Selasa, 27 September 2022
27 C
Surabaya
More
    OpiniMERAJUT AKAR KEBANGSAAN

    MERAJUT AKAR KEBANGSAAN

    Dr. Muchamad Taufiq, S.H.,M.H., CLMA

    Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia telah dikumandangkan 77 tahun silam oleh Proklamator kita atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta. Bulan Agustus merupakan bulan yang sakral bagi bangsa Indonesia.

    Pertanyaan yang sering muncul dibenak kita, sudahkan kematangan kita dalam berbangsa dan bernegara selama 77 tahun telah sesuai dengan cita-cita para founding fathers?

    Apakah setiap peringatan Hari Proklamasi telah membawa dampak moral bagi segenap komponen bangsa? Atau masihkan kita terjebak dalam peringatan-peringatan rutinitas belaka tanpa dampak moral yang nyata?

    Beberapa saat yang lalu, Hari Koperasi 31 Juli telah dirayakan diseluruh penjuru negeri dengan berbagai jenis acara. Semoga berbagai kegiatan yang digelar itu merupakan alat untuk meneguhkan kualitasberkoperasi kita.

    Kegiatan acara itu seharusnya bukanlah tujuan dari makna sebuah peringatan. Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD Negara RI 1945) sebagai landasan konstitusionil telahmenjelaskan dalam Pasal 33 ayat (1) bahwa, ‘Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan‘.

    Badan Hukum yang tepat mengemban amanah itu adalah Koperasi sebagai mana diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Perlu diingat bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Kontitusi Nomor 28/PUU-XI/2013, UU Nomor 17 Tahun 2012 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

    Dan untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya Undang-Undang yang baru, berlaku kembali UU Nomor 25 Tahun 1992. Ciri utama koperasi adalah mengutamakan kumpulan orang dan koletifisme. Konsep modal social dalam jati diri koperasi inilah mencerminkan kondisi rakyat Indonesia yang telah memiliki tradisi gotong royong.

    Baca juga :  Jangan Ada Dusta Solar Nelayan

    Implementasinya adalah badan hukum yang memiliki label koperasi wajib sifatnya menerapkan rasa saling percaya antar individu maupun antar-kelompok (trust), pranata social (institution) dan jaringan sosial (network).

    Sudah selayaknya diusia Indonesia yang 77 tahun ini kehadiran koperasi harus mengayomi anggotanya, meneduhkan semua pihak dan memberikan manfaat kepada anggotanya dan berfungsi keadilan bagi masyarakat.

    Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia kali ini strategis karena berada diujung terbukanya masa Pandemi Covid-19 meski masih diintai dengan varian baru. Euforia masyarakat terkadang tidak terkontrol karena lama terkungkung dengan berbagai pembatasan. Sementara kondisi ekonomi harus terus diperjuangkan untuk mampu bangkit.

    Sekali lagi masyarakat perlu disadarkan atas makna sebuah peringatan kemerdekaan negaranya. Bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh atas perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan dan rakyat Indonesia.

    Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia mengalami pasang surut dan kondisi serta tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya.

    Bangsa Indonesia menanggapi dinamika itu dengan kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang dilandasi oleh jiwa , tekad dan semangat sehingga menjadi kuat yang mampu mendorong proses terwujudnya NegaraKesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak kenal menyerah merupakan kekuatan mental spiritual yang dapat melahirkan sikap dan perilaku heroik dan patriotik yang

    Baca juga :  Puan Lawan Ganjar: Senjakala PDIP

    harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Nilai-nilai perjuangan bangsa tersebut masih relevan dalam memecahkan setiap permasalahan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sudah terbukti keandalannya.

    Nilai-nilai inilah yang harus dipertahankan dan dilestarikan melalui makna setiap peringatan mulai hal-hal yang mendasar. Saat ini perintah pengibaran bendera merah putih oleh pemerintah tidak lagi diikuti dengan sungguh-sungguh oleh masyarkat.

    Disana-sini masih terlihat masyarakat yang abai. Selain tidak ada pihak yang berfungsi mengingatkan secara langsung, bendera merah putih tidak dimaknai sebagai kebutuhan mereka atas peneguhan akar kebangsaan.

    Semuanya seakan-akan lupa bahwa untuk mengibarkan bendera merah putih dimasa pra-kemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga yang luar biasa. Masyarakat tenggelam dalam urusan identitas sempit melupakan eksistensinya yang harus mengembangkan rasa memiliki terhadap Indonesia pada tataran nyata.

    Bukankah telah jelas bahwa ‘Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih’ (Pasal 35 UUD Negara RI 1945). Lebih rinci dalam UU No.24 Tahun 2009 dijelaskan pada Pasal 7 ayat (3) Bendera Negara wajib dikibarkan pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus oleh warga negara yang menguasai hak penggunaan rumah, gedung atau kantor, satuan pendidikan, transportasi umum, dan transportasi pribadi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri; (4) Dalam rangka pengibaran Bendera Negara di rumah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemerintah daerah memberikan Bendera Negara kepada warga negara Indonesia yang tidak mampu.

    Baca juga :  Jangan Ada Dusta Solar Nelayan

    Jadi tidak ada perkecualian atas letak posisi rumah. Hal ini penting, karena menguatkan akar semangat berbangsa dan bernegara itu harus dimulai dari urusan yang kecil. Jika melaksanakan hal sederhana dan ringan sudah dirasa berat, tidak memiliki mindset kebutuhan diri atas sebuah upaya merajut semangat kebangsaan maka hampir dapat dipastikan akan mengalami kesulitan untuk urusan-urusan yang lebih besar.

    Indonesia lahir melalui kesepakatan segelintir elit yang didasarkan pada kesamaan nasib yaitu sama-sama bekas praktek kolonialisme Belanda, akhirnya berpuncak pada kesadaran berjuang bersama, melalui era kebangkitan 20 Mei 1908, menggalang persatuan 28 Oktober 1928 dan bersatu untuk lepas dari penerapan politik devide et impera selama tiga setengah abad.

    Politik ‘pecah belah’ itulah yang mampu menenggelamkan bangsa Indonesia dalam kesengsaraan berkepanjangan. Namun akhirnya kebangkitan bangsa Indonesia untuk mampu merebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 sebagai jembatan emas dalam membangun negeri.

    Perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 2022 kali ini merupakan momentum yang tepat untuk merefleksi 4 nilai strategis yaitu : nilai religius/keagamaan, nilai gotong royong, nilai musyawarah dan nilai keadilan. Itulah 4 (empat) warisan nilai kebangsaan yang bisa kita petik dari zaman sejarah dan pra-sejarah sebagai output dari momentum sebuah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

    “Lebih baik di bom atom dari pada tidak merdeka seratus persen” (Panglima Besar Jenderal Sudirman). (*)

    *) Penulis adalah Dosen ITB Widya Gama Lumajang

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan