Anurat Anantanatorn, Ph.D (Burapha University, Thailand) menyampaikan bahwa kebijakan Thailand untuk mempromosikan pariwisata setelah Pandemi yakni memulai ulang Thailand Campaign, melakukan pencocokan bisnis pariwisata, melakukan promosi pariwisata domestik dan Internasional serta memudahkan wisatawan untuk datang ke Thailand.
Digambarkan bahwa pandemi yang terjadi di Thailand. pada September 2019, dunia mengenal nama virus COVID-19 dengan nama “Virus Whuna”. Thailand adalah negara kedua yang menghadapi virus Covid dari turis Wuhan pada Februari 2020. kemudian, Pemerintah menggunakan kebijakan yang kuat untuk melaksanakan lock down.
“Namun Pada pertengahan tahun 2022 setelah orang mendapatkan vaksin. Pandemi melambat dan pemerintah melonggarkan langkah-langkah dan negara terbuka untuk menyambut wisatawan internasional,” katanya.
Sedang, Wisnu P. Setiyono., S.E. M.Si. Ph.D, Dekan Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial, memaparkan bahwa “Skandal Perusahaan di Masa Pandemi”, yakni manipulasi pembukuan.
“Perilaku kurang beretika di lingkungan pendidikan adalah prediktor di dunia kerja,” Pungkasnya
Acara yang dipandu moderator Poppy Febriana, S.Sos. M.Med.Kom pembicara Kenneth Lee Tze Wui., M.Comm, dari Universiti Tunku Abdul Rahman, menjelaskan bahwa Media Sosial telah menjadi salah satu elemen persaingan yang paling kuat untuk mendorong pariwisata dengan memanfaatkan media sosial untuk strategi komunikasi dan marketing.
- Selanjutnya acara diakhiri “Visiting Fellow” dengan kegiatan “Curriculum Discussion and Joint Research” antara Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Burapha University, Thailand (BUU) dan Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR). (Jt)





