“Harapan kita untuk ke depan kampung hijau ini bisa diterapkan yang pertama itu mungkin bisa diawali dari kita di sini, terus bisa dari per RW-nya, terus bisa per RT, terus kalau bisa juga itu per rumah warga,” ungkap Gilang.
Sementara itu, Penanggung Jawab Acara, Haryanto, memperkenalkan inovasi pengolahan limbah dapur menjadi pupuk organik cair atau air lindi dengan memanfaatkan galon bekas sebagai komposter sederhana. Inovasi ini tetap berlandaskan prinsip zero waste.
“Satu galon digunakan untuk menampung sampah limbah rumah tangga, dan galon di bawahnya berfungsi untuk menampung air lindi hasil fermentasi,” ujar Haryanto.
Mahasiswa Prodi Peternakan UNP Kediri itu menjelaskan, proses fermentasi dipercepat dengan penyiraman air cucian beras setiap hari agar mikroorganisme bekerja optimal. Proses tersebut membutuhkan waktu satu hingga tiga minggu dan mampu menghasilkan lebih dari 10 liter air lindi dari empat instalasi galon.
“Sangat efektif dari segi biaya dan pastinya ramah lingkungan. Pupuk ini bisa digunakan untuk berbagai tanaman seperti sayuran maupun buah-buahan,” imbuhnya.
Untuk pemakaian, pupuk cair hasil olahan limbah tersebut cukup diencerkan dengan perbandingan satu gelas air lindi dan sepuluh gelas air biasa sebelum diaplikasikan ke tanaman.
Ke depan, mahasiswa KKN UNP Kediri berencana melakukan sosialisasi langsung ke rumah-rumah warga agar pengolahan limbah rumah tangga dapat diterapkan secara mandiri.
“Konsep ini sangat mudah diaplikasikan. Kami ingin menjadikan lingkungan sekitar sebagai tolak ukur bahwa pengelolaan sampah mandiri dari rumah tangga itu sangat mungkin dilakukan,” pungkas Haryanto.
Langkah mahasiswa KKN UNP Kediri Kelompok 07 ini menunjukkan bahwa limbah rumah tangga dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Melalui inovasi sederhana, sampah yang sebelumnya tak bernilai kini berubah menjadi pupuk dan media tanam yang mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi warga.(*)





