Selasa, 22 Juni 2021
31 C
Surabaya
More
    NusantaraAwal Ramadan Pemerintah dan Muhammadiyah Diprediksi Sama

    Awal Ramadan Pemerintah dan Muhammadiyah Diprediksi Sama

    MEDAN (WartaTransparansi.com) – Pemerintah telah menurunkan sejumlah pemantau rukyatul Hilal di 86 titik yang tersebar di 34 Provinsi, untuk mementukan awal bulan Ramadan 1442 Hijriyah tahun 2021.

    Dari hasil rukyat hilal nantinya menjadi dasar bagi Kementerian agama bersama MUI, ormas agama, BMKG, dan pihak lainnya dalam sidang isbat penentuan awal ramadan.

    Di Sumatera Utara ada dua lokasi yang menjadi titik pengamatan hilal yakni di pantai barat Tapanuli Tengah tepatnya di Pantai Barus yang dilakukan oleh Rooftop BMKG Wilayah Sumatera dan OIF UMSU Medan di Gedung pasca Sarjana.

    Tim peneliti Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU, M Hidayat Mpd mengatakan Rukiyatul Hilal adalah proses dalam mengamati visibilitas hilal, yaitu penampakan bulan sabit pertama kali setelah terjadinya ijtimak. Khusus pengamatan yang dilakukan OIF UMSU ada dua titik loaksi yakni di kampus pasca sarjana UMSU, dan menugaskan tim untuk mengamati tim dari Barus yaitu pantai Barat Sumatera.

    “Dipilihnya lokasi di pantai Barus karena kondisi di sana lebih ideal untuk mengamati hilal karena berbatasan langsung dengan pantai atau laut bagian barat,” ujar Hidayat, Senin (12/4/2021).

    Dikatakan Hidayat, OIF UMSU sejatinya di bawah Universitas Muhammadiyah atau yang bersumber dari organisasi Muhammadiyah, sehingga kriteria metode yang digunakan untuk melihat hilal dengan metode hisab Wujud Al-Hilal. Bahkan,  Muhammadiyah telah menentukan masuknya awal Ramadan tahun 2021 yakni pada Selasa 12 April 2021.

    Baca juga :  Kunker di Sultra, Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Sultan Buton I

    “Metode ini dilakukan dengan tiga pendekatan  yaitu wujud Al-hilal dimana hilal sudah berada diatas ufuk seperti garis horizon yang membatasi antara langit dan bumi. Kedua yaitu matahari telah terbenam, kemudian bulan terbenam. Ketiga Ijtimak Qoblal  ghurub  yaitu bulan telah satu periodisasi mengelilingi bumi dan terjadi sebelum maghrib,” ujarnya.

    Sedangkan metode pemantauan yang digunakan oleh pemerintah selaam ini adalah imkanur rukyah 238” dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah. Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah, apabila Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku.

    “Mayoritas diterapkan di Indonesia yaitu ada imkanur rukyah 238 yaitu digunakan oleh pemerintah. Itu artinya ketika ketinggian hilal sudah di atas 2 derajat, kemudian 3 derajat itu adalah elongasi sudut matahari dan bulan, dan umur bulan sudah 8 jam paska konjungsi atau ijtimak. Jika semua terpenuhi, maka disitu masuk awal bulan kriteria pemerintah,” jelas Hidayat.

    Baca juga :  Kunker di Sultra, Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Sultan Buton I

    “Format lain ada yang menggunakan metode rukyat dengan mengamati langsung, dan jika tidak terlihat maka menjadi 30 hri. Sedangkan Muhammadiyah menggunakan perhitungan hisab wujud Al-hilal. Insya Allah untuk Ramadan tahun ini sepertinya akan sama karena kriteria ketiga tersebut sudah terpenuhi dan memungkinkan hilal akan terlihat,” katanya.

    Sementara Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Kelas I Deli Serdang, Margono ST mengatakan, secara perhitungan dengan metode wujud Al- hilal memang sudah menggambarkan 1 Ramadan, karena di metode itu ketinggian hilal sudah posisi 3 derajat. Namun, metode rukyat harus dilakukan karena sebagai salah satu syarat untuk melihat posisi hilal.

    “Tapi, kalau secara perhitungan hisab sudah masuk. Tapi, kita tunggu sidang isbat,” jelasnya.

    Dikatakan Margono, untuk tim ahli Falak yang memiliki wewenang untuk melihat hilal terjadi hanya memiliki durasi waktu 17 menit lebih. Hal itu seiring dengan jarak antara waktu terbenamnya matahari dengan terbenamnya bulan.

    “Kalau memang cuacanya bagus, mudah – mudahan bisa terlihat.09.30.41 Wib, nanti waktunya terbenam matahari itu 18.31.36 WIB. Setelah itu nanti kita lihat hilalnya itu kalau memang kelihatan itu sampai 18.48.48 WIB itu yang terbenamnya bulan. Jadi, sekitar 17 menit 12 detik ada kesempatan,” ujar Margono.

    Baca juga :  Kunker di Sultra, Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Sultan Buton I

    Sebelumnya, Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat atau penetapan awal Ramadhan 1442 Hijriyah pada hari ini baik melalu daring maupun luring di gedung Kemenag Jakarta. Sidang isbat akan dipimpin oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

    Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, telah mengeluarkan maklumat terkait hasil hisab atau perhitungan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1442 Hijriah. Maklumat yang diteken Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto menyebutkan, bahwa awal Ramadhan jatuh pada Selasa besok atau 13 April 2021.

    Selain itu, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1442 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 12 Mei 2021.

    Meski pemerintah belum menentukan waktu awal ramadan, namun sejumlah jamaah tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah Sumatera Utara hari ini telah menjalankan ibadah puasa Ramadan 1442 Hijriah.

    Bahkan, Minggu (11/4/2021) malam tadi para jamaah telah melaksanakan tarawih pertamanya di Rumah Ibadah Suluk Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah, Pasar IV, Simpang Kongsi, Gang Leman Harahap, Marindal. (wt)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan