Sabtu, 15 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    OpiniTajukMenjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Tinggal menghitung dengan hitunga jari bulan besar (Dzulhijjah) akan hadir menjumpai umat Islam seluruh dunia. Bulan ini juga tetenger manusia pertama di muka bumi, Nabi Adam Alaihissalam bersama Ibu Hawa, setelah melakukan taubat bertahun tahun, dalam perjalanan berbeda jalur dipertemukan di Padang Arafah, di Bukit Nur, diterima segala amal ibadahnya dan diampuni seluruh khilaf dan kesalahan ketika melakukan pelanggaran di surga.

    Menjaga Marwah bulan Besar (Dzulhijjah) adalah sunatullah, sebagai hakiki umat manusia untuk melakukan kontemplasi total mengevaluasi dan melanjutkan amanah meniti kehidupan untuk mencapai kemuliaan, menjaga kesucian dan memohon ampunan untuk disucikan kembali seperti manusia pertama di muka bumi, Adam dan Hawa.

    Bagi umat Islam seluruh dunia dan penanggalan Jawa, bahwa bulan Besar (Dzulhijjah) adalah bulan terakhir atau bulan ke-12. Sehingga kontemplasi (perenungan) lebih dalam dan lebih fokus, supaya benar-benar dapat memanfaatkan martabat bulan penuh hikmah ini. Sebuah keniscayaan bulan ini sebagai analisis dan evaluasi dalam beribadah, terutama menjaga martabat bangsa dan negara.

    Dalam budaya Jawa, bulan besar digunakan untuk melaksanakan akad nikah dan diyakini sebagai awal dalam membina rumah tangga yang baik. Juga bagi orang tua yang menikahkan anaknya akan mendapat keberkahan dunia maupun akhirat. Inilah salah satu peringatan kepada suku Jawa bahwa bulan Besar agar aroma marwah penuh dengan hikmah dan bergelimang barokah terus terjaga.

    Bagi umat Islam, bulan Dzulhijjah, juga merupakan salah satu bulan suci dalam agama Islam, tidak hanya dikenal sebagai bulan yang mengandung ibadah haji, tetapi juga memiliki keutamaan istimewa pada bulan ke-12 ini.

    Keutamaan bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan yang luar biasa. Di antara keutamaannya adalah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari yang amal shalihnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” Keutamaan ini menunjukkan bahwa Allah memberikan nilai yang tinggi kepada amal shalih yang dilakukan selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

    Sebagaimana Diriwayatkan Abu Hurairah, dari Rasulullah, beliau bersabda: Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah; satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan setahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar (HR. Tirmidzi, 3/122)

    Sedangkan fadhilah (keutamaan) puasa pada Hari Arafah, hari ke-9, yaitu Hari Arafah. Puasa pada Hari Arafah memiliki keutamaan yang besar, dimana Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Hari Arafah akan menghapuskan dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang. “Oleh karena itu, menjaga puasa pada Hari Arafah adalah kesempatan emas untuk mendapatkan pengampunan dan keberkahan puasa Hari Arafah.

    Sebagai sabda Nabi Muhammad, “Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

    Pada hari Arafah itulah puncak ibadah haji di Saudi Arabia. Sebagai sabda Rasulullah, “Ibadah adalah wukuf di Arafah”. Sehingga seluruh jamaah haji diwajibkan berada di Arafah sepanjang nafas masih ada. Walaupun sakit keras atau sudah menjelang ajal, panitia haji tetap membawa ke Arafah untuk ikut wukuf

    Jutaan Muslim dari seluruh dunia berbondong-bondong ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Karena melaksanakan ibadah haji adalah salah satu amal paling mulia yang dapat dilakukan. Namun, bagi mereka yang tidak dapat menjalankan ibadah haji, masih ada peluang untuk memperoleh pahala dan keberkahan dengan melakukan amal ibadah yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah.

    Amal Ibadah yang Dianjurkan
    Selama bulan Dzulhijjah, terdapat sejumlah amal ibadah yang sangat dianjurkan, antara lain:
    a. Meningkatkan kualitas shalat, baik dengan memperbanyak shalat sunnah maupun shalat berjamaah.
    b. Membaca Al-Qur’an secara rutin dan memperbanyak dzikir serta doa.
    c. Membaca istighfar (memohon ampunan) secara berulang-ulang.
    d. Bersedekah dan berinfak kepada yang membutuhkan.
    e. Melaksanakan qurban, yaitu menyembelih hewan kurban sebagai bentuk pengorbanan dan ibadah kepada Allah.

    Salah satu keutamaan lain ialah menyiarkan Hari Raya Idul Adha, yang juga diberi makna hari raya Besar karena disunnahkan bertakbir sampai Hari Tasyrik, dimana Hari tasyrik merupakan hari umat Islam masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban. Hari tasyrik ini jatuh setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Tasyrik dalam bahasa Arab berasal dari kata syarraqa, yang artinya matahari terbit atau menjemur sesuatu. Bahwa berkurban itulah menjemur hewan kurban sebagai amalan berkurban dengan pahala tidak ternilai. Dengan syarat dan rukun begitu sempurna.

    Bulan Besar (Dzulhijjah) adalah bulan akhir menuju bulan Muharam (Suro, Jawa). Bulan akhir ini juga berada di tengah tengah antara dua bulan haram dari 4 bulan dalam Islam. Dimana berdasarkan hadits bahwa dapat disimpulkan ada empat bulan yang disebut haram itu ialah Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.

    Begitu besar keutamaan bulan Besar (Dzulhijjah), juga sebagai pintu menuju keutamaan mensucikan diri secara totalitas mengawali perhitungan kehidupan di bulan Muharam (Suro). Semoga dengan sungguh sungguh menjaga bangsa dan negara, tidak KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sudah jelas merugikan itu. Mari bulan Besar bersama menjaga marwah dengan ibadah semata mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    COPYRIGHT © 2024 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan