BANYUWANGI (WartaTransparansi.com) – Kapok lombok ( Cabai ) bagi para pegiat atau penikmat korupsi layak mendapat predikat tersebut. Tidak sedikit para oknum pejabat yang sengaja melakukan kesalahan dan menikmati hasil dari tindakan korup hanya menyesal saat ketemu dan berhadapan dengan hukum.
Sama halnya saat manusia memakan cabai, saat itu ingin berhenti tidak ingin memakannya lagi namun esok juga kembali menikmati.
Tidak patut saling menyalahkan karena adanya pelaku korup atau koruptor baik kelas bawah, tengah maupun atas. Kenapa, banyak juga yang mendengungkan anti korupsi, brantas korupsi namun pada akhirnya juga diam karena ” Bapak Ganti Dengan Uang Korupsi ” .
Siapapun punya kesempatan untuk melakukan korupsi. Baik itu langsung maupun tidak langsung. Kalangan muda, tua, jabatan rendah apalagi jabatan tinggi misalkan sekelas Kepala Dinas, Kepala Badan, dan seterusnya.
Penulis punya sedikit cerita (Fiksi). Jadi ada seorang oknum pimpinan yang ingin naik jabatan dan mendapat perhatian dari seorang Bupati. Ia rela mengorbankan bawahannya baik dari gaji, resiko kerja maupun kesejahteraan lain.
Usut punya usut, oknum tersebut dibantu oleh orang yang berbeda naungan untuk mendapatkan pundi – pundi yang fantastis tersebut. Tampang lugu dan melankolis tersebut ternyata menyimpan misteri menumpuknya kekayaan yang ia miliki.
Lalu datanglah puluhan anak buah dari oknum pimpinan pada penulis. Ia menceritakan tentang sedikit perilaku korupsi yang dilakukan oleh pimpinan dan kroninya. Berikut percakapannya.





