Selasa, 18 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    Renungan PagiKlasifikasi Puasa Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

    Diasuh oleh Univ. Darul Ulum Jombang, hari ke 6

    Klasifikasi Puasa Dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

    Oleh : Muhammad Najihul Huda, S.Pd., M.Pd (Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Darul ‘Ulum Jombang)

    Puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa, karena pemberian pahalanya langsung ditentukan oleh Allah SWT. Sebagaimana hadits qudsi :
    sallallahu’alaihi wa sallalm bersabda:

    كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

    “Setiap satu kebaikan anak adam akan dibalas dengan sepuluh kali kebaikan yang semisal dengannya hingga tujuh ratus kali lipat kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akab membalasnya”. (HR. Muslim)
    Dari hadits qudsi tersebut selayaknya menjadi pemicu semangat umat muslim untuk melaksanakan ibadah puasa.

    Dalam pelaksanaan puasa ramadhan telah banyak dijelaskan tentang syarat, rukun dan hal yang membatalkan. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pelaksanaan niat puasa. Aturan niat puasa dilakukan setelah shalat isya hingga waktu imsak. Jika tidak mengucapkan niat didalam waktu tersebut maka puasa kita tidak sah.

    Selain memperhatikan syarat dan rukun puasa, umat muslim selayaknya juga harus memperhatikan hal yang membatalkan ibadah dan pahala puasa. Supaya ibadah puasa yang dilaksanakan tidak sekedar mendapatkan kondisi tubuh lapar dan haus, seperti hadits kanjeng Nabi Muhammad SAW. :
    كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
    Artinya: Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapat secuil apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus. (Imam al-Ghazali, Bidayatu-l Hidayah, bab Adabu-sh Shiyam)

    Berkaitan dengan hal tersebut Imam Al-Ghazali memberikan klasifikasi terhadap ibadah seseorang sesuai dengan tingkatannya. Mengutip dalam kitab Ikhtisar Ihya Ulumuddin, beliau membagi tingkatan puasa menjadi tiga macam.

    Pertama, puasa umum atau puasanya orang awam. Ibadah puasa ini dilaksanakan dengan konteks fiqih, dengan hanya menahan perut untuk tidak makan atau minum, serta kemaluan dari melampiaskan syahwat. Dalam ketentuan dari waktu imsak hingga berbuka diwaktu maghrib. Ibadah puasanya jalan, namun ghibah, berbohong, adu domba dan lain sebagainya masih dilakukan.

    Kedua, puasa khusus atau puasa dengan tingkatan yang lebih tinggi yang biasa dilakukan oleh para ulama, wali hingga sholihin. Dalam tingkatan ini, seseorang tidak hanya meninggalkan makan dan minum. Namun juga meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan oleh seluruh unsur badan. Menjaga lisan, mata, hidung, telinga dari perbuatan yang bisa membatalkan pahala puasanya.

    Ketiga, puasa khususl khusus (paling khusus). Ibadah ini biasa dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang pilihan. Puasa model ini ialah selain meninggalkan perkara pada tingkatan pertama dan kedua, juga menahan hati dari hasrat dan pikiran duniawi. Serta memfokuskan hati dan fikiran untuk selalu mengingat Allah. Apabila ia lalai maka puasanya dianggap batal.

    Demikian klasifikasi tingakat ibadah puasa menurut Imam Al-Ghazali. Semoga kita diberikan kekuatan dan kesempatan untuk bisa naiki ke tingkatan kedua. Karena tanpa kemauan dan usaha yang besar, melaksanakan tingkatan pertama saja sangat susah. (*)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan