Selasa, 18 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    Renungan PagiBelajar Bersyukur, Puasa “Sepakbola”

    Belajar Bersyukur, Puasa “Sepakbola”

    Oleh Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi Wartatransparansi.com)

    Suasana ibadah puasa wajib pada bulan suci Ramadan, tiba-tiba terkagetkan ketika santer kabar FIFA membatalkan.  undian Piala Dunia U-20, sebagaimana dijadwalkan pada 31 Maret 2023, di Pulau Dewata Bali.

    Kabar pembatalan itu disampaikan eksekutif komite (Exco) PSSI Arya Sinulingga, dengan harap harap cemas seraya menunggu kelanjutan dari keputusan FIFA tiba-tiba membatalkan. (*)

    Belum berhenti debar jantung menunggu kepastian, nasib Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 sebagai lompatan sekaligus upaya meraih prestasi dunia dan internasional, berbagai komentar tentang penolakan tim nasional Israel semakin kencang.

    Salah satu catatan penting bahwa ketika Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah ada Government Guatantie dan hostes agrement. Hal itu berarti Pemerintah Pusat atau negara Indonesia sudah memberikan garansi berbagai standar dan kompetensi penyelenggaraan Piala Dunia. Sedangkan Pemerintah Provinsi atau Daerah, membubuhkan tanda tangan dengan jaminan sebagai pelaksana di daerah sesuai dengan standar dan kompetensi, terutama jaminan keamanan dan kenyamanan juga dapat mempersiapkan pertandingan dengan tanpa tekanan atau ketidakadilan bahkan ketidakamanan tim peserta menjurus kekisruhan.

    Gubernur I Wayan Koster dengan catatan wilayah Bali menjadi drawing menolak kehadiran Timnas Israel, Gubenrur Jawa Tengah Ganjar Prabowo, dengan jadwal Stadion Manahan Solo akan menjadi puncak Piala Dunia, untuk pertandingan final dan penutupan, juga membuat pernyataan yang sama, atau mengembosi hostess agreement. (Kesepahaman tuan rumah).

    Suasana puasa Ramadan kian mendekatkan pemain timnas Indonesia U-20 puasa “Sepakbola”. Karena impian akan berlaga di Medan Piala Dunia gagal total. Harapan ingin mempersembahkan permainan menawan prestasi membanggakan sirna sudah.

    Pelajaran paling berharga pengilhami PSSI bahwa pada saat menghadapi kekecewaan paling tinggi seluruh masyarakat, kesedihan bangsa dan negara, kerugian pada pencari nafkah dari pergelaran sepakbola adalah belajar bersyukur dengan “Puasa Sepakbola”

    Mengapa? Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan pada surat Ibrahim ayat 7
    “Waidz taadzana robbukum laingsyakartum laadzi daa nakum walaingkapartum inna adzabii lasyadidz. (Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan,”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka berarti azab-Ku Sangat Berat.”

    Pada saat FIFA sudah menjatuhkan putusan final mengikat, menghapus Indonesia sebagai tuan rumah (seperti pernah dialami Nigeria dua kali gagal tuan rumah karena kecurangan dan wabah, Yugosvia dan Irak karena peperangan), maka belajar bersyukur dengan mengambil hikmah dari semua “kebodohan” itu, dengan “Puasa Sepakbola”, memohon kepada FIFA hanya menghapus saja sebagai tuan rumah, tanpa sanksi atau hukuman lain.

    Bentuk syukur kedua, memohon dalam FIFA membantu transformasi industri sepakbola di era digital, kembali membimbing Indonesia (baca, PSSI) menyiapkan diri lebih baik, timnas maupun sarana prasarana, juga komitmen seluruh pemangku kepentingan.

    Akan menjadi pundi-pundi kerugian, jika tidak “Puasa Sepakbola”, tetapi terus saling menyalahkan yang sudah pasti tidak ada ujungnya. Bahkan akan menjadi catatan FIFA. Maka bentuk kekufuran (ketidakberyukuran) atas peristiwa ini harus segera diakhiri.

    Inilah hikmah peristiwa pada bulan suci Ramadan, jika mengambil hikmah dari niat dan keyakinan umat Islam berpuasa untuk mencapai derajat takwa, menjalan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

    “Puasa Sepakbola” bagi PSSI berarti untuk mencapai derajat kembali ke jalur menuju prestasi dunia. Dengan “bertakwa kepada FIFA”, yaitu menjalankan semua perintah FIFA dan menjauhi semua larangan FIFA. InsyaAllah dalam waktu tidak terlalu lama sepakbola Indonesia akan merdeka atau hari raya kembali.

    Tetapi kalau terus menerus membiarkan kegagalan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, dengan saling menyalahkan bahkan perang komentar di media, maka itulah kekufuran atau tidak bersyukur dan “tidak Puasa Sepakbola”, maka akan membuahkan kehancuran.

    Sebagaimana peringatan dari Sabda Nabi Muhammad SAW tentang puasa “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja.” (HR An-Nasai).

    Puasa hanya mendapatkan lapar dan haus karena ketidakmampuan menjalankan ketaqwaan secara sungguh. Demikian pula “Puasa Sepakbola” saat ini jika tidak mampu menjalankan perintah FIFA dengan sungguh-sungguh, maka akan melahirkan kekecewaan semakin mendalam.

    Mengkiaskan Puasa Ramadan dengan “Puasa Sepakbola” supaya upaya sepakbola menemukan kembali hari raya, kemerdekaan meraih dan merebut prestasi dunia dan internasional kembali terbuka.

    Masih sangat banyak kesempatan menanam kebaikan pada bulan suci Ramadhan, termasuk ketika memberi buka diberi pahala seperti pahala orang berpuasa, ketika bersodaqoh mendapat predikat sangat mulia, bahkan diamnya pun berpahala serta tidur karena semata-mata mengharapkan keridloan juga berpahala. Juga ibadah semalam lebih baik dari seribu bulan semata-mata karena Allah, karena mengharap ridlo Allah merupakan kesempatan yang sangat terbuka untuk mendapat petunjuk, pertolongan, permohonan kepada Allah SWT, dapat melaksanakan kebaikan-kebaikan itu.

    Dalam dunia sepakbola ibarat putusan FIFA menghapus tuan rumah Piala Dunia U-20 ibarat “Puasa Sepakbola”, maka kemampuan segera menjalankan perintah FIFA dan menjauhi larangannya. Jalan terbaik membangkitkan dan mengembalikan pembinaan sepakbola yang bermarwah demi mencapai prestasi dunia. InsyaAllah. (*)

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan