Minggu, 2 Oktober 2022
25 C
Surabaya
More
    NasionalJokowi Jamin Ketercukupan Pangan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global

    Jokowi Jamin Ketercukupan Pangan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global

    JAKARTA (WartaTransparansi.com) – Di tengah ancaman krisis pangan di tingkat global. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjamin ketercukupan pangan Nasional

    Komitmen disampaikan Jokowi usai menerima Penghargaan Sistem Pertanian-Pangan Tangguh dan Swasembada Beras Tahun 2019-2021 melalui Penggunaan Teknologi Inovasi Padi dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI), di Istana Negara, Jakarta, Minggu (14/8/2022).

    “Di tengah ancaman krisis pangan di tingkat global, sekali lagi pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi, menjamin ketercukupan pangan di dalam negeri, dan sekaligus memberikan kontribusi bagi kecukupan pangan dunia,” katanya.

    Jokowi menuturkan, pemerintah telah membangun sejumlah infrastruktur di bidang pertanian, mulai dari bendungan, embung, hingga jaringan irigasi guna mendukung peningkatan hasil produksi pertanian nasional.

    Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga memanfaatkan varietas-varietas unggul padi, melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi sehingga Indonesia dapat mencapai swasembada beras dengan produksi beras yang surplus selama tiga tahun terakhir.

    “Penghitungan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), stok kita di lapangan, jumlahnya juga di akhir bulan April 2022 tertinggi, yaitu 10,2 juta ton,” ujarnya.

    Baca juga :  Langkah Strategis Pemerintah Diungkap Dalam Bedah Buku Vaksinasi Covid-19

    Ia pun berharap agar para petani tidak hanya memproduksi komoditas pertanian yang dikonsumsi masyarakat, tetapi juga komoditas pertanian yang masuk pasar ekspor.

    “Kita juga harus terus mendorong ini agar kita tidak hanya memproduksi yang bisa kita konsumsi oleh rakyat kita saja, tetapi nanti apabila produksinya meningkat, kita juga harus mulai masuk ke pasar-pasar ekspor,” kata Jokowi.

    Tidak hanya bergantung pada komoditas beras, Kepala Negara juga mendorong diversifikasi pertanian.

    “Harus kita mulai untuk jenis-jenis bahan pangan yang lainnya. Telah kita mulai kemarin di Waingapu sorgum, di NTT sorgum, kemudian di beberapa provinsi jagung juga besar-besaran,” ujarnya.

    Dengan produksi jagung yang besar-besaran, lanjut Jokowi, impor jagung dapat ditekan dari 3,5 juta ton menjadi 800 ribu ton.

    “Ini sebuah lompatan yang sangat besar sekali. Kita harapkan dengan terus-menerus kita konsentrasi ke sana insyaallah kita sudah tidak impor jagung lagi dalam dua-tiga tahun mendatang, seperti beras yang sudah tiga tahun kita tidak impor,” tandasnya.

    Baca juga :  Langkah Strategis Pemerintah Diungkap Dalam Bedah Buku Vaksinasi Covid-19

    Penghargaan IRRI

    Hari ini, pemerintah menerima penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) karena telah memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras pada periode 2019-2021. Penghargaan bertajuk “Acknowledgment for Achieving Agri-food System Resiliency and Rice Self-Sufficiency during 2019-2021 through the Application of Rice Innovation Technology” atau “Penghargaan Sistem Pertanian-Pangan Tangguh dan Swasembada Beras Tahun 2019-2021 melalui Penggunaan Teknologi Inovasi Padi” ini diserahkan Direktur Jenderal IRRI Jean Balie kepada Presiden RI Joko Widodo, Minggu (14/8/2022), di Istana Negara, Jakarta.

    “Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, utamanya kepada pelaku riil yang bekerja di sawah, para petani Indonesia, atas kerja kerasnya tentu saja, para bupati, para gubernur, Kementerian Pertanian yang semuanya bekerja sama dengan riset-riset dari universitas-universitas, perguruan tinggi yang kita miliki. Ini adalah kerja yang terintegrasi, kerja bersama-sama, kerja gotong-royong, bukan hanya milik kementerian saja,” ujar Jokowi usai menerima penghargaan.

    Baca juga :  Langkah Strategis Pemerintah Diungkap Dalam Bedah Buku Vaksinasi Covid-19

    Presiden mengungkapkan, sejak tahun 2015 pemerintah telah giat membangun infrastruktur di bidang pertanian, seperti bendungan, embung, dan jaringan irigasi.

    “Seingat saya, sampai hari ini telah diresmikan 29 bendungan besar dan tahun ini akan selesai lagi totalnya 38 bendungan. Dan sampai tahun 2024 akan kita selesaikan kurang lebih 61 bendungan plus embung 4.500 embung, dan 1,1 juta jaringan irigasi yang telah kita bangun selama 7 tahun ini,” ujarnya.

    Pada tahun 2019 produksi beras di tanah air sebesar 31,3 juta ton, jumlah yang sama dengan produksi di tahun 2020 dan 2021. Adapun stok beras yang dimiliki Indonesia hingga akhir bulan April 2022, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), mencapai 10,2 juta ton.

    “Inilah yang menyebabkan kenapa pada hari ini diberikan kepada kita sebuah sertifikat bahwa Indonesia dinilai memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan sudah swasembada pangan,” tukasnya. (wt)

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan