Ketika Ilmu Tidak Lagi Melahirkan Akhlaq

Ketika Ilmu Tidak Lagi Melahirkan Akhlaq

Tidak sedikit ilmu yang membuat seseorang tertipu oleh dirinya sendiri. Merasa paling benar, merasa paling paham, dan merasa paling layak berbicara.
Ilmu bertambah, tetapi hati tidak semakin lembut. Pengetahuan meluas, namun empati justru menyempit. Lisan fasih menyampaikan dalil, tetapi sulit menjaga adab.

Padahal dalam Islam, akhlaq memiliki posisi yang sangat penting. Bahkan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa misi utama kenabiannya adalah menyempurnakan akhlaq.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

Ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani, dalam kitab Nashaihul Ibad juga menegaskan:
“Husnul khuluqi nishfud diin.”
Akhlak yang baik adalah separuh dari agama.

Akhlaq bukan sekadar urusan pikiran, tetapi bagian inti dari keberagamaan seseorang. Bahkan akhlaqlah yang sering menjadi wajah pertama Islam di mata orang lain.

Akhlaq membuat ilmu terasa menenangkan. Akhlaq menjadikan orang alim dicintai, bukan ditakuti. Akhlaq pula yang membuat perbedaan menjadi rahmat, bukan sumber permusuhan.
Karena itu para ulama sejak dahulu selalu mengajarkan adab sebelum ilmu.
“Al-adabu fauqal ‘ilmi.”
Adab berada di atas ilmu.
Seorang murid diajarkan untuk ta’dzim kepada guru, bersikap santun kepada sesama, dan rendah hati dalam perbedaan.

Bukan karena ilmu tidak penting. Tetapi karena ilmu tanpa adab akan kehilangan berkahnya.
Ilmu dan akhlaq sejatinya tidak boleh dipisahkan. Keduanya harus berjalan bersama.
Ilmu adalah cahaya, dan akhlaq adalah wadahnya.
Cahaya tanpa wadah dapat menyilaukan.

Sementara wadah tanpa cahaya akan gelap.
Imam Al-Ghazali mengatakan, ilmu adalah pemimpin dan akhlaq adalah pengikutnya. Ilmu harus membimbing akhlaq, dan akhlaq menjadi bukti hidup dari ilmu itu sendiri.

Ibnu Athaillah juga menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah SWT.

Ilmu yang benar bukan sekadar membuat seseorang pandai berbicara. Ilmu yang benar justru membuat seseorang semakin tawadhu.

Semakin tahu, semakin sadar betapa kecil dirinya di hadapan Allah SWT.
Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk menata kembali hubungan antara ilmu dan akhlaq. Puasa tidak hanya melatih kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego.

Bukan hanya mengurangi makan, tetapi juga mengurangi kesombongan.
Hari ini kita tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang ilmunya melahirkan akhlaq, dan akhlaqnya lahir dari ilmu.

Sebagaimana petuah bijak para kiai dalam bahasa Jawa:
“Wong pinter iku akeh, nanging wong sing pinter lan bener iku sethithik.”
Orang pintar itu banyak, tetapi orang yang pintar sekaligus benar itu sedikit.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberikan ilmu yang bermanfaat dan akhlaq yang mulia. Ilmu yang mendekatkan, bukan menjauhkan. Akhlaq yang menenangkan, bukan melukai.

Semoga pula Ramadhan ini menjadi Ramadhan yang memperbaiki ilmu kita dan memperindah akhlaq kita. (Dr Habsy, Mpd)