Siapa ke Surga, Siapa ke Neraka?

Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (22)

Siapa ke Surga, Siapa ke Neraka?
Wina Armada Sukardi

Siapa sangka Umar bin Kattab, yang sebelumnya kafir penyembah berhala dan pembeci utama Nabi Muhammad sertab sudah berkali-kali berniat membunuh Nabi Muhammad, tiba-tiba setelah mendengar ayat suciAl Quran, mendapat hidayah langsung memeluk islam. Belakangan bahkan dua menjadi khalifah atau pimpinan kedua Islam sewafatnya Nabi Muhammad.

Umar bin Kattab yang sudah di ujung neraka, terselamatkan menjadi pejuang islam.
Kita, orang muslim, masih ada kemungkinan mendapat hidayat dalam versi lain. Barangkalinhidup kita yang sebelumnya berlumur dosa, dengan hidayat itu dapat masuk surga.Siapa yang faham?
Namun sebaliknya, kita yang kelihatan begitu alim, sholeh, taat dan tunduk kepada Allah, sholat wajib dan sunnah tak pernah terlewatkan, sebenarnya ada tindakan kita yang tercela yang tersembunyi yang menghalangi kita ke surga?
Pada sholat subuh berjemaah di mesjid , kita tidak dapat menikaib derajat seseorang di hadapan Allah dari penampilan semata.

Kita tidak dapat memandang tinggi rendah orang bakal masuk surga atau neraka dari busana yang dikenakan
masing-masin jemaah. Kalau pakiannya rada belel, butut, berarti dari kalangan ekonomi menegah bawah, kita pikir kemungkinan besar masuk neraka. Belum tentu.
Sebaliknya yang pakiannya perlente, berarti dari golongan ekono menengah atas, bakalan masuk neraka. Juga belum tentu.

Kaya atau miskin, semuaya belum tentu masuk surga atau masuk neraka.
Begitu pula yang memiliki jabatan tinggib, atau beduit selangit, belum dapat dipastikabb masuk surga atau neraka. Sama yang hamba sahaya, pun belum tentu masuk surga atau neraka.

Kita tidak dapat pula menduga-duga seseorang masuk surga hanya dari semata-mata mereka rajin datang sholat subuh berjemaah di mesjid paling awal, doanya paling merdu, posisinya sebagai imam, bilal, pengurus atau rakyat sahaya. Kita tidak pernah tahu.

Maka kita tak boleh pongah. Tak boleh memandang rendah kepada jemaah lain. Penilaian hanya ada di mata Allah.
Sholat subuh berjemaah di mesjid, memang tak menjamin seseorang bakalan pasti masuk surga.

Meski sudah begitu banyak efort atau “pengorbanan,” kita untuk setiap hari sholat subuh berjemaah di mesjid, tak menjamin jalan lapang kita ke surga.

Kendati demikian setidaknya, sholat subuh berjemaah di mesjid, memberikan kredit point kepada kita sebagai manusia pendamba surga. Bagaimana pun melaksanakan sholat subuh berjemaah di mesjid termasuk menjalankan perintah Allah. Sejelek-jeleknya kita, dengan sholat subuh berjemaah di mesjid, setidaknga sudah menunjukkan kepada Sang Maha Kuasa, terlepas dari kelemahan yang ada, kita sudah berupaya mewujudkan perintah Allah.
Kita harus berkeyakinan, sholat subuh berjemaah di mesjid, setidaknya dapat memberikan kita tambahan ke timbangan yang baik.

Soal masuk surga dan neraka, memang sepenuhnya Alllah yang menentukan. Kita tidak dapat mengintervensi otoritas Allah.
Kita hanya berkeyakinan, siapa yang menjelankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, oleh Allah bakal dibukakan pintu surga, termasuk yang menjalankan sholat subuh berjemaah di mesjid. Walaupun kita sadar sadar-sesadarnya, semuanya hak mutlak Allah.

Nah, jika kita saja tidak dapat menentukan kita masuk surga atawa neraka, bagaimana pula kita dapat menentukan orang lain masuk surga atau neraka?
T a b i k. (*) Bersabung …..

WINA ARMADA SUKARDI, Wartawan dan Advokat senior dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Mihammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.