Kebijakan Pembatasan Gawai di Sekolah Surabaya Menunjukkan Hasil Positif

Kebijakan Pembatasan Gawai di Sekolah Surabaya Menunjukkan Hasil Positif
Penerapan kebijakan pembatasan penggunaan gawai atau handphone (HP) di lingkungan sekolah oleh Pemkot Surabaya, mulai menunjukkan hasil positif.

“Jadi kami sampaikan Bapak-Ibu, HP ini tidak bisa menggantikan peran orang tua. Jadi tolong dilihat cara (anak) buka HP, buka history, karena banyak orang tua yang tidak pernah melakukan itu,” pesannya.

Menurutnya, pengawasan di rumah sama pentingnya dengan pembatasan penggunaan gawai di sekolah. Oleh karena itu, keterlibatan aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam mendampingi anak.

“Jadi kami membutuhkan peran orang tua. Karena tidak bisa murid ini (dibatasi gawai) hanya di sekolah, tapi harus dijaga di dalam rumahnya dengan orang tuanya,” katanya.

Wali Kota Eri kembali menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak dapat dihindari, namun harus disikapi dengan pembatasan dan pengawasan yang tepat. Ia menyebut, tujuan akhir dari kebijakan ini adalah menjadikan Surabaya sebagai Kota Ramah Anak serta menyiapkan generasi pemimpin masa depan.

“Saya ingin membuat Surabaya ini Kota Ramah Anak, karena pemimpin masa depan itu adalah anak-anak kita,” jelasnya.

Ia juga menegaskan tanggung jawab pendidikan tidak hanya dibebankan kepada guru, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua dan pemerintah.

“Bagaimana kolaborasi kami bertiga, sinergi kami bertiga hari ini adalah membentuk karakter anak,” katanya.

Terkait harapan ke depan, Wali Kota Eri meyakini pembatasan gawai menjadi salah satu upaya membangun karakter, jiwa sosial, serta interaksi sosial yang sehat pada anak.

“Penerus bangsa ini adalah anak-anak kita. Berarti anak ini harus memiliki karakter, memiliki jiwa sosial yang tinggi, memiliki interaksi sosial yang bagus,” tuturnya.

Wali Kota Eri pun mengajak para guru dan orang tua untuk memberi teladan dalam penggunaan gawai.

“Membatasi penggunaan HP ini bukan melarang, agar anak-anak ke depan menjadi pemimpin yang lebih bijak melalui interaksi sosial, jiwa sosial, dan penggunaan HP yang positif,” tukasnya. (*)

Editor: Wetly