Minggu, 21 Juli 2024
24 C
Surabaya
More
    Jawa TimurKediriIsak Tangis Gus Robert Warnai Semaan Al-Qur'an Haul Ke 32 Gus Miek

    Isak Tangis Gus Robert Warnai Semaan Al-Qur’an Haul Ke 32 Gus Miek

    KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Sejak pagi, disekitar area Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso, Kediri sudah didatangi oleh para jamaah dari berbagai wilayah di Indonesia. Berbekal kendaraan pribadi dan umum, para jamaah baik laki-laki maupun perempuan disegala usia. Cukup, antusias mengikuti rangkaian acara Haul KH Chamim Djazuli (Gus Miek-red) ke-32 dan istri beliau Hj Lilik Suyati ke-5.

    Selama acara berlangsung, suasana khidmat dan penuh ketenangan menyelimuti jamaah Semaan Al-Qur’an Moloekatan Haul Gus Miek ke-32 berdasarkan informasi panitia kurang lebih sebanyak 60-65 ribu orang berbondong-bondong hadir. Selain melakukan sholat berjamaah 5 waktu rangkaian kegiatan majelis ini juga diisi dengan lantunan suara para hafidz secara bergantian membaca seluruh 30 juz Al-Qur’an dari pagi sampai malam hingga selesai. Menambah daya tarik, dan ciri khas tersendiri majelis pengajian tersebut.

    Tak hanya sampai disitu, amalan ibadah lainya juga telah tersusun rapi oleh panitia meliputi, pembacaan tahlil, Dzikrul Ghofilin, pembacaan Syi’ir Ya Arhamarohimin, Syi’ir Ya Rohmatullohi Zuri, dilanjutkan mendengarkan nasihat dari putra Gus Miek yakni KH Tijani Robert Saifunawas atau yang akrab disapa Gus Robert.

    Kemudian, dilanjutkan Ihda’ul Fatihah, pembacaan Syi’ir Ya Halim Ya Hannan oleh cucu Gus Miek yakni KH Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa Gus Thuba. Di akhiri dengan membaca Doa Khotmil Qur’an secara bersama-sama.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Wartatransparansi tradisi Semaan Al-Qur’an, yang berarti mendengarkan pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama, telah rutin dilaksanakan oleh para jamaah Semaan Al-Qur’an Moloekatan Gus Miek. Disinyalir dengan mendengarkan Al-Qur’an secara khusyuk, jamaah dapat lebih mudah untuk mengenali kelemahan dan kekurangan diri sendiri.

    Baca juga :  Puluhan Calon Tenaga Kesehatan di Kabupaten Kediri Peroleh Beasiswa Mahasiswa Becak Kari

    Hal ini diungkapkan oleh Penasehat Moloekatan Gus Miek, Cholil Hasyim, bertempatan Haul ke-32 Gus Miek, dan Hj Lilik Suyati ke-5 mengusung tema menanggulangi pecah belah umat. Ia merasa tergugah dengan tema tersebut sebagai upaya mempererat persatuan, dan kesatuan umat Islam ditengah perbedaan pandangan, aliran bahkan kepentingan politik. Hal ini telah di ajarkan sesuai dengan konsep gaya pemikiran Gus Miek.

    ” Gus Miek memiliki konsep segitiga pengaman diwujudkan berupa tradisi Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin dengan harapan segenap jamaah dapat tahu akan dirinya, mengoreksi diri, dan mawas diri,” ucapnya, Kamis, (20/6/2024) malam.

    Menurut Cholil, jamaah Semaan Al Qur’an Moloekatan Gus Miek harus dapat menyeimbangkan antara hubungan vertikal dengan hubungan horizontal. Al-Qur’an juga telah mengajarkan agar tidak hanya beribadah kepada Allah tetapi juga untuk berbuat baik kepada sesama.

    Dalam setiap tradisi Semaan Al-Qur’an yang dipimpinnya semasa hidup, Gus Miek. Kata Cholil beliau selalu menyampaikan pesan penting ini kepada jamaah yakni jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain.

    Pesan ini menjadi salah satu nilai utama yang senantiasa diingat dan dijalankan oleh jamaah hingga hari ini.

    ” Sebagai jamaah Semaan Al-Qur’an, kita diajarkan tidak memiliki apapun kecuali Allah SWT, kemudian kita tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Maka bila itu terwujud niscaya menciptakan persatuan kesatuan,” ungkapnya.

    Baca juga :  Puluhan Calon Tenaga Kesehatan di Kabupaten Kediri Peroleh Beasiswa Mahasiswa Becak Kari

    Momen emosional terjadi ketika Gus Robert, salah satu putra Gus Miek, tak kuasa menahan isak tangis saat mengenang sosok ayahnya yang begitu berpengaruh dalam kehidupannya dan para jamaah.

    Dalam salah satu sesi mendengarkan nasihat, Gus Robert duduk di atas panggung acara mengenakan pakaian jas hitam dibalut kain slayer warna merah, didampingi oleh putranya Gus Thuba, dan juga para hafidz Qur’an selama kurang lebih 6 menit.

    Tampak dua kali, cucu pendiri Ponpes Al Falah Ploso Kediri tersebut melintangkan tetesan air mata. Gus Robert menyampaikan ceramah mengangkat topik perjuangan ayahandanya membentuk Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin, serta mengenang momen di haul ke-30 dua tahun lalu, di mana dirinya memilih untuk tidak memberikan ceramah atau nasihat kepada jamaah dengan mengunakan campuran bahasa jawa dan Indonesia. Agar lebih mempermudah memahami materi yang disampaikan oleh Gus Robert Wartatransparansi mencoba membantu menerjemahkanya.

    ” Ketika itu saya tidak seperti biasanya menyampaikan nasehat atau ceramah. Alasan saya saat itu adalah seolah-olah saya mendengar suara almarhum Gus Miek,” ujarnya sambil tertangis membawa secarik kertas tisu.

    Tangisan Gus Robert membangkitkan emosi jamaah yang hadir. Banyak di antara mereka yang terharu, mengingat betapa besar pengaruh Gus Miek dalam kehidupan mereka. Keharuan semakin terasa saat Gus Robert kembali meneteskan air mata untuk kedua kalinya, menegaskan betapa mendalamnya ikatan batin antara dirinya dan para jamaah Semaan Al-Qur’an Moloekatan Gus Miek.

    Baca juga :  Puluhan Calon Tenaga Kesehatan di Kabupaten Kediri Peroleh Beasiswa Mahasiswa Becak Kari

    ” Saya merasa semua jamaah Semaan Al-Qur’an Moloekatan ini adalah bagian dari hidup saya,” ucap Gus Robert dengan suara parau, diiringi isak tangis dari jamaah di sekitarnya.

    Haul Gus Miek ke-32 ini menjadi lebih dari sekadar acara peringatan. Ini adalah momen refleksi yang dalam, mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia, serta terus mengamalkan ajaran-ajaran Gus Miek yang menekankan kerendahan hati dan introspeksi diri.

    Dengan semangat yang diwariskan oleh Gus Miek, diharapkan para jamaah dapat terus menghidupkan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan ajaran Gus Miek sebagai pedoman dalam mencapai kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah. Haul ini membuktikan bahwa ajaran Gus Miek tetap hidup dan terus menginspirasi banyak orang hingga hari ini.

    Untuk diketahui, KH. Chamim Djazuli lahir pada 17 Agustus 1940 ia adalah anak kandung dari KH. Ahmad Djazuli Utsman, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur.

    Ia terkenal sebagai seorang wali (kekasih Allah) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar Pesantren untuk berdakwah. Gus Miek juga terkenal sebagai wali yang memiliki banyak karomah (kelebihan).

    Namun pada 5 Juni 1993 atau bertempatan pada 14 Dzulhijjah 1413 Hijriah Gus Miek wafat, dikebumikan di area Makam Aulia di Dusun Tambak Desa Ngadi Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. (*)

    Reporter : Moc Abi Madyan

    COPYRIGHT © 2024 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan