Selasa, 26 Oktober 2021
29 C
Surabaya
More
    OpiniTajukPertumbuhan Ekonomi di atas 7, Ketika Bendera Putih Berkibar
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Pertumbuhan Ekonomi di atas 7, Ketika Bendera Putih Berkibar

     

    Kenyataan telah merekam dengan terang benderang, mencatat dengan warna sangat terang pula, meneriakkan kekesalan juga kemarahan tersembunyi. Bahkan di mana-mana dengan gagah berani mengibarkan bendera putih.

    Pada awal Agustus 2021, menjelang detik-detik kemerdekaan ke-76 Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tema “Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh”, pada saat sisa-sisa semangat dan menjaga marwah bangsa dan negara di kampung-kampung sejak 1 Agustus 2021 mengibarkan bendera Merah Putih, di beberapa tempat pusat wisata dan dunia usaha mikro, kecil, menengah, dan kelompok besar pun mengibarkan bendera putih.

    Berbagai bentuk bantuan dari program pemerintah menghiasi pemberitaan kasus terinfeksi positif Covid-19, dengan penambahan kasus masih mengkhawatirkan, dengan angka kesembuhan lebih baik, dengan angka kematian belum mampu dibendung.

    Sebagian potret dari gambaran kehidupan berbangsa dan bernegara pada kuartal dua tahun 2021, tidak lebih seperti lukisan di atas, corat coret dari tingkah pola anak bangsa semakin miris dan mengkhawatirkan.

    Di setiap pembicaraan rakyat adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sampai kapan? Kasihan pelaku usaha mikro dan kecil, kasihan pekerja pabrik dengan berbagai ancaman pengangguran, kasihan dan kasihan seperti menjadi nyanyian rutinitas setiap pagi seperti matahari terbit dan setiap malam seperti matahari setelah pamit.

    Diketahui, prinsip pertumbuhan ekonomi berkualitas adalah pemanfaatan sumber daya untuk kemakmuran manusia dan masyarakat, tanpa menimbulkan kerugian akibat pembangunan.

    Sedangkan prinsip kemakmuran rakyat, pertumbuhan ekonomi harus memperhatikan parameter yang tepat, yakni pertumbuhan ekonomi harus tumbuh berkelanjutan dan berkesinambungan.

    Selain itu, pertumbuhan ekonomi harus mampu menyediakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat. Semua sektor juga harus dibangun sehingga mampu memberikan multiplier effect yang lebih besar.

    Prinsip dan parameter pertumbuhan ekonomi berkualitas diimplementasikan dalam strategi pembangunan dengan mengedepankan tiga pilar utama.

    Pertama, membangun untuk manusia dan masyarakat. Kedua, upaya peningkatan kesejahteran, kemakmuran, produktivitas tidak boleh menciptakan ketimpangan yang makin melebar. Dan ketiga, aktivitas pembangunan tidak boleh merusak, menurunkan daya dukung lingkungan dan keseimbangan ekosistem.

    Jumat (6/8/2021), M. Sarmuji anggota DPR RI Komisi XI memberikan pujian atas kinerja Airlangga Hartarto Sebagai Menko Perekonomian atas
    angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup signifikan yakni sebesar 7,07 persen pada kuartal kedua.

    Hal itu karena Menko Perekonomian karena berhasil mengkoordinasikan berbagai sektor dan menemukan pengungkit utama pertumbuhan. Dengan target
    Indonesia keluar dari resesi.

    Sarmuji juga mengatakan ke depan pertumbuhan ekonomi akan sangat ditentukan oleh pelonggaran aktivitas ekonomi masyarakat sebagai hasil dari pengendalian Covid-19. Oleh sebab itu, Menko Ekonomo Pak Airlangga Hartarto mesti kerja keras lagi agar mampu bersaing dengan negara mitra dagang Indonesia.

    Diberikan contoh misalnya realisasi pertumbuhan Singapura 14,3 persen, Uni Eropa 13,2 persen, Amerika Serikat 12,2 persen, China 7,9 persen, dan Hong Kong 7,5 persen. Namun, lebih tinggi dari Vietnam 6,6 persen dan Korea Selatan 5,9 persen.

    Dan, Sarmuji optimis jika pengendalian Covid-19 ini makin membaik, InsyaAllah laju perekonomian akan makin kencang karena tingginya mobilitas. Sektor-sektor yang saat ini masih lesu seperti sektor pariwisata dan transportasi begitu ada pelonggaran lajunya akan cepat sekali. Dengan syarat kekebalan komunal harus segera terbentuk.

    Situasi dan kondisi bernegara, berbangsa, dan beragama masih belum kondusif, bahkan cenderung terpuruk akibat dampak dari Covid-19, maka kepiawian pemerintah melakukan komunikasi sangat dibutuhkan.

    Mengapa? Supaya jangan sampai terkesan bahwa dalam posisi “wong cilik terpukul, terpapar, dan terpuruk” justru pertumbuhan ekonomi mencapai angka 7.07. Apakah bukan menjadi pembenar bahwa keterpurukan bukanlah menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi berkualitas.

    Tetapi jika disampaikan dengan transparan dan rinci rigit mengapa pertumbuhan ekonomi di atas 7, dengan santun tanpa membanggakan. InsyaAllah akan menentramkan hati rakyat.

    Mengingat, ekonomi masyarakat terpuruk ambruk di tengah masa pandemi Covid-19. Sehingga membutuhkan keseimbangan-keseimbangan.

    Sebab pertumbuhan ekonomi 7,07 ketika bendera putih berkibar di mana-mana, ketika tren bunuh diri semakin terbiasa, ketika kalimat menyerah sudah membudaya. Maka membutuhkan sentuhan membangkitkan semangat.

    Lantas bagaimana membangkitkan semangat, memulihkan keterpurukan, menjaga keseimbangan supaya kemajuan dan pertumbuhan ekonomi sekecil apapun, wong cilik melu gemuyu (orang kecil ikut senyum dan tertawa). Inilah tugas para pemimpin bersama seluruh kekuatan anak bangsa mewujudkan.

     

     

     

     

     

     

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan