Selasa, 9 Agustus 2022
26 C
Surabaya
More
    Renungan PagiMenjemput Lailatul Qadar di Luar Bulan Ramadan

    Menjemput Lailatul Qadar di Luar Bulan Ramadan

    Oleh : HS. Makin Rahmat – Pembimbing Umroh & Haji

    TIDAK seperti bulan suci Ramadan sebelumnya, pada Ramadan 1443 ini rasanya begitu luar biasa. Penulis berinisiatif melaksanakan puasa dengan sepenuh hati. Bukan sekedar senang dan mendapatkan reward jasad diharamkan masuk neraka, namun berusaha mencari kemuliaan yang lain. Bismillah!!!
    Ternyata, Allah memberikan ujian. Kondisi fisik kurang stabil.

    Tekanan darah systhol (sys) pernah sampai 245 dan diasthol (dia) rata-rata 130. Saat periksa ke dokter Johannes, spesialis penyakit dalam, sinyal lampu merah, harus istirahat. Uniknya, hasil lab lengkap termasuk thoraq, semuanya baik kecuali di atas ambang, yaitu kolesterol dan diabet. Itu pun bisa dimaklumi di usia hampir 54 tahun.

    Oke, sakit atau dalam proses pengobatan, penulis tetap menjalani ibadah puasa. Alhamdulillah, masih bisa tarawih, qiyamul lail, sahur, dan menjalani aktifitas di siang hari dengan baca alquran sehari 2-3 juz. Semua normal-normal saja.
    Memang unik, di saat tensi tinggi reaksi di badan tidak ada kendala. Katanya mumet, sering pusing seperti vertigo atau organ tubuh ada yang kesemutan, biasa-biasa saja. Tapi, setelah fase ke dua Ramadan, Alhamdulillah, tekanan darah stabil, sys 120-130 diasthol 84-93. Normal.

    Saya mulai sedikit manaikkan target, bisa lebih ajek (istiqomah) dalam beramal walau kondisi lagi kembang-kempis. Semoga bisa merasakan nikmatnya Lailatul Qadar (malam yang lebih mulia dari seribu bulan). Tentu nikmat luar biasa mampu dipertemukan dengan Laitaltul Qadar.

    Lantas muncul pertanyaan menggelitik, bagaimana kompetensi dari hamba Allah SWT yang memperoleh Lailatul Qadar? Bila membaca literatur dan tanda-tanda turunnya Lailatul Qadar, bisa ditelisik, hawa yang sejuk, tidak panas tak dingin, dan bulan memancarkan sinar keemasan menyaksikan para Malaikat turun ke bumi. Wow… Begitu dahsyat.

    Itulah hak prerogatif Allah SWT diberikan kepada hamba pilihan, semalam bisa setara dengan 83,3 tahun. Yakin, akan memberikan efek positif. Bukan sekedar persoalan harta melimpah, kedudukan strategis dan punya bargaining di masyarakat.

    Bagi penulis yang sering Silaturahmi tombo ati ke ulama salaf, kiai dan para Gus, teringat dengan kisah hamba Allah SWT yang tidak jadi berangkat haji, tapi catatan di Lauhul Mahfudz mendapatkan gelar haji Mabrur Sepanjang Hayat. Setelah ditelisik, ternyata hamba yang mengumpulkan uang sen demi sen, menjadi modal haji terhalang memenuhi panggilan Allah dan nabiyullah Ibrahim Khalilullah AS, demi memberikan modal dan nafkah bagi anak yatim piatu dan dhuafa, untuk menikmati hidup layak.

    Nah, dari pelajaran hikmah tersebut, al faqir berpikir praktis bahwa seseorang mendapatkan limpahan Rahmat, maghfirah dan Inayah Sang Khaliq selama Ramadan, termasuk di dalamnya bertemu dengan Lailatul Qadar adalah sosok hambaNya beruntung, bejo. Selalu merasa punya peluang dan semangat untuk memberikan ke manfaatan di luar Ramadan. Wujudiyah, Islam yang Rahmatan lil ‘Alamiin.

    Apa artinya, selama Ramadan bisa melaksanakan tarawih, qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, dan amalan kebajikan lain, ternyata usai Ramadan kembali normal, belum ada peningkatan keimanan, salat hanya gelondong semprong, belum mampu merenungi makna zakat dan puasa.

    Membiarkan, hamba Allah dalam keterpurukan ekonomi, kekurangan, kelaparan dan kehausan serta ketakutan.
    Maka, bagi penulis, hamba Allah SWT yang paripurna pasca Ramadan, yaitu menjadikan sebelas bulan seperti Ramadan. Artinya, giat ibadah dalam kehidupan sehari-hari belum pudar. Siapa saja mereka? tentu manusia yang beriman, punya kepedulian sosial luar biasa dalam kondisi lapang atau sempit.

    Berikutnya, hamba yang memiliki kemampuan mengendalikan diri, tidak terbawa hawa nafsu. Dan, kemampuan menjaga marwa, tanpa merasa dirinya paling benar. Ada jiwa pemaaf dalam kalbu, raga dan lisannya.
    Kalau prilakunya sudah menyatu, maka siapa pun tidak merasa keberatan berbagi makanan, menyebarkan informasi membangun penuh kesantunan tanpa menyakiti dan berbicara dengan penuh hikmah serta kedamaian atau diam dalam kepatuhan.

    Pada akhirnya, tujuan kewajiban puasa di bulan Ramadan yang hanya dikhususkan bagi umat Baginda Rasulullah SAW, mampu direnungi dan ditelaah dengan keyakinan, pikiran, dan amalan nyata, bukan hanya bisa mengkritik, belum mampu mendarmabaktikan secara khusnudlon (berprasangka baik).

    Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS (Quran Surah) al-Baqarah ayat 183; “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa (Ramadan) sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.”

    Ada nilai spirituil yang terus digali dan dipelajari dalam konteks menghamba kepada Allah dalam kaitan hubungan dengan Allah (Hablum minallah) dan hubungan dengan manusia (Hablum minannas) serta makhluk sebagai pemimpin (khalifah) di bumi. Inilah rentetan panjang yang memerlukan kajian mendalam dalam hakekat untuk bisa mensyukuri atas nikmat Allah dalam kaitan amaliyah berpuasa.

    Puncak keyakinan keimanan merupakan wujud mutlak yang harus ditancapkan dalam hati tiap hamba Allah yang beriman, bahwa tidak ada yang bakal sia-sia atau mengecewakan ketika kita menjalankan perintah Allah SWT, termasuk berpuasa.

    Lex spesialis dari puasa Ramadan, bukan sekedar isapan jempol belaka. Karena Sang Khalik, sudah memberikan pilihan yang sangat fair, sesuai QS Al-Baqarah 184; “… Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (musafir) lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain. Dan, wajib bagi orang-orang yang menjalankannya (karena usia, sakit permanen, jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberikan makan seorang miskin.

    Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Puasa benar-benar mengajari kita untuk sehat lahir-batin, sebagai cuplikan firman Allah SWt dalam hadits qudsi riwayat Bukhari RA: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman: “Kecuali amalan puasa! Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagian, yaitu kebahagian saat berbuka dan kebahagian ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak Kasturi.”

    Andalah yang bisa meraba dan merasakan, apakah di bulan Ramadan 1443, mendapatkan Lailatul Qadar. Sebaliknya, apakah di penghujung akhir Ramadan sibuk dengan urusan duniawi. Semoga tetap semangat mengabdi. Wallahu a’lam bish-showab. (*)

    Penulis : H.S. Makin Rahmat

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan