Minggu, 25 Februari 2024
25 C
Surabaya
More
    OpiniTajukKetika Pemilu di Valentine Day, tidak Ada Aroma Kasih Sayang

    Ketika Pemilu di Valentine Day, tidak Ada Aroma Kasih Sayang

    Tinggal dalam hitungan jari saja Pemilu 2024, memilih presiden dan wakil presiden, Dewan Perwakilan Daerah RI, Dewan Perwakilan Rakyat RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota akan terselenggara dengan populer disebut pesta demokrasi akan digelar di dusun, desa dan kampung-kampung InsyaAllah cukup semarak.

    Hanya saja perhelatan Pemilu 2024, walau bertepatan dengan Hari Kasih Sayang (Valentine day) yang diperingati setiap tanggal 14 Februari, dimana pada hari tersebut banyak orang mengungkapkan rasa sayang pada orang-orang terkasih melalui cara-cara romantis dan manis, bukan hanya pada kekasih, melainkan juga untuk orang tua, saudara, sahabat juga pada guru dan orang terkasih lainnya.

    Tetapi aroma “Pesta Demokrasi” Pemilu 2024 yang bertepatan dengan Valentine Day, justru tidak mengepulkan asap atau bau kasih sayang. Aroma itu seperti tertutup nafsu para calon sesegera mungkin memenangkan dan merebut kekuasaan dengan segala cara. Bahkan saling menjatuhkan sesama lawan.

    Seperti diketahui, Pemilu merupakan salah satu usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, hubungan publik, komunikasi massa, lobi dan lain-lain kegiatan. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selaku komunikator politik.

    Hari ini, ketika mendekati Pemilu 14 Februari 2024, justru  teknik agitasi dan propaganda, lebih mendominasi melalui berbagai arah komunikasi. Walau kadang sehat kadang juga tidak sehat. Kadang menyimpang kadang sengaja dibuat menyimpang.

    Pada Pemilu bertepatan Valentine Day, semestinya harus mengedepankan asih. Kata asih berarti cinta, mengandung makna nilai ontologis bahwa keberadaan ‘asih’ berasal dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga nilai asih menjadi landasan kehidupan dalam membangun keharmonisan hidup manusia. Secara singkat silih asih berarti saling menyayangi.

    Dengan mengedepankan “asih”, maka harapan Pemilu 2024 damai dan sejuk, akan nampak memancar pada pesta demokrasi. Bukan sekedar polesan atau sekedar menggelar sebuah pesta kerakyatan yang tidak mencerminkan “kebebasan rakyat” atau “kemerdekaan rakyat” menentukan sikap memilih para wakil di eksekutif tertinggi maupun legislatif hingga di wilayah kabupaten maupun kota.

    Apalagi, “asih” pada pemahaman lain adalah sebuah pengorbanan. Dimana menguji kemampuan untuk mengorbankan kepentingan individu, demi menjunjung tinggi kebenaran dan  untuk kepentingan yang jauh lebih besar. Sebagai ekspresi diri asih adalah kesetiaan hati nurani dalam menentukan sikap dengan tanpa tekanan atau pengaruh apapun.

    Sebagimana diketahui, demokrasi atau kerakyatan adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak yang sama untuk pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara ikut serta—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

    Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, adat dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara. Demokrasi juga merupakan seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan beserta praktik dan prosedurnya.

    Demokrasi mengandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

    Landasan demokrasi mencakup kebebasan berkumpul, kebebasan berserikat dan kebebasan berbicara, inklusivitas dan kebebasan politik, kewarganegaraan, persetujuan dari yang terperintah, hak suara, kebebasan dari perampasan pemerintah yang tidak beralasan atas hak untuk hidup, kebebasan, dan kaum minoritas.

    Pesta demokrasi memang tinggal beberapa hari saja karpet kebesaran digelar. Semoga benar-benar mampu menjaga marwah demokrasi secara sungguh-sungguh. Bukan sekedar “Membeli Demokrasi” untuk kepentingan menguasai “Kursi Kekuasaan”.

    Mengapa? Jika demokrasi sudah keluar dari riil dalam menegakkan kebenaran dan kejujuran guna memperoleh sekaligus mencapai keadilan hakiki. Maka tidak akan ada pemilihan secara jurdil dalam memberi kan kebebasan pemilih menentukan wakil rakyat sesuai hati nurani suci. Semata mata bukan karena politik uang atau politik kekuasaan. Semoga. ! (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : Wartatransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan