Sabtu, 22 Juni 2024
30 C
Surabaya
More
    OpiniTajukGula Manis” Lobster dari Dilarang sampai Ditangkap KPK.

    Gula Manis” Lobster dari Dilarang sampai Ditangkap KPK.

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi Wartatransparansi.com

    Gula Manis” dalam bahasa Jawa ialah gula buatan secara khusus dengan harga murah, manis rasanya, tetapi mengandung unsur kimiawi bisa membuta sakit batuk atau sakit lain di tenggorokan.

    Kasus eksport benih lobster hingga Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo ditangkap Komisi Pemberantas Korupsi (KPK).

    Edhy Prabowo menyebutkan, dibukanya kembali ekspor benih lobster dilakukan semata demi menyejahterakan rakyat. Ekspor benur merupakan aktivitas terlarang di era Menteri KKP, Susi Pudjiastuti.

    Edhy Prabowo dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip Minggu (5/7/2020), menegaskan sudah melibatkan masyarakat untuk bisa budidaya (lobster). Muaranya menyejahterakan.

    Kebijakan yang kembali menginzinkan ekspor benih lobster tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020.

    Regulasi ini mengatur pengelolaan hasil perikanan seperti lobster (Panulirus spp.), kepiting (Scylla spp.), dan rajunfan (Portunus spp.).

    Aturan ini sekaligus merevisi aturan larangan ekspor benih lobster yang dibuat di era Susi yakni Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016.

    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut kasus Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bermula dari pembukaan kran ekspor benih lobster alias benur yang sebelumnya dilarang dan berujung pada suap.

    Sebelumnya, lembaga antirasuah menetapkan Edhy dan enam orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait dengan perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya Tahun 2020.

    Tersangka lainnya adalah Stafsus Menteri KKP, Safri dan Andreu Pribadi Misata; Pengurus PT ACK, Siswadi; staf isteri Menteri KKP, Ainul Faqih; Amiril Mukminin; dan Direktur PT DPP, Suharjito.

    Dalam kasus itu sebagai pemberi suap adalah Suharjito, sedangkan enam orang lainnya sebagai penerima.

    Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango Rabu (25/11) malam menyebut kasus ini berawal saat Edhy menerbitkan Surat Keputusan (SK) Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster.

    Edhy, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu, kemudian menunjuk Andreu dan Safri sebagai Ketua dan Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence).

    Salah satu tugas dari Tim ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur.

    Pada awal Oktober 2020, Direktur PT DPP Suharjito bertemu dengan Safri di lantai 16 gedung KKP terkait perizinan ekspor lobster.

    Dalam pertemuan tersebut, diketahui bahwa untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT Aero Citra Kargo (ACK) dengan biaya angkut Rp1800/ekor yang merupakan kesepakatan antara Amiril Mukminin dengan Andreau dan Siswadi.

    Atas kegiatan ekspor benih lobster tersebut, PT DPP diduga melakukan transfer sejumlah uang ke rekening PT ACK dengan total sebesar Rp731.573.564.

    Usai mentransfer sejumlah uang, PT DPP, atas arahan Edhy melalui Tim Uji Tuntas, memperoleh penetapan kegiatan ekspor benih lobster/benur. Perusahaan ini kemudian melakukan 10 kali pengiriman menggunakan perusahaan PT ACK.

    Berdasarkan data kepemilikan, pemegang PT ACK terdiri dari Amri (AMR) dan Ahmad Bahtiar (ABT) yang diduga merupakan nominee dari pihak Edhy serta Yudi Surya Atmaja (YSA).

    Atas uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke rekening AMR dan ABT masing-masing dengan total Rp9,8 miliar,” tutur Nawawi.

    Pada 5 November 2020 diduga terdapat transfer dari rekening ABT ke rekening salah satu bank atas nama Ainul Faqih (staf istri Menteri KKP) sebesar Rp3,4 miliar. Uang itu diperuntukkan bagi keperluan Edhy, istrinya Iis Rosita Dewi, Safri dan Andreau.

    Antara lain dipergunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy dan Iis di Honolulu, AS, di tanggal 21-23 November 2020, sekitar Rp750 juta di antaranya berupa Jam tangan rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy,” terang Nawawi.

    Ia menuturkan Edhy kembali menerima uang sebesar US$100 ribu dari Suharjito dan Amiril Mukminin pada Mei 2020.

    Eksport benih lobster memang menggairahkan dan menjanjikan, apalagi zaman Menteri Susi dengan tegas dilarang dengan berbagai pertimbangan. Inilah “Gula Manis” uang suap eksport benih lobster, enak dan nyaman dinikmati, tetapi menjerat menjadi penyakit dan kini menjadi pesakitan. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan