjadikan dosa sebagai bahan cerita sering kali bukan karena ingin bertobat, melainkan karena ingin simpati atau pengakuan. Di situlah ego kembali mencari ruang.
Jangan keluhkan musibahmu.

Ketidakteraturan hidup sering berupa ujian yang tak kita rencanakan. Mengeluh berarti memprotes takdir yang tidak sesuai bayangan ideal kita. Padahal mungkin justru di sanalah pendidikan terbesar sedang berlangsung.

Jangan sok sucikan dirimu. Ketika hidup terasa kacau, sebagian orang berusaha menutupinya dengan citra kesalehan yang berlebihan. Kita ingin terlihat paling taat, paling benar, paling bersih. Padahal ketidakteraturan adalah pengingat bahwa kita manusia, bukan malaikat.

Ketika tiga hal ini dijaga, hati perlahan belajar tenang dalam kondisi yang tidak ideal.
Tenang bukan berarti semuanya tertata rapi. Tenang adalah keadaan batin yang tidak lagi memaksakan dunia agar sesuai standar diri. Tenang adalah kesediaan menerima bahwa kehidupan berjalan dalam ritme yang kadang tak kita pahami.

Sering kali kita gelisah karena merasa hidup orang lain lebih ideal. Kita membandingkan rumah tangga, karier, ibadah, bahkan pencapaian spiritual. Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari keseluruhan cerita. Setiap orang menyimpan ketidakteraturannya sendiri.

Ketika kita berhenti membandingkan, kita berhenti memaksakan idealitas. Kita mulai melihat hidup sebagai perjalanan personal yang unik. Di situlah ketenangan menemukan tempatnya.

Matinya idealisme bukan berarti kehilangan semangat memperbaiki diri. Ia adalah kematian tuntutan ego agar segala sesuatu harus sesuai ekspektasi kita. Setelah idealisme egois itu mati, yang tersisa adalah usaha yang tulus dan penyerahan yang lapang.
Kita tetap bekerja, tetapi tidak lagi menggantungkan harga diri pada hasil.

Kita tetap berdoa, tetapi tidak lagi memaksakan waktu pengabulan.
Kita tetap berusaha menjadi baik, tetapi tidak lagi menuntut pengakuan sebagai imbalannya.
Ketidakteraturan dunia mengajarkan satu hal penting: kita bukan pengendali penuh. Ketika kesadaran ini benar-benar meresap, hati menjadi ringan. Kita tidak lagi memikul beban untuk menjadikan hidup ideal. Kita hanya berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan sisanya kepada Allah.

Di bulan Ramadhan, latihan ini terasa semakin nyata. Lapar dan dahaga mengajarkan bahwa tubuh pun tidak selalu dalam kondisi ideal. Emosi naik turun. Rasa lelah datang. Namun di tengah semua itu, kita belajar bahwa ketenangan tidak bergantung pada kenyamanan.

Tenang dalam ketidakteraturan berarti menerima bahwa dunia adalah tempat ujian, bukan tempat kesempurnaan. Tenang berarti berdamai dengan kenyataan bahwa hidup akan selalu menyimpan sisi yang tak sesuai harapan.

Di dunia ini tidak ada yang ideal. Yang ada adalah kesempatan untuk belajar sabar. Yang ada adalah peluang untuk ikhlas. Yang ada adalah ruang untuk bahagia menerima takdir.

Dan ketika kita berhenti menuntut dunia menjadi ideal, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: hati yang lapang. Hati yang tidak lagi terombang-ambing oleh perubahan. Hati yang tidak mudah retak oleh ketidaksesuaian.

Di situlah ketenangan lahir.
Bukan karena hidup menjadi teratur.

Bukan karena masalah hilang.
Tetapi karena kita belajar berdiri tegak di tengah ketidakteraturan—dengan sabar, ikhlas, dan bahagia menerima takdir. Sebab dunia memang tidak ideal. Namun di sisi Allah, hati yang menerima itulah yang paling dekat dengan kedamaian**