Sabtu, 18 Mei 2024
31 C
Surabaya
More
    Renungan PagiAyo, Waktunya Kita Bangkit!

    Ayo, Waktunya Kita Bangkit!

    KETIKA ada salah satu senior, meminta Al Faqir untuk terjun ke dunia politik tak membuatku tertarik. Mereka berpendapat bahwa dibutuhkan figur yang punya komitmen, independen, dan keikhlasan dan mempunyai komitmen ikut berperan aktif, Al Faqir mengambil dari kesempatan lain, yaitu berbagi informasi aspirasi dengan siapapun yang ditakdirkan kesempatan untuk membaca, apalagi medsos dan media online lagi ngetren.

    Kebetulan sekali, profesi jurnalis yang Al Faqir jalani lebih 30 tahun dan atas saran rekan-rekan senior bisa menampung tulisan atau opini di beberapa media online, termasuk momen kemerdekaan ini sebagai ajang berkreasi dan berkarya.

    Alhamdulillah, semoga dengan narasi sederhana menggunakan bahasa kampung mampu menjadi inspirasi bagi siapapun untuk lebih mencintai negeri Indonesia yang sudah tersohor dengan berbagai kemolekan alam, habibat flora fauna di bentang khatulistiwa sebagai permadani surga dunia.

    Terlepas adanya kemerosotan moral, degradasi etika, dan menjamurnya pejabat korup dengan menabur virus KKN, kita harus yakin dengan semangat pantang menyerah, memohon kepada Sang Khalik, selalu berikhtiar mengatur strategi di segala aspek kehidupan, termasuk melalui medsos bisa menumbangkan rezim yang oligarki, tidak berpihak kepada rakyat dan terperangkap oleh mafia super power.

    Setidaknya, kunci menuju kesuksesan dan kebangkitan nasional mampu menumbuhkan fanatisme kebangsaan. Rasulullah SAW merupakan pribadi tauladan, Uswatun Hasanah dan Akhlakul Karimah dalam mengemban misi cinta negeri. Salah satu doa (sabda) beliau:
    اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ (رواه البخارى)
    “Ya Allah, jadikan kami cinta Madinah, sebagaimana cinta kami kepada Makkah, atau melebihi Makkah.” (HR Bukhari)

    Beliau Rasulullah yang dilahirkan di Mekkah pada hari Senin, 12 Rabial Awal tahun Gajah (571 Masehi), bila tidak ada perintah Allah SWT untuk hijrah ke Madinah (Yasrib), pasti akan tetap bertahan di tanah kelahiran. Begitu pula saat dalam syiar di Madinah, beliau juga sangat mencintai bumi Madinah hingga wafat dan dikebumikan di areal masjid Nabawi. Artinya, kita sebagai umat Baginda Rasulullah, juga sepatutnya tetap meniru asal usul kita, tempat kita dilahirkan, tempat kita dibesarkan dan di mana bumi kita pijak, yaitu Indonesia.

    Nasehat dan motivasi dari orang alim agar kita konsisten (istiqamah), merupakan wujud kebanggaan tersendiri, sehingga benih-benih ketulusan, pengabdian dan kepercayaan untuk mendapatkan ‘dekengan pusat’ yaitu Sang Maha Pengatur alam semesta, adalah pegangan utama dalam berpikir dan bertindak.

    Maka hal tersebut sangat selaras dengan firman Allah SWT dalam QS Luqman ayat 13:
    وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ (١٣)
    “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

    Yakinlah, bila tali Allah SWT menjadi pegangan tentu akan memudahkan untuk mewujudkan Indonesia menyongsong generasi emas, di mana Indonesia mampu sebagai pusat peradaban dunia, mercusuar bagi kemaslahatan umat di bumi.

    Disinilah peranan adanya koneksi, hubungi diplomat antarbangsa, saling mengenal dan bertukar pikiran, serta kerjasama saling menguntungkan untuk mempererat tali persaudaraan, bukan sekedar formalitas seperti PBB yang tetap dimonopoli negara superpower dan pemegang hak veto.

    Allah SWT sudah Berkehendak dan memberikan peringatan sesuai firmanNya di QS Al-Hujurat ayat 13:
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ (١٣)
    “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

    Tanpa mengurangi rasa hormat Al Faqir terhadap siapapun yang ingin mengabdi pada negara dan bangsa ini, semoga para pemimpin, penguasa, dan pengusaha diberikan hidayah sehingga benar-benar menjadi Khalifah di negeri gemah ripah loh jinawi dan menjadikan Indonesia negara: Baldathun Thoyyibatun warobbul Ghofur. Ayo, waktunya kita bangkit. Merdeka. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, walillahilham. (*)

    Penulis HS Makin Rahmat SH MH, Santri Pinggiran, Wartawan UKW Utama No. 2550-PWI/WU/DP/IV/2012 dan Ketua SMSI Jatim.

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan