Jumat, 19 Juli 2024
31 C
Surabaya
More
    OpiniTajukRefleksi Hari Pramuka : Mari Tingkatkan Ketahanan, Ketangguhan, dan Kesederhanaan

    Refleksi Hari Pramuka : Mari Tingkatkan Ketahanan, Ketangguhan, dan Kesederhanaan

    Oleh : Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi WartaTransparansi)

    Hari ini, Jumat 14 Agustus 2020, bertepatan dengan Hari Pramuka (Praja Muda Karana) Indonesia ke 59. Gerakan Pramuka lahir melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961.

    Penulisan ini tidak sedang menyoroti bahwa Pramuka di masa pandemi Covid-19, tidak ada simbol gerakan begitu nampak dalam organisasi kepanduan ini, walaupun dilaporkan ada kegiatan. Padahal, proses menggembleng dalam Pramuka adalah jawaban atas situasi dan kondisi sangat sulit seperti sekarang ini.

    Hari ini, bertepatan dengan pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo, maka sekedar belajar dari Hari jiwa Pramuka, bahwa kepanduan adalah sebuah proses melatih ketahanan, ketangguhan, dan kesederhanaan. Tentu saja dilakukan dengan rajin, Istiqomah (konsisten), dan tetap bersahaja. Bahkan dengan tali tampar dan tongkat, sanggup menghadapi kehidupan model apapun.

    Penulisan ini sekedar mau mengingatkan bahwa Hari Pramuka ialah simbol kehidupan sederhana dengan sikap gagah berani dan performance selalu tampil sangat meyakinkan.

    Kepanduan sebutan lain Pramuka, merupakan proses belajar berorganisasi dalam skala kecil, pembelajaran melakukan komunikasi dan sosial dengan mengutamakan kerja bersama, gotong royong, dan saling menjaga serta mengawal guna menutupi kekurangan antar anggota.

    Proses penempaan ketahanan, ketangguhan, dan kesederhanaan sebagai kekuatan pribadi masing-masing dalam menghadapi kehidupan serba ada dan mewah, tetap bersahaja dalam potret kesederhanaan.

    Baca juga :  Ketika Pers Diguncang “Wartawan Judi Online”

    Sebagai refleksi Hari Pramuka, sebagaimana diketahui tahun ini adalah Peran Gerakan Pramuka Ikut Membantu dalam Penanggulangan Bencana COVID-19 dan Bela Negara.

    Kwartir Nasionas (Kwarnas) melalui pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan COVID-19 dan upaya untuk menggerakkan Pramuka Peduli di seluruh kwartir guna membantu pemerintah daerah mengendalikan wabah, serta membantu warga yang terdampak.

    Seluruh anggota pramuka siaga, penggalang, penegak, pandega dan anggota dewasa Gerakan Pramuka dalam melakukan setiap kegiatan sosial juga telah menerapkan protokol kesehatan yang dibutuhkan untuk mencegah penularan COVID-19.

    Dikutip dari Antara News, Rabu (12/8/2020), Budi Waseso, Ketua Kwarnas Pramuka mengatakan tema Hari Pramuka yang menunjukkan kepedulian terhadap penanganan COVID-19 merupakan perwujudan semangat untuk membantu menanggulangi bencana akibat wabah tersebut.

    Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Pramuka, di Istana Negara Jakarta, Rabu (12/8/2020), menegaskan, “Saya minta kepada saudara-saudara untuk membuat dua gerakan nasional, pertama gerakan kedisiplinan nasional yang mengajak semua anggota masyarakat disiplin mengikuti protokol kesehatan,”

    Jokowi menandaskan, Pramuka Indonesia sejak bernama pandu selalu dapat mencetak generasi yang tangguh menghadapi setiap tantangan.

    Presiden selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional Pramuka mengatakan kedisiplinan itu termasuk disiplin mengikuti protokol kesehatan, disiplin memakai masker, disiplin menjaga jarak dan disiplin mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama melaksanakan.

    Presiden menyatakan bahwa di era pandemi COVID-19 yang menyebabkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi ini, jiwa dan karakter seperti Pandu butuhkan.

    Baca juga :  Ketika Pers Diguncang “Wartawan Judi Online”

    Inti dari proses penggemblengan dan pembekalan sebagai Pramuka dengan mengkokohkan “ketahanan, ketangguhan dan kesederhanaan”. Tentu saja sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, harus peduli terhadap masyarakat sekitar, peduli terhadap kepentingan bersama, harus saling membantu dan bergotong royong menyelesaikan masalah bersama-sama.

    Bila gerakan kedisiplinan dan kepedulian itu terus dijalankan, Presiden Jokowi yakin Indonesia dapat menghambat penyebaran COVID-19 dan mengurangi risiko dampak lain.

    Gerakan Pramuka Indonesia lahir pada 14 Agustus 1941, tapi karena pada 14 Agustus 2020 Presiden Joko Widodo memberikan pidato kenegaraan di DPR, maka Ketua Kwartir Nasional Pramuka Budi Waseso pun menggeser peringatan hari Pramuka tersebut.

    Sebutan internasional untuk gerakan Kepanduan adalah Scouting atau Scout Movement. Gerakan ini dicetuskan oleh Robert Baden-Powell, seorang anggota angkatan darat di Inggris. Antara tahun 1906-1907, ia menulis buku Scouting for Boys. Inti buku ini merupakan panduan bagi remaja untuk melatih keterampilan dan ketangkasan, cara bertahan hidup, hingga pengembangan dasar-dasar moral.

    Robert Baden-Powell melalui buku itu menyebarkan ke seluruh dunia dan menjadi gerakan Kepanduan, yang di Indonesia disebut dengan Pramuka. Hari lahir Robert Baden-Powell yakni tanggal 22 Februari 1857,
    diperingati sebagai Hari Pramuka Internasional.

    Dalam keikutsertaan dalam berbangsa dan bernegara, Kwarnas berharap rencana revisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dapat terus dilanjutkan oleh DPR dan pemerintah.

    Baca juga :  Ketika Pers Diguncang “Wartawan Judi Online”

    Dimana, Undang-undang hasil revisi tersebut diharapkan dapat menangkap kebutuhan masa kini dan masa depan yang pada akhirnya mampu menjadikan Gerakan Pramuka sebagai organisasi mandiri dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

    Hari ini, Hari Pramuka, ialah sebagai refleksi bersama bahwa jiwa kepanduan sebuah simbol penggemblengan jiwa profesional dan proporsional, sejak pramuka siaga sampai ajal memisahkan sang Pandu dari kehidupan dunia.

    Selalu mengedepankan ketahanan dalam situasi dan kondisi apapun, ketangguhan dalam menghadapi tekanan maupun tantangan apa saja, juga selalu memilih kesederhanaan dalam bersosial dan berkomunikasi. Itulah Pandu sejati. Selalu TTS bukan (Teka Teki Silang), tetapi (Tahan, Tangguh, Sederhana).

    Dalam masa krisis seperti sekarang memperkuat;
    Ketahanan Jiwa, Raga, dan Mental, Ketahanan Pangan (ekonomi), Ketahanan Berbangsa dan Bernegara (Persatuan Indonesia), Ketahanan dalam Gotong Royong (sosial), dan Ketahanan Bermusyawarah Mufakat (demokrasi, politik).

    Ketahanan dalam berbagai aspek kehidupan akan melahirkan Ketangguhan menghadapi berbagai kesulitan dalam ekonomi, politik, sosial dan budaya. Serta ketangguhan dalam menjalankan kehidupan beragama karena iman.

    Buah dari ketahanan dan wujud dalam ketangguhan, akan mengalir kehidupan sederhana dengan cerminan budaya kesederhanaan dalam berbagai aspek kehidupan. Tetapi memegang kuat dan kokoh, dengan keyakinan, kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Itulah sesungguhnya kekuatan besar dari TTS. Dan dengan mewujudkan TTS bangsa dan negara Indonesia akan terselamatkan dari ujian apa saja. InsyaAllah. (Jt)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan