Menurutnya, penyebab banjir secara umum dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni curah hujan yang tinggi serta kondisi lingkungan. Oleh karena itu, selain upaya teknis seperti pengoperasian pompa, pintu air, dan pengerukan saluran, peran masyarakat juga sangat penting.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan saluran, terutama tidak membuang sampah sembarangan, apalagi saat hujan. Kalau saluran bersih, air bisa mengalir lebih lancar,” ungkapnya.
Ia memastikan, hingga saat ini seluruh pompa masih terus dioperasikan dan kondisi lapangan terus dipantau secara berkala, agar genangan air bisa segera surut dan aktivitas warga kembali normal.
Untuk jangka panjang, Pemkot Surabaya juga terus melakukan berbagai program strategis, mulai dari pembangunan dan penambahan rumah pompa, pelebaran dan pengerukan sungai, hingga koordinasi lintas sektor dengan pemerintah provinsi dan pusat.
“Upaya penanganan banjir ini tidak hanya jangka pendek, tapi juga jangka menengah dan panjang. Semua pihak harus saling mendukung, karena persoalan banjir tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja,” ulasnya.
Sebagai informasi, berdasarkan informasi BMKG Juanda, pada periode 13–20 Februari 2026, warga pesisir Surabaya diimbau untuk mewaspadai potensi banjir rob akibat pasang maksimum air laut. Selain itu, BMKG Juanda juga memprediksi potensi cuaca ekstrem di Surabaya pada 15–21 Februari 2026, meliputi hujan lebat, angin kencang, hujan es, hingga angin puting beliung. Apabila menemukan kondisi darurat, masyarakat diminta segera menghubungi layanan darurat 112 atau melalui WhatsApp Chat di nomor 081-131-112-112. (*)





