Selasa, 22 Juni 2021
31 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSidoarjoHaul Menghormati Orangtua yang Sudah Wafat

    Haul Menghormati Orangtua yang Sudah Wafat

    Ceramah Agama KH Husien Ilyas Mojokerto

     

    Surabaya, (Wartatransparansi) – Pelaksanaan haul dengan membaca surat Yasin dan tahlil, juga bersyukur dengan bersodaqoh ialah amalan untuk menghormati orangtua yang sudah wafat (meninggal dunia).

    “Haul salah satu perbuatan yang paling utama.
    Nabi Muhammad SAW beranda; “hormatilah orang orangtuamu yang sudah wafat, pasti kamu akan dihormati anak cucu ketika masih hidup maupun setelah wafat,” kata KH Husien Ilyas dari Mojokerto.

    Haul, menurut kiai, kharismatik itu tidak tiba-tiba begitu saja dilaksanakan, tetapi ada kisah pada kitab Riyadul Roiyaqin bahwa ada kisah seorang anak setelah orang tuanya wafat, pada hari ke-3, ke-7, dan ke-40, sampai ke-100 harinya didatangi orangtua tua menawarkan hadiah uang dinar.

    “Sehingga Haul itu aslinya memang ada 3 hari, 7 hari, 40 hari 100 hari, pendek (1 tahun) dan 1000 hari, sesuai dengan pengalaman pemberian hadiah kepada orang yang hidup ketika memberikan sadaqoh dan berdoa untuk orangtuanya yang wafat.

    Abu Salamah Al-Qoiyubi pada kitab Riyadul Roiyaqin menerangkan bahwa jangan sampai anak sholeh tidak mendoakan orangtuanya yang sudah wafat.

    “Karena doa itu diterima dan tidak pernah putus sebagai catatan amalan orang yang sudah wafat,” ujar Kiai Husien Ilyas, Selasa malam (30/3/2021)

    Ceramah agama KH Husien Ilyas pada Haul Akbar dan Harlah Masjid Al-Hidayah Celep ke-42 menandaskan bahwa anak-anak sholeh jangan sampai tidak mendoakan orangtuanya, karena ditunggu-tunggu yang wafat.

    Ada kisah 5 anak sholeh, waktu itu setia saling bergiliran menunggu dengan Istiqomah orangtuanya yang sudah sakit cukup parah atau berat.

    Anak yang paling tua , lanjut kiai, mengusulkan minta salah satu yang menunggu sampai wafat akan diberi hak mengambil seluruh harta orangtuanya.

    Tetapi, anak yang paing kecil dan mudah, berpendapat mau menunggu sampai wafat tetapi tidak mau menerima harta warisan itu.

    Setelah orangtuanya wafat, usia mengaji 3 harinya, (diberi dinar 1000) belakang rumah sebelah kiri. Tetapi ditolak kalau tidak barokah.

    Kemudian sang anak memohon kepada orangtua yang menawarkan hadiah jika tidak barokah. Peristiwa itu berulang hingga 100 hari mendapat hadiah 1 dinar tetapi barokah.

    Maka hadiah itu diterima, sementara istrinya yang mengetahui peristiwa itu menganggap suaminya sudah gila. Menolak pemberian hadiah dalam jumlah besar tetapi menerima hanya 1 dinar.

    Setelah menerima uang 1 dinar dibawa jalan-jalan ke pasar, kemudian di tengah jalan menjumpai seorang menjual aquarium, dan ditanya apakah dijual.

    Kalau pun dijual dengan harga yang sesuai, maka ditawarkan dengan uang pas 1 dinar. Maka dibelilah dengan harga itu. Sesuai yang pemberian hadiah.

    Sampai di rumah aquarium itu berisi 2 ikan bandeng, setelah dikupas hingga selesai didalam perut ikan itu ditemukan masing satu permata.

    Setelah ditunjukkan istrinya, sang istri tidak percaya dan disuruh menelan saja. Bahkan diolok-olok seorang gila.

    Bahkan saat minta ikan bandengnya digoreng, tidak ditanggapi dengan baik. Jangankan dapat ikan digoreng justru Ahmad (nama saudara paling bungsu itu) dicaci maki.

    Malam sejak Ahmad membersihkan 2 permata dari perut ikan bandeng, Patih dari kerajaan atas perintah sang raja yang semalam melihat Pulung (kumpulnya pitulung/kumpulnya penolong), dan pagi pagi hari diminta datang ke rumah Ahmad dan disuruh ke kerajaan.

    Ahmad kemudian diundang bersama istrinya dan diminta duduk di kursi kencana sebagaimana kursi seorang raja. Singkat cerita 2 permata itu ternyata adalah mutiara raja dengan kekuatan dapat menjaga keturunan raja sampai 7 raja sesuai ketentuan.

    Akhirnya Ahmad dan istrinya diminta duduk di kursi kencana dan diakui sebagai anak raja, sekaligus diberi imbalan 1 mutiara raja diganti dengan 30 karung uang dinar. Dan 2 mutiara raja mendapat 60 karung dinar, dengan derajat sebagai anak raja.

    “Mudah-mudahan seluruh jamaah pengajian diberikan tetap iman, Islam,
    anak cucu sholeh dan sholihah, rezeki halal barokah,” tandas KH Husien Ilyas mengakhiri.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan