Senin, 21 Juni 2021
32 C
Surabaya
More

    Amanah

    Oleh: Ali bin Muhammad Aljufri

    سم الله الرحمن الرحيم

    السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

    الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد الانبياء و المرسلين و على آله الطاهرين واصحابه الطيبين والتابعين لهم باحسان الى يوم الدين

    Amanah bermakna tidak meniru, terpercaya, dan jujur. Dan dalam konteks ayat-ayat Alquran, amanah punya beberapa varian makna.

    Pertama, terkait dengan larangan menyembunyikan kesaksian atau keharusan memberikan kesaksian yang benar, (QS 2:283).

    Kedua, terkait dengan keadilan atau pelaksanaan hukum secara adil, (QS 4:58).

    Ketiga, terkait dengan sifat khianat.

    Keempat, terkait dengan sifat manusia yang mampu memelihara stabilitas rohaninya, tidak berkeluh kesah bila ditimpa kesusahan, tidak melampaui batas ketika mendapat kesenangan, (QS 70:32).

    Kelima, dipahami dalam pengertian sangat luas sebagai tugas keagamaan maupun kemanusiaan.

    Sesungguhnya, amanah itu merupakan tanggung jawab amat berat, serta kewajiban amat besar pula yang dipikul oleh manusia.

    Manusia itu adalah hamba yang diberi kepercayaan, dicipta oleh Allah SWT ke alam wujud, serta ditawarkan kepadanya amanah dan diterima dengan segala tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya.

    Tulisan ini saya nukilkan untuk mengingatkan para calon pemimpin (bahkan yang sudah memimpin) yang diberikan kesempatan memegang amanah melalui nasihat-nasihat para ulama terdahulu.

    Wahai saudara dan saudariku yang mendapatkan amanah.
    Sesungguhnya amanah adalah sesuatu yang amat besar, dalam agama adalah tanggung jawab yang sangat besar. Seharusnya bagi kita hamba Allah menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya, mengetahui kedudukannya, dan menjaganya dengan sangat berhati-hati, meletakkannya dalam perhitungan.

    Karena banyaknya dalil di dalam Alquran dan Hadits Nabi Muhammad saw., yang menjelaskan tentang amanah dan kedudukannya serta akibat darinya baik di dunia dan akhirat, dari ganjaran yang baik bagi yang menjaganya, serta siksaan pedih bagi yang mengabaikan dan mengkhianatinya.

    Dalam surah al Baqarah 283 Allah berfirman:
    فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ
    “Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah”.

    Dalam surah al Ahzab 72 :
    إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
    “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

    Dalam surah Annisa’ 58:
    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
    “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”.

    Allah SWT berfirman, bagi orang yang menjaga dan menunaikan amanah termasuk orang yang sempurna imannya dalam surah al Mu’minun ayat 8 s/d 11 :
    وَالَّذِيۡنَ هُمۡ لِاَمٰنٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَاعُوۡنَ
    “Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya”,

    وَالَّذِيۡنَ هُمۡ عَلٰى صَلَوٰتِهِمۡ يُحَافِظُوۡنَ
    ‌”Serta orang yang memelihara shalatnya”.

    اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْن
    “Mereka itulah orang yang akan mewarisi”,

    الَّذِيۡنَ يَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَؕ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ
    “(yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.

    Dalam surah al Maarij ayat 35:
    أُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ
    “Mereka itu dimasukkan ke dalam surga lagi dimuliakan”.

    Ganjaran dan pengakhiran yang baik itu bagi mereka yang menunaikan amanah kepada yang berhak.

    Allah SWT juga menyifatkan orang yang menyia-nyiakan amanah itu sama dengan Yahudi:
    وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ
    “dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya”.

    Rasulullah saw bersabda, khianat akan amanah itu adalah termasuk sifat orang munafik. Dalam hadits yang shaheh bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:

    آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
    “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR Bukhari)

    Rasulullah saw bersabda, bahwa amanah itu bagian dari iman:

    مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلاَّ قَالَ:
    لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ ، وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ. أخرجه أحمد
    “Tidaklah Nabiyullah (Muhamamad) shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami kecuali beliau bersabda: ”Tidak ada keimanan (yang sempurna) bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi seseorang yang tidak memenuhi janji.” (HR. imam Ahmad rahimahullah)

    Marilah kita sama-sama cernai hadits di bawah ini:
    Setiap pekerjaan yang dibebankan kepadamu adalah amanah, maka menyia-nyiakannya adalah perbuatan khianat terhadap amanah.

    Dari Abu Hurairah ra. berkata: Nabi saw bersabda:

    (( إذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ )) قال : كَيفَ إضَاعَتُهَا ؟ قال : (( إذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ )) . رواه البخاري .
    “Jika amanah (amanat) sudah disia-siakan maka tunggulah kiamat.” Orang itu berkata. Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya (amanah)?” Beliau bersabda:” Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat” (HR. al-Bukhari)

    Semoga Allah senantiasa menuntun kita semua ke jalan yang di ridhaiNya. Aamiin ya Rabbal Alamiin. ***

    Reporter :
    Penulis :
    Editor : Wetly Aljufri
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan