Jumat, 12 Agustus 2022
29.4 C
Surabaya
More
    OpiniTahun Baru Hijriyah, Mengubah Pencitraan

    Tahun Baru Hijriyah, Mengubah Pencitraan

    Oleh : Djoko Tetuko –(Pemimpin Redaksi WartaTransparansi.com)

    Momentum tahun baru Hijriyah ialah mengenang kembali perjalanan Rasulullah Muhammad Shollallohu Alaihi Wassalam menjalankan perintah dari Sang Khaliq meninggalkan kota kelahiran tercinta (Makkah) menuju kota perjuangan menata dunia dan akhirat di Madinah.

    Potret tahun baru Hijriyah melambangkan bahwa setiap memperingati ada semacam “perintah baru” untuk senantiasa mengubah pola kehidupan, agar semakin menguatkan citra dan (dalam hal ini pencitraan) secara positif dan bernilai ibadah. Sehingga tersirat harapan melakukan perubahan ke arah positif.

    Citra sendiri diartikan sebagai kesan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengetahuan dan pengertiannya tentang fakta-fakta dan kenyataan (Soemirat dan Ardianto, 2005 : 114). Citra seseorang terhadap suatu objek dapat diketahui dari sikapnya terhadap objek tersebut.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan citra/cit·ra/ kl n 1 rupa; gambar; gambaran; 2 Man gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk; 3 Sas kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi; 4 Hut data atau informasi dari potret udara untuk bahan evaluasi;

    Sedangkan citra (Bahasa Inggris: image) adalah kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna untuk menciptakan suatu imitasi dari suatu objek–biasanya objek fisik atau manusia. Citra bisa berwujud gambar (picture) dua dimensi, seperti lukisan, foto, dan berwujud tiga dimensi, seperti patung.

    Bagaimana dengan pencitraan? Secara umum, arti pencitraan adalah suatu usaha yang dilakukan untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk di mata publik.

    Sebuah usaha untuk menonjolkan citra terbaik seseorang atau sesuatu di mata publik. Usaha pembuktian eksistensi seseorang di hadapan publik.
    Menunjukkan apa yang dirasakan secara sangat berlebihan hingga tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

    Baca juga :  MERAJUT AKAR KEBANGSAAN

    Istilah “pencitraan” sering dipakai dalam bidang politik dan seni. Namun, pada dasarnya istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa ada usaha atau upaya yang dilakukan untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang menjadi lebih baik di hadapan publik sehingga dapat mempengaruhi opini publik.

    Arti Pencitraan Menurut Para Ahli

    Kata pencitraan berasal dari kata dasar “citra” dimana kata tersebut bisa berbeda makna ketika digunakan untuk topik yang berbeda. Berikut ini penjelasan apa itu pencitraan menurut para ahli

    Menurut Huddleston (Buchari Alma, 2008:55), pengertian citra adalah serangkaian kepercayaan yang dihubungkan dengan sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat dari pengalaman.

    Menurut Bill Canton (S.Soemirat dan Adrianto. E 2007:111), arti pencitraan adalah kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi.

    Menurut Philip Kotler (2009:299), arti pencitraan adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu objek.

    Menurut Frank Jefkins (Soemirat dan Adrianto, 2007:114), pengertian citra adalah kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya.

    Doa Tahun Baru

    Ajaran agama Islam pada saat menjelang tahun baru, bukan mengutamakan mengadakan pesta, apalagi menghambur-hamburkan uang hanya untuk kesombongan. Tetapi memanjatkan doa. Sebagaimana teks terjemahan “doa akhir tahun”

    “Ya Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berrarti mendurhakai-Mu”.

    Baca juga :  MERAJUT AKAR KEBANGSAAN

    “Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus ada. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah”.

    Dan doa awal tahun “Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam (belas kasihan dan kesejahteraan) kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat Beliau.”

    “Ya Allah! Engkau Dzat Yang Kekal, yang tanpa Permulaan, Yang Awal (Pertama) dan atas kemurahan-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba: kami mohon kepada-Mu pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya), dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih”.

    Makna tahun baru islam bagi umat islam pasti memiliki kesan mendalam tersendiri. Tahun baru Islam dirayakan pada 1 Muharram tahun Hijriyah.
    Tahun baru Islam 1444 Hijriyah kali ini akan jatuh pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Berbeda dengan merayakan tahun baru masehi, umat muslim mempunyai cara sendiri dalam memaknai dan menyongsong tahun baru Islam.

    Tahun baru Islam ditandai dengan mulainya bulan Muharram. Bulan ini menjadi salah satu dari empat bulan mulia di dalam Islam selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

    Bulan Muharram juga disebut sebagai syahrullah al Asham yang berarti Bulan Allah yang sunyi. Maka selain dilarang berperang, umat Muslim dianjurkan untuk menjalankan amalan-amalan baik, salah satunya adalah puasa. Hal itu sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
    “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

    Baca juga :  MERAJUT AKAR KEBANGSAAN

    Dalam sejarah Islam, Tahun Baru Hijriyah sendiri menandai peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 M. Hijrah tersebut memiliki makna penting bagi umat Muslim. Lantas, apa saja makna tahun baru Islam selain memaknai momentum hijrahnya Nabi?

    Makna Tahun Baru Islam bagi Umat Islam.

    Pencitraan dalam perwujudan ibadah adalah keindahan tersendiri dalam mewarnai tahun baru Hijriyah. Di antaranya dengan suka tafakur (berpikir) dan tadzakkur (merenung, menghitung amalan, introspeksi),
    senantiasa menuju kebaikan, serta semakin bermanfaat untuk seluruh manusia dan semesta alam, dengan niat ibadah dan semangat tulus ikhlas guna mendapatkan rahmat Allah.

    Sebagaimana firman Allah pada Surat Al-Baqarah 218;
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

     

    Belajar dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW, Tahun Baru Islam juga memiliki makna semangat perjuangan yang tak kenal putus asa. Momentum ini juga dapat dimaknai sebagai semangat Hijrah Rasul dari Mekah ke Madinah.
    Nabi Muhammad SAW dan para sahabat begitu gigih dan tak kenal lelah dalam menyebarkan agama Islam, meski menghadapi berbagai rintangan dan cobaan.

    Perwujudan hijrah pada era digital, ialah selalu mengubah menuju modernisasi dengan menjaga hati dan pikiran tetapi mengagungkan asma Allah SWT. Mengubah kebiasaan berpesta dan bersenang-senang, menjadi renungan dalam ibadah. Mengubah pencitraan diri selalu dalam kendali tradisi keagamaan dan tradisi kesantunan. Meningkatkan semua peran baik dan manfaat.

    Selamat merayakan Tahun Baru Islam 2022 / 1444 H. (*)

    Reporter :

    Penulis : Djoko Tetuko

    Editor:

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan