W Memukul dan Menendang Saya hingga Terpental,” Faisol Ungkap Dugaan Kekerasan di Lapas II A Kediri

W Memukul dan Menendang Saya hingga Terpental,” Faisol Ungkap Dugaan Kekerasan di Lapas II A Kediri
Eka Faisol Umami (31), mantan narapidana keluar dari ruang Kalapas Lapas Kelas IIA Kediri usai kasus dugaan pengeroyokan Faisol mencuat. (Foto: Moch Abi Madyan).

Baginya, tulang yang patah tidak akan bisa disambung kembali dengan sekadar kue kering atau amplop bantuan. Keadilan tetaplah barang mahal yang tidak bisa ditukar dengan paket sembako.

Di seberang meja, Lapas Kelas IIA Kediri mendadak punya narasi tunggal yang sangat rapi yakni lantai licin adalah tersangka utamanya.

Di tengah sorotan publik soal tulang paha kiri Faisol yang patah, pihak lapas justru sibuk menyusun barisan alibi yang senada, seirama, dan tentu saja, sangat konsisten.

Kalapas Kediri Solichin memberikan keterangan terkait kasus dugaan pengeroyokan Faisol di Lapas Kelas IIA Kediri.
Kalapas Kelas IIA Kediri, Solichin, saat memberikan keterangan kepada awak media terkait dugaan kasus pengeroyokan terhadap Faisol. (Foto: Moch Abi Madyan).

Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Solichin, tampak pasang badan di balik meja kerjanya. Baginya, luka fatal yang dialami warga binaannya itu murni kecelakaan domestik di ruang Kamtib. Sebuah kesimpulan yang lahir dari apa yang disebutnya sebagai pemeriksaan “maraton” selama tiga hari, 4–6 Maret 2026.

Para petugas yang diperiksa tetap konsisten menyatakan bahwa Faisol mengalami luka karena terjatuh atau terpeleset,” ujar Solichin.

Hasil pemeriksaan internal yang dikomandani Kasi Binadik, Herry Suryadi, itu seolah menjadi tameng bagi para petugas yang diduga terlibat. Nama-nama seperti R dan A sudah masuk dalam daftar Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Namun, drama ini sedikit tersendat karena dua aktor lain, F dan D, sudah “terbang” pindah tugas ke Papua dan Blitar. Kepada keduanya, Lapas II A Kediri hanya bisa menagih janji lewat surat keterangan tertulis.

Sorotan tajam sempat mengarah pada sosok berinisial W. Sang Ka. KPLP ini disinyalir berada di lokasi saat Faisol meregang kesakitan. Namun, Solichin punya jawaban instan untuk meloloskan bawahannya dari jeratan tudingan kekerasan.

“Petugas berinisial W mengaku sudah keluar dari ruang Kamtib saat kejadian,” kata Solichin, menegaskan alibi bahwa sang komandan sedang tak di tempat saat peristiwa naas itu pecah.

Kini, bola panas berada di tangan penyidik Polres Kediri Kota. Publik tinggal memilih: percaya pada teori “terpeleset” yang seragam ini, atau menanti polisi berani menyapu debu di bawah karpet Lapas Kediri guna membongkar dugaan kekerasan sistematik yang tersembunyi di balik wibawa seragam dan lencana.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan