Minggu, 2 Oktober 2022
27 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaJelang PD U-20, Pemkot Surabaya Pasang Geomembran Redam Bau Sampah GBT

    Jelang PD U-20, Pemkot Surabaya Pasang Geomembran Redam Bau Sampah GBT

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, siap helat Piala Dunia (PD) U-20 pada 2023. Namun, bau sampah yang sempat menjadi polemik di tahun 2019, masih jadi masalah. Terbaru, Pemkot Surabaya berupaya meredam bau tak sedap itu dengan memasang geomembran hingga menanam pohon di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo.

    Pada November 2019, aroma busuk sampah di sekitaran Stadion GBT sempat menjadi polemik. Itu berawal komentar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansah yang menyebut, masih mencium aroma sampah. Lantaran, stadion GBT sendiri berlokasi dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. “Saya sudah ke GBT, kalau sore kena angin itu suka aroma sampah,” kata Khofifah saat itu.

    Tak berselang lama di bulan yang sama, Menpora Zainudin Amali melakukan sidak ke Stadion GBT. Tujuannya, mengecek persiapan GBT karena saat itu menjadi salah satu kandidat venue PD U-20.

    Sayangnya, Menpora tidak bisa masuk stadion karena akses pintu masuk terkunci. Namun, ketika disinggung soal bau sampah seperti dikatakan Khofifah, Menpora mengatakan, “Ya seperti yang kita rasakan, baunya masih sama, bau sampah. Tapi kalau di dalam bau atau tidak saya ndak tau, karena kita tidak bisa masuk,” ujarnya kepada wartawan.

    Baca juga :  Gubernur Khofifah : Pancasila Sumber Kekuatan untuk Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat

    Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini langsung sidak ke stadion berkapasitas 55.000 itu. Risma sempat menanyai seorang petugas kepolisian tentang kondisi bau di GBT. “Pak, sampean (menghirup) mambu ta? mambu sampah? (Pak, anda cium bau? Bau sampah?),” tanya Risma yang dijawab seorang petugas, “Tidak bu, tidak, saya dua tahun di sini bu, tidak ada bau sampah”.

    Kini, setelah dua tahun lebih polemik itu terjadi, kebenaran bau sampah yang pernah dikatakan Gubernur Khofifah dan Menpora Zainudin, memang benar adanya.

    Terbukti, saat ini, Pemkot Surabaya tengah melakukan berbagai upaya untuk mempersiapkan pergelaran PD U-20 pada 2023 mendatang. Salah satu yang terus dilakukan, memasang geomembran dan mengebut penanaman pohon di PLTSa Benowo. Hal itu dilakukan untuk mencegah atau meredam bau yang berasal dari sampah PLTSa Benowo.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya,  Agus Hebi Djuniantoro memastikan, pihaknya melakukan berbagai upaya untuk mencegah bau yang ditimbulkan oleh sampah yang ada di TPA Benowo.

    Baca juga :  Wali Kota Eri Minta Pekerjaan Proyek Saluran di 55 Titik Dikebut

    Menurutnya, bau itu berasal dari fermentasi sampah yang ada di tempat tersebut. Fermentasi itu menimbulkan gas metan dan sulfur, sehingga menyebabkan bau kurang sedap. “Nah, supaya tidak bau, maka kami melakukan berbagai hal supaya nanti di Piala Dunia U-20 tidak bau,” kata Hebi, Selasa (9/8/2022).

    Pertama, jelas Hebii, pemkot meminta pengelola PLTSa Benowo untuk menutup tumpukan sampah dengan geomembran, supaya gas yang ditimbulkan oleh sampah itu tidak keluar. Selama ini tumpukan sampah itu memang sudah ditutup geomembran, namun sudah ada yang sobek, makanya saat ini dipasangi lagi dan ditutup semuanya.

    “Sampai sekarang pengerjaan pemasangan geomembran itu sudah lebih dari 50 persen. Kita terus kebut dan kita targetkan awal September 2022 sudah harus selesai semuanya, sudah tertutup semuanya. Karena nanti akan ada inspeksi dari FIFA untuk mengecek hasil pengerjaan ini. Apalagi, kalau ditutup semuanya kan juga lebih cantik secara estetikanya,” ujarnya.

    Kedua, lanjutnya, pemkot juga meminta penambahan methane capture. Jadi, di TPA itu ada pipa-pipa atau blower yang dipasang di bawah TPA yang bernama methane capture.

    Baca juga :  Kejari Tanjung Perak Sinergi dengan BPJS Kesehatan, Jaring Ratusan Perusahaan yang Belum Bayar Iuran JKN KIS

    “Alat ini yang kemudian menangkap gas metan dari sampah-sampah itu lalu diolah di generator hingga akhirnya bisa menjadi energi listrik. Nah, methane capture itulah yang kami minta untuk ditambah supaya lebih efektif lagi menangkap gas metan,” katanya.

    Ketiga, sampah-sampah yang baru datang atau sampah harian, diminta untuk disemprot terlebih dahulu oleh bakteri mikroorganisme untuk menyerap bau-bau yang ditimbulkan dari sampah baru tersebut.

    “Jadi, ketika baru nyampek di TPA langsung kita semprot bakteri mikroorganisme, sehingga baunya tidak terlalu menyengat,” imbuhnya.

    Keempat, jajaran pemkot terus memperbanyak penanaman pohon di sekeliling kawasan TPA. Green belt atau sabuk hijau itu ditanami berbagai macam pohon, mulai dari pohon bambu dan pohon besar lainnya. Penanamannya pun dibuat bertingkat atau bershap, sehingga pepohonan itu nantinya akan berbentuk tangga-tangga, dan sampah yang ada di TPA itu tidak akan terlihat dari jalan raya yang baru dibangun.

    “Penanaman pohon itu sudah kami kebut sejak bulan lalu, dan saat ini sudah ada sekitar 3.500 lebih pepohonan yang kita tanam. Pohonnya pun bermacam-macam, sehingga nanti di kawasan TPA itu akan terlihat sangat hijau, dan bukan lagi tumpukan sampah,” tandasnya. (wt)

    Reporter : Wetly

    Sumber : WartaTransparansi

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan