Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menyampaikan bahwa OBROLIN menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem literasi di Kota Pahlawan. Ia menegaskan, gerakan membaca nyaring ke depan tidak hanya dilakukan di sekolah atau PAUD, tetapi akan dimasifkan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Kami memiliki Taman Bacaan Masyarakat di setiap wilayah yang siap dikembangkan bersama warga. Harapannya, akan muncul duta-duta baca dari kalangan orang tua yang menjadi penggerak literasi di lingkungannya masing-masing,” jelas Yusuf.
Menurutnya, membaca nyaring berperan penting dalam memperkaya kosakata anak pada fase sebelum mereka memasuki tahap menulis. Dengan kosakata yang sudah tertanam sejak dini, anak akan lebih siap saat memasuki usia sekolah, baik secara kognitif maupun emosional.
“Anak yang terbiasa mendengar cerita akan lebih mudah belajar menulis karena sudah mengenal banyak kata. Selain itu, hubungan emosional antara orang tua dan anak juga semakin kuat,” ungkapnya.
Yusuf menambahkan, sasaran utama program ini adalah orang tua dengan anak usia 0 hingga 4 tahun, karena pada rentang usia tersebut stimulasi bahasa sangat menentukan perkembangan anak. Ke depan, Dispusip juga akan memperkuat kolaborasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Bunda PAUD, serta guru kelas agar gerakan literasi dapat berjalan lebih terintegrasi.
Melalui layanan seperti Puspaga, Pemkot Surabaya berharap dapat memperkuat pendampingan bagi orang tua, khususnya keluarga muda, agar membiasakan anak berkomunikasi, bercerita, dan membaca sejak dini.
Dengan begitu, kata Yusuf, literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi tumbuh dari lingkungan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter, sehingga anak dapat berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, komunikatif, dan berkarakter. (*)





