Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Ingatkan Bahaya HP bagi Anak, Soroti Radikalisme hingga Pornografi

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Ingatkan Bahaya HP bagi Anak, Soroti Radikalisme hingga Pornografi

Surabaya (Wartatransparansi.com) –Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam mengawasi penggunaan telepon genggam (HP) pada anak-anak. Ia mengungkapkan, penggunaan HP tanpa kontrol dapat berdampak serius, mulai dari paparan pornografi hingga radikalisme yang berujung pada kekerasan.

Eri mengaku pernah berdiskusi langsung dengan Detasemen Khusus (Densus) terkait kasus terorisme yang melibatkan anak-anak usia sekolah. Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa sebagian anak yang terdeteksi terpapar paham kekerasan berasal dari Surabaya.

“Saya kemarin bertemu dengan Densus. Salah satu kejadian pengeboman di Jakarta yang dilakukan anak-anak sekolah, itu terdeteksi juga ada di Surabaya. Anak-anak ini belajar ingin menyakiti, bahkan membunuh, dari mana? Dari HP,” ujar Eri di Arief Rahman Hakim Covention Hall, Surabaya, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, akar persoalan tersebut adalah kurangnya komunikasi dan pengawasan dari orang tua. Kesibukan bekerja membuat sebagian orang tua menyerahkan HP sepenuhnya kepada anak tanpa kontrol.

“Orang tuanya sibuk bekerja, anaknya dicekeli HP, tidak pernah ada komunikasi. Akhirnya anak belajar menyakiti temannya, belajar kekerasan,” jelasnya.

Pornografi pada Anak Jadi Sorotan Serius

Selain radikalisme, Eri juga menyoroti tingginya akses pornografi melalui HP pada anak-anak. Hasil pengecekan menunjukkan penggunaan konten pornografi pada HP anak sangat besar.

“Ini bukan anak orang tidak mampu, loh. Ini anak orang menengah ke atas. Artinya kasih sayang orang tua sudah tergadaikan dengan HP,” tegasnya.

Ia pun meminta para orang tua untuk menjadikan HP sebagai sarana kemaslahatan, bukan mudarat. Namun syaratnya, HP anak harus rutin dicek dan diawasi.

Orang Tua Akan Diajari Cara Cek HP Anak

Sebagai langkah konkret, Eri meminta Dinas Pendidikan Surabaya mengumpulkan orang tua siswa mulai dari kelas 1 untuk diberikan edukasi tentang cara mengecek HP anak.

“Orang tua akan diajari cara mengecek HP anaknya, termasuk histori penggunaan. Tidak semua orang tua tahu cara itu,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa pengawasan, anak bisa lepas kendali dan penyesalan baru akan muncul di kemudian hari.

Eri juga menekankan kebijakan pembatasan penggunaan HP di lingkungan sekolah. Siswa boleh membawa HP, namun harus disimpan di loker dan hanya boleh digunakan saat pembelajaran digital atas instruksi guru.

“Kalau tidak dibutuhkan, HP tidak boleh digunakan. Guru juga harus memberi contoh dengan tidak menggunakan HP di kelas,” katanya.

Menurut Eri, disiplin anak sangat bergantung pada keteladanan orang dewasa di sekitarnya

Pemerintah Kota Surabaya, lanjut Eri, telah menyiapkan skema pembinaan bagi anak-anak yang masih kedapatan mengakses konten negatif. Pembinaan akan melibatkan Dispenduk dan P3A melalui peringatan bertahap hingga pembentukan karakter di shelter pendidikan.

“Kalau kita tidak mulai hari ini, kita menghancurkan masa depan anak-anak bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengakui pembatasan konten digital secara teknis merupakan kewenangan pemerintah pusat, namun menilai kasih sayang, komunikasi, dan interaksi sosial tetap menjadi benteng utama.

Kampung Pancasila dan Permainan Tradisional

Sebagai upaya memperkuat karakter dan interaksi sosial anak, Eri berencana membentuk Kampung Pancasila dengan menghidupkan kembali permainan tradisional.

“Sekarang anak main game isinya kekerasan. Dulu kita main permainan yang menyatukan. Ini yang harus kita kembalikan,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Eri menekankan pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia dalam membentuk karakter anak.

“Kalau orang tua hanya melahirkan tapi tidak menjaga dan mengawasi, jangan salahkan anaknya. Masa depan Surabaya ada di tangan anak-anak kita hari ini,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fahrizal Arnas