Minggu, 1 Agustus 2021
31 C
Surabaya
More
    OlahragaDuka Cita atas Meninggalnya Legenda Bulutangkis Markis Kido

    Duka Cita atas Meninggalnya Legenda Bulutangkis Markis Kido

    Jakarta (Wartatransparansi.com) – Dunia bulutangkis berduka. Bukan hanya bagiIndonesia, namun juga dunia internasional. Hal itu ditunjukkan dengan ucapan badan bulutangkis internasional (BWF) lewat akun twitter. Salah satu legenda pebulutangkis hebat yang pernah dimiliki Indonesia, Markis Kido meninggal dunia, Senin (14/6/2021) malam.

    Markis Kido tutup usia karena serangan jantung saat bermain bulutangkis di GOR di GOR Petrolin, Alam Sutera, Tangerang. Menurut Candra Wijaya, mantan pemain yang hadir di arena, Kido tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri saat baru bermain setengah gim. Saat itu sekitar pukul 18.30 WIB.

    Pebulutangkis kelahiran 11 Agustus 1984 itu berhasil menorehkan prestasi manis selama kariernya hingga membawa harum nama Indonesia di kancah dunia. Markis Kido sebenarnya tidak terlalu lama menghuni Pelatnas Cipayung, hanya 8 tahun. Tetapi, prestasi yang ditorehkannya cukup lengkap. Berbagai prestasi dari tingkat nasional, regional, hingga yang tertinggi meraih emas Olimpiade pernah diraihnya.

    Berpasangan dengan Hendra Setiawan, sejak masih bermain untuk Klub Jaya Raya hingga meninggalkan Pelatnas Cipayung pada 2009 Kido mencatat berbagai pretasi. Selain emas Olimpiade Beijing 2008, mereka juga menjadi juara dunia pada 2007, meraih emas Asian Games 2010, juara SEA Games (2005, 2007, 2009) serta berbagai kejuaraan lainnya, seperti Kejuaraan Asia, turnamen Grand Prix dan Super Series.

    Gelar yang diraih pasangan yang usianya hanya terpaut dua pekan itu (Hendra kelahiran 25 Agustus 1984) cukup lengkap. Maka tidak heran jika Hendra yang sekarang berduet dengan Mohammad Ahsan begitu kehilangan dengan kepergian Kido. Kido awalnya berpasangan dengan Rian Sukmawan. Setahun berselang, ia berganti partner, yaitu Hendra Setiawan, yang masuk pelatnas pada 2002. Cerita sisanya adalah sejarah.

    Dari sanalah prestasi demi prestasi mereka torehkan hingga puncaknya pada Olimpiade Beijing ketika mereka melanjutkan tradisi emas yang diawali oleh Susy Susanti dan Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992. Sampai akhirnya pasangan yang sangat kompak itu mengundurkan diri dari Pelatnas pada 2009 sebelum Hendra kembali lagi dan dipasangkan dengan Mohammad Ahsan.

    Hendra merasa sangat kehilangan dan berduka mendalam ketika Markis Kido meninggal, di usia yang masih relatif muda, 36 tahun. “Ikut berduka cita yang sangat mendalam buat salah satu partner terbaik saya dalam suka maupun duka. Dia salah satu pemain yang luar biasa dan sangat bertalenta,” kata Hendra seperti dikutip Bambang Roedyanto dan diunggah melalui akun Twitternya.

    “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi partner yang baik buat saya dalam waktu menang ataupun kalah. Terima kasih sudah berpartner mulai dari nol dan sama-sama berjuang selama 12 tahun. Terima kasih Kido dan selamat jalan,” imbuh Hendra.

    Markis Kido layak disebut legenda bulutangkis dengan segala prestasi yang sudah torehkan untuk Merah-Putih. PBSI berharap suri tauladan pria kelahiran 11 Agustus 1984 itu menjadi inspirasi para penerusnya. “Dengan prestasi besar seperti juara dunia 2007 di Kuala Lumpur, medali emas Olimpiade Beijing 2008, dan emas Asian Games 2010 Guangzhou bersama Hendra Setiawan, nama Kido begitu harum di pentas dunia. Kami keluarga besar bulutangkis Indonesia dan PBSI ikut berduka cita dan merasa kehilangan besar dengan berpulangnya Markis Kido,” tutur Ketua Umum PBSI, Agung Firman Sampurna.

    “Semoga suri teladan, semangat juang, prestasi besar, dan etos kerja yang telah ditunjukkan Markis Kido selama ini, bisa menginspirasi para pemain-pemain bulutangkis Indonesia untuk mengikuti jejak almarhum,” pesannya. (sr)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : Wartatransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Editor's Choice

    Jangan Lewatkan