Rabu, 24 April 2024
26 C
Surabaya
More
    Jawa TimurKediriPeluang Mengurangi Ratusan Ton Sampah di Kota Kediri

    Peluang Mengurangi Ratusan Ton Sampah di Kota Kediri

    KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Keberadaan sampah merupakan permasalahan yang tidak ada habisnya. Tidak hanya di Indonesia,namun juga secara global. Dimana jumlah sampah semakin bertambah setiap harinya, yang berasal mulai dari rumah tangga, rumah sakit, hingga industri.

    Faktanya, hingga saat ini sampah hanya dilarikan ke tempat pembuangan akhir (TPA).

    Di Kota Kediri, meski sudah ada Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 30 Tahun 2023 tentang Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai yang telah disahkan sejak bulan Juli tahun lalu.

    Persoalan sampah masih menjadi hal pelik di daerah tersebut. Dimana setiap harinya, 140 ton sampah masuk, dan menggunung di TPA Klotok, bahkan, dibutuhkan puluhan armada kendaraan guna mengangkut sampah ke TPA tersebut.

    ” Di TPA Klotok, kapasitas sampah masuk 140 ton per hari, dengan mengunakan armada pengangkut roda 4 sebanyak 24 unit, dan 21 unit armada roda 3,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Imam Muttakin, melalui Kabid Kabid pengelolaan sampah, Sentot Iswanto.

    Bahkan, Pemkot Kediri melalui DLHKP setiap harinya, telah berupaya mengerahkan puluhan armada kendaraan baik roda empat dan tiga mengangkut sampah ke TPA Klotok.

    ” Kurang lebih 90 – 100 rit, armada kendaraan masuk ke TPA, dan biasanya mengangkut 60% sampah organik dan 40% sampah anorganik per hari,” terang Sentot.

    Baca juga :  PUPR Kota Kediri Tuntaskan Pengerjaan Rehabilitasi Saluran Sungai Bayak Kelurahan Gayam

    Saat Wartatransparansi mencoba mendatangi lokasi TPA Klotok di Kota Kediri, sebagian besar sampah yang masuk ke TPA tersebut. Tampak didominasi oleh bekas kantong plastik yang mungkin sulit terurai.

    Meski ada anjuran pemerintah untuk mengurangi sampah plastik, nyatanya anjuran tersebut tidak banyak berpengaruh terhadap jumlah sampah yang dibuang setiap harinya.

    Artinya juga jika hal ini terus berlangsung, maka dikhawatirkan Pemkot Kediri bakal kewalahan menyediakan lahan. Bila persoalan sampah disinyalir bakal menggunung, jika tidak terselesaikan secara tepat.

    Di sisi lain, sampah yang tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan sampah menjadi tantangan bersama bagi pemerintah dan masyarakat.

    Tujuannya jelas, guna mengurangi jumlah sampah setiap tahun, sekaligus akan berdampak pada lingkungan yang sehat, bersih dan nyaman.

    Upaya untuk mengatasi dan mengurangi jumlah sampah plastik di Kota Kediri juga menuai respon dari Ketua Yayasan Hijau Daun Endang Pertiwi, mengatakan mengurai persoalan pasokan puluhan ton sampah di TPA Klotok akibat kebiasaan masyarakat yang sulit diubah.

    Akibatnya, di TPA tersebut muncul tiga jenis sampah yakni organik, anorganik, dan residu atau B3. Residu atau B3 adalah bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan atau kelangsungan hidup manusia, dan makhluk lain, serta lingkungan hidup. Misalnya kalung, racun serangga, bekas baterai, limbah masker bekas dan sebagainya.

    Baca juga :  Bupati Mas Dhito Ajak Masyarakat Sukseskan Pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Kediri

    ” Residu atau B3 inilah yang seharusnya berada di TPA Klotok karena tidak bisa dimanfaatkan. Sedangkan, jenis sampah organik dan anorganik masih bisa di manfaatkan oleh masyarakat bila mendapat edukasi secara tepat,” kata aktivis lingkungan yang juga mengusulkan Perwali nomor 30 tahun 2023.

    Endang menguraikan, oleh karena itu, kebutuhan untuk mengklasifikasikan sampah menjadi penting, baik di rumah maupun di lingkungan industri. Meski terkesan sepele, namun kegiatan pemilahan sampah dapat memberikan dampak manfaat dan juga dapat menjadi salah satu bidang ekonomi.

    Selain dapat dilakukan dengan melakukan daur ulang khususnya sampah organik. Warga juga bisa mengumpulkan sampah anorganik di bank sampah, pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R), maupun tempat pembuangan sampah (TPS) terdekat.

    Contohnya di tempat yang ia kelola yakni yayasan hijau daun warga bisa mengumpulkan sampah dengan berat tertentu, terutama botol bekas minuman untuk ditukar dengan kebutuhan pokok, seperti gula pasir, minyak goreng, kopi, sabun, dan lain-lain. Dengan catatan warga membawa wadah yang telah pihaknya siapkan untuk digunakan seterusnya atau sifatnya isi ulang.

    Lanjut Endang, mengatakan, hijau daun telah bekerja sama dengan instansi pengadaian. Jika warga menabung bisa menukarkanya berupa emas.

    Baca juga :  Pembangunan Jembatan Jongbiru Dipastikan Rampung Pertengahan 2024

    ” Misalkan harga batas bawahnya botol Rp 3.000 per kilogram. Kemudian warga membawa sampah botol sebanyak 3 kilogram jadi tinggal mengakalikan dan mau ditukarkan sesuai kebutuhan, akan kita terima. Maka penerapan bank sampah sangat mudah tinggal bagaimana menumbuhkan jiwa kerelawanan, kepada masyarakat,” terangnya.

    Upaya lain, kata Endang yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengurangi jumlah sampah di Kota Kediri selain penegakan Perwali nomor 30 tahun 2023. Ia mengusulkan agar semua pegawai negeri sipil (PNS) dapat memberikan contoh dengan memiliki kartu tanda anggota (KTA) bank sampah di masing-masing kelurahan maupun kecamatan, hal ini berdasarkan pengalamannya ketika berkunjung ke Padang Sumatera Barat, bahkan bila pegawai atau tokoh masyarakat tidak memiliki KTA bank sampah akan memperoleh teguran oleh pemerintah maupun aparat setempat.

    ” Ide dan inspirasi tersebut saya dapatkan setelah berkunjung ke Padang. Pemerintah daerah di sana mewajibkan pegawai atau tokohnya memiliki KTA bank sampah, dan wajib menabung di bank sampah tersebut,” papar Endang.
    Ia yakin hal ini akan lebih efektif dan ia optimis permasalahan pengumpulan sampah di TPA Kloto Kota Kediri dapat teratasi dengan baik, jika pemerintah dan masyarakat mempunyai tanggung jawab bersama, bila dibandingkan sampah terbuang sia-sia di TPA.

    ” Kalau warga memilah sampah baik secara organik dan anorganik kemudian di bawa ke bank sampah, maka keberadaan TPA hanya menerima residu atau B3,” pungkasnya. (*)

    Reporter : Moch Abi Madyan

    Sumber : Wartatransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan