Minggu, 25 September 2022
32 C
Surabaya
More
    LapsusPertama Kali Menikmati Matahari di Ujung Timur Indonesia

    Pertama Kali Menikmati Matahari di Ujung Timur Indonesia

    Oleh Wetly

    Dari Sabang sampai Merauke Berjajar pulau-pulau
    Sambung menyambung menjadi satu Itulah Indonesia…

    Itulah sepenggal lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” ciptaan R. Soerarjo (R. Suharjo) yang judul aslinya “Dari Barat Sampai ke Timur”. Perubahan judul terjadi pada 6 Mei 1963 oleh Presiden Soekarno.

    Secara geografis, Kabupaten Merauke memiliki luas mencapai hingga 46.791,63 km2 atau 14,67 persen dari total wilayah Provinsi Papua yang luasnya mencapai 316.553,07 km2.

    Merauke menjadi kabupaten terluas di Papua, bahkan kabupaten di provinsi lainnya di Indonesia. Secara administratif, Merauke memiliki 20 Distrik (terdiri 11 kelurahan, 179 kampung, 415 RW, dan 1.284 RT). Sedangkan luas wilayah perairab mencapai 5.089,71 km2.

    Dari 20 Distrik (kecamatan) ada enam kecamatan berbatasan dengan negara Papua New Guinea atau Papua Nugini (PNG). Yakni, Kimaam, Eligobel, Ulilin, Sota,  Naukenjerai, dan Waan.

    Sedangkan kawasan strategis meliputi, kawasan hutan lindung, hutan produksi, sentra pertanian dan industri, sehingga arah pengembangan kabupaten Merauke afalah kota agropolitan (agroindustri, agribisnis, agromedicine).

    Sementara jika ditinjau menurut kelas ketinggiannya, Kabupaten Merauke merupakan wilayah dataran rendah yang memiliki kelas ketinggian antara 0-60 mdpl. Merauke juga menjadi daerah tadah hujan. Sehingga tak heran jika lahan pertanian di kabupaten ini lebih banyak berharap pada air hujan.

    Jujur, jika bukan karena helatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 lalu, mungkin saya tak akan pernah menginjakkan kaki di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Bisa jadi, saya hanya mengenal Merauke lewat lagu yang sudah saya nyanyikan sejak di bangku sekolah dasar.

    Maka, sebuah pengalaman pribadi yang berharga ketika saya bersama rombongan dari Jawa Timur berkesempatan melihat langsung perbatasan Indonesia dengan Papua New Guine (PNG) yang disebut sebagai titik nol kilometer di sisi paling timur NKRI.

    Sebenarnya, ada enam Distrik yang berbatasan langsung dengan PNG. Namun, distrik yang dipilih dan dijadikan titik nol kilometer (0-Km) oleh pemerintah adalah Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Jaraknya sekitar 85 km dari pusat kota Merauke dengan waktu tempuh lebih satu jam menyusuri jalan Trans Papua.

    Sepanjang perjalanan, rombongan kami melewati hutan alam. Di hutan alam ini saya melihat telah ada yang membangun beberapa tempat wisata, di antaranya wisata anggrek. Terlihat pula warga yang sengaja tinggal di hutan untuk membuat minyak kayu putih. Biasanya mereka akan berada di sana berhari-hari untuk menyuling.

    Kami juga melewati panjangnya hutan lindung (Taman Nasional Wasur). Ketika perjalanan memasuki kilometer 40, saya dan empat wartawan lainnya meminta Edi (sopir) untuk berhenti. Sebabnya, mata kami penasaran dengan gundukan tanah yang sekilas terlihat seperti arca di tepi jalan.

    Sambil tersenyum, Edi yang juga putra daerah Merauke menjelaskan, gundukan tanah yang membuat kami penasaran itu adalah sarang semut. Masyarakat di sana menyebutnya musamus.

    Pertama Kali Menikmati Matahari di Ujung Timur Indonesia
    Salah satu sarang semut atau Musamus yang berada di pinggir jalan ini, tingginya mencapai sekitar 4 meter.

    “Dulu, sebelum jalan Trans Papua dibangun, jumlahnya banyak sekali. Tetapi, ada tempat yang menjadi objek wisata, namanya seribu musamus. Di objek ini, kita akan melihat banyaknya musamus dengan ukuran yang paling kecil hingga besar,” katanya menambahkan bahwa lokasi wisata itu terletak di Salor 2, salah satu kampung di distrik Kurik. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dari Kota Merauke.

    Sayang, hingga meninggalkan Kabupaten Merauke, saya dan kawan-kawan wartawan lainnya tak lagi punya kesempatan untuk berwisata melihat kawasan musamus di Salor 2. Sebab,  kami (wartawan) hanya punya waktu luang pada 23 September 2021. Selebihnya, waktu kami lebih terfokus pada pekerjaan untuk memberitakan pelaksanaan PON.

    Sekitar 10 menit menyaksikan keajaiban rumah semut, dan sesekali selfie, kami melanjutkan perjalanan. Mengejar rombongan lainnya yang sudah jauh mendahului.

    Setelah melewati hutan alam, sampailah kami di pertigaan jalan di Distrik Sota. Belok kanan dan bergabung dengan rombongan lainnya yang telah berhenti dan memarkirkan kendaraannya di tepi jalan.

    Di pertigaan jalan ini ada sebuah tugu setinggi sekitar lima meter. Terlihat dari kejauhan, di atas tugu terpasang lambang burung garuda. Saya pun penasaran. Setelah melihat dari dekat, ternyata itu adalah “Tugu Kembaran Sabang Merauke”. Dari tulisan di prasasti, tugu ini diresmikan 16 Desember 1994 oleh Bupati KDH TK II Merauke, R Soekardjo.

    Ada juga prasasti dengan tulisan berbeda yang letaknya terpisah dari badan Tugu Kembaran Sabang Merauke ini. Tulisan di batu tersebut adalah, “Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Kita Tanah Air Pasti Jaya Untuk S’lama-lamanya Indonesia Pusaka Indonesia Tercinta Nusa Bangsa dan Bahasa Kita Bela Bersama.”

    Tulisan itu diambil dari lirik lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’, ciptaan L Manik. Tapi, saat membaca lirik lagu di prasasti tersebut, rasa-rasanya tak percaya bisa menyanyikan lagu itu di ujung paling timur Indonesia.

    Sayangnya, hanya dua prasasti tersebut yang dapat menjelaskan tentang Tugu Kembaran Sabang Merauke. Memang, kalau dilihat tugu ini mirip dengan Tugu Nol Kilometer Sabang. Patung burung Garuda di atas tugu ini mirip persis dengan Tugu Nol Kilometer Sabang.

    Kedua tugu tersebut (Merauke-Sabang) jaraknya mungkin mencapai ribuan kilometer lebih. Di antara keduanya, ribuan pulau, pantai, gunung, dan berbagai kebudayaan, tentu menjadi destinasi menarik untuk dikunjungi.

    Tapi, satu pertanyaan terlintas di benak ini. Sebenarnya, tugu mana yang menjadi titik awal dan menjadi titik akhir Indonesia? Apakah Tugu Kilometer Nol di Sabang, atau Tugu Kembaran Sabang Merauke? Saya hanya tau bahwa matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat.

    Sisi lainnya, saya sendiri baru merasakan dan untuk pertama kali terkena sengatan matahari dari ujung timur Indonesia. “Sebelum kawan-kawan di Jawa, di sini kita yang duluan merasakan matahari. Jadi, selama ini orang Merauke (Papua) lah yang pertama kali menikmati matahari dari orang di Jawa,” seloroh Edi, driver kami saat ke Sota. (bersambung)

    Penulis : wetly

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan