Sabtu, 15 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    OpiniAkan Dibawa Kemana Magetan?

    Akan Dibawa Kemana Magetan?

    Oleh : Muries Subiyantoro

    Akhir-akhir ini perkembangan politik lokal di Magetan menjelang pendaftaran resmi Paslon bulan Agustus mendatang kian hari kian “meriah”. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya individu-individu yang mendaftar secara resmi ke partai politik.

    Setidaknya sampai opini ini ditulis sudah ada 8 (delapan) orang kandidat yang mendaftar, baik sebagai bakal calon bupati maupun bakal calon wakil bupati, mereka antara lain Nanik Endang Rusminiarti, Sutikno, Sujatno, Ida Yuhana Ulfa, Ki Agus Muhammad Syidik, Mohamat Dwi Suntoro, Purbodjati, dan Basuki Babussalam. Dan dimungkinkan dalam beberapa minggu ke depan masih akan ada figur-figur lain yang akan menyusul ikut mendaftar.

    Banyaknya figur yang mendaftar saat ini, di satu sisi sangat menggembirakan, ketika di awal-awal partai membuka pendaftaran terkesan masih sepi pendaftar, tapi ternyata saat ini sudah mulai bermunculan kandidat yang berani resmi mendaftar. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan dari publik, apakah mereka para kandidat yang mempunyai nyali untuk ikut mendaftar tersebut sudah memiliki gagasan, konsep, dan pemikiran akan dibawa kemana Magetan ke depan?

    Dengan semakin banyaknya kandidat yang muncul di permukaan, memungkinkan publik untuk memiliki alternatif-alternatif pilihan untuk memilih calon pemimpin lokal secara bervariatif. Namun, publik juga menginginkan bagaimana sebenarnya konsep yang akan dibawa oleh para kandidat yang ada di dalam memajukan dan mensejahterakan Magetan.

    Penting kiranya mulai saat ini, publik disadarkan untuk memilih calon pemimpin yang memiliki visi, misi dan gagasan yang inovatif, kreatif seiring dengan perkembangan jaman, teknologi dan informasi serta mampu membawa Magetan menjadi terdepan. Publik saat ini juga sudah harus terus diberi edukasi untuk memilih calon pemimpin yang tidak hanya sekadar mampu berbagi-bagi “rejeki” melalui berbagai “serangan”, apakah “serangan fajar” maupun bentuk “serangan-serangan” lain.p

    Karena jika hanya pikiran sesaat “NPWP-No Piro Wani Piro”, maka ibaratnya kita hanya akan sekadar “beli-putus”, setelah “transaksi” selesai maka tidak akan ada pertanggungjawaban etik dan moral, baik bagi pemimpin yang terpilih dan maupun bagi masyarakat sebagai pemilih. Dan jika hal ini akan terus terulang, maka niscaya tidak akan ada perkembangan di Bumi Mageti kita tercinta ini.

    Beberapa Tantangan
    Magetan saat ini memiliki berbagai tantangan nyata, diantaranya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, pengembangan sektor wisata, kemiskinan, ketimpangan antar wilayah, pengangguran terbuka dan bencana alam serta tantangan-tantangan lain yang perlu segera dicarikan solusi bersama.

    Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan; dan kehidupan yang layak. Oleh sebab itu tantangan pemimpin ke depan adalah bagaimana berbagai dimensi di atas yang berkaitan dengan berbagai macam faktor dapat dipadukan dan ditingkatkan indeksnya. Misalnya untuk mengukur dimensi kesehatan digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Untuk mengukur dimensi pengetahuan, digunakan gabungan indikator melek huruf dan rata-rata lama sekolah.

    Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.

    Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, maka tantangan bagaimana meningkatkan perekonomian daerah melalui keberpihakan dan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro sebagai pilar ekonomi kerakyatan serta pemberdayaan masyarakat desa benar-benar bisa terlaksana dengan baik di lapangan, tidak hanya sekadar jargon semata.

    Magetan sebagai Kota Wisata memiliki tantangan bagaimana membangun pariwisata berkelanjutan sekaligus mampu melestarikan budaya yang ada.

    Yang tak kalah penting adalah bagaimana pemimpin yang baru nanti akan mampu mengentaskan kemiskinan khususnya menurunkan bahkan menihilkan warga masyarakat kategori miskin ekstrem. Warga kategori miskin ekstrem hanya bisa memenuhi kebutuhan makan keluarga, tanpa mampu bisa memenuhi kebutuhan lainnya.

    Angka pengangguran terbuka di Magetan, tahun ini mencapai 4,16 persen atau setara dengan 16 ribu orang menjadi tantangan yang tidak kalah pentingnya untuk dipecahkan bersama-sama stakeholders yang ada dibawah kepemimpinan yang baru nanti.

    Magetan selama ini juga dikenal sebagai wilayah atau daerah rawan bencana, sehingga dibutuhkan kemampuan untuk mitigasi bencana sejak dini.

    Para calon pemimpin nanti diharapkan mampu mengelaborasi semua pihak terkait untuk melakukan kewaspadaan dini terhadap potensi bencana yang muncul, sekaligus mampu mengedukasi masyarakat yang tinggal di tempat rawan bencana untuk terus memiliki kemampuan mawas diri.

    Untuk itulah sebenarnya diharapkan para kandidat yang memiliki keberanian mendaftar ke partai politik saat ini, sudah saatnya unjuk gigi untuk berani menyampaikan gagasan, pendapat, dan pikirannya akan dibawa Magetan ke depan.

    Terlepas apakah mereka nanti memperoleh rekom atau tidak, tetapi masyarakat juga memiliki hak untuk bisa melihat, membaca, dan mendengar isi otak dan pikiran para calon pemimpinnya nanti. Magetan Ngumandang Yen Kabeh Tumandang! (*)

    *) Penulis adalah Alumni Ilmu Politik FISIP Unair Surabaya, Pegiat Demokrasi, dan Penggagas LoGoPoRI
    (Local Government and Political Research Institute) Magetan.

    COPYRIGHT © 2024 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan