Ketika penjajah digital kian merajalela, menyamar sebagai pemberi petunjuk tentang kebenaran yang menyesatkan, media massa seperti anak ayam kehilangan induk. Berlari lari dengan teriak teriak kecil. Meminta dikasihani. Menunggu secuil pecahan jagung yang tak kunjung tersandung.
Ketika penjajah digital memberi mainan ayunan dan layang layang, media massa hanya ikut terombang ambing, terayun ayun, tertarik tarik angin informasi tanpa arah. Media massa mengikuti karena tak mampu memberi apa apa walaupun hanya satu warna. Apalagi melukis informasi dengan warna pelangi.
Ketika penjajah digital menghiptonis anak anak bangsa, menyuguhkan tontonan telanjang dada, memberi tuntunan melawan alam semesta, membabat hutan paru paru dunia dengan sengaja memutarbalikkan data. Justru media massa hanyut dalam tipu daya informasi rupa rupa tanpa makna. (Oleh Djoko Tetuko)
Banten, 9 Februari 2026





