Kediri  

Dinkes Jatim–BRIN Petakan Pesantren Sehat, Wali Barokah Kediri Menjadi Rujukan Studi Kasus

Dinkes Jatim–BRIN Petakan Pesantren Sehat, Wali Barokah Kediri Menjadi Rujukan Studi Kasus
Tim Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan BRIN berfoto bersama di lingkungan Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri yang menjadi lokasi studi kasus Pesantren Sehat Berdaya.( Foto: Moch Abi Madyan)

“Para tamu melakukan observasi, wawancara dengan santri, guru, dan pengurus, serta melihat langsung bagaimana Pos Kesehatan Pesantren berfungsi,” kata KH Sunarto.

Tim Dinkes Jatim dan BRIN melakukan observasi kesehatan santri di Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri.
Tim Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur bersama BRIN melakukan observasi dan interaksi langsung dengan santri saat pemetaan program Pesantren Sehat di Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri.(Foto: Moch Abi Madyan)

Ia menjelaskan konsep Pesantren Sehat berbeda dengan Eco Pesantren. Pesantren sehat tidak hanya menitikberatkan pada lingkungan fisik, tetapi juga pola hidup sehat dan peran Poskestren sebagai penggerak utama kegiatan kesehatan. Wali Barokah sendiri pernah mewakili Kota Kediri dalam lomba Pesantren sehat tingkat Provinsi Jatim, dan meraih peringkat ketiga.

Peneliti Ahli Utama BRIN Agung Dwilaksono menambahkan, riset ini tidak memosisikan pesantren sebagai objek, melainkan sebagai subjek pembangunan. Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam dengan pimpinan pondok, serta observasi fisik terkait sanitasi dan kelayakan bangunan.

“Hasilnya nanti berupa pemetaan potensi, tantangan, dan kebutuhan pesantren. Kami akan menyusunnya dalam panduan berdasarkan level kemampuan pesantren,” katanya.

Penyerahan kenang-kenangan dari Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri kepada Dinkes Provinsi Jatim dan BRIN.
Pimpinan Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri menyerahkan kenang-kenangan kepada perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan BRIN usai kegiatan pemetaan Pesantren Sehat Berdaya. (Foto: Moch Abi Madyan)

Hasil riset tersebut tidak langsung dipublikasikan, tetapi terlebih dahulu menjadi bahan belajar pemerintah pusat dan daerah. Rencananya, temuan penelitian akan dibukukan dan diluncurkan di tingkat provinsi pada awal 2026 sebagai referensi penguatan program kesehatan di Ponpes Jatim.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan